Juragan Muda

Juragan Muda
174. Hasil tes


__ADS_3

Setelah pulang dari klinik, Reyhan sengaja mengajak Laura ke pasar malam. Agar bisa mengalihkan pikirannya dari keinginan memiliki seorang anak. Laura yang tak begitu paham jalan pulang ke rumah Reyhan hanya diam tanpa menginterupsi. Hingga perlahan muncul cahaya warna warni yang indah mulai menyilaukan mata.


"Kita mau kemana sih mas? Bukannya mau pulang ya." Laura mengernyitkan dahi.


"Kita kan juga butuh hiburan, butuh berduaan. Ngga cuma di kamar saja berduaan nya." Reyhan terkekeh kecil.


Reyhan pun turun dari mobil, di ikuti Laura yang sudah tidak sabar, akhirnya sebelum Reyhan membukakan pintu, ia turun.


"Sepertinya aku penasaran sama tempatnya, ya sudah ayo kita jalan." Laura malah mendahului Reyhan.


Matanya tampak awas melihat ke kiri dan ke kanan pada para penjual yang berjajar rapi di sepanjang jalan. Reyhan yang melihat Laura tampak menyunggingkan senyum juga ikut tersenyum. Sepertinya usahanya untuk mengalihkan pikiran istrinya berhasil. Reyhan pun mempercepat langkah menyusul Laura yang berjalan di depannya.


"Mau nyoba jajanan apa?"


Hidung Laura mengendus berbagai macam aroma junk food yang membuat jiwa kulinernya meronta. Ia lalu menunjuk takoyaki yang berada di sampingnya. Reyhan pun segera memesan 2 porsi.


"Ternyata main main ke tempat seperti ini seru juga ya mas."


"Iya. Sejak dulu aku juga sering main ke tempat seperti ini. Hiburan orang desa ya seperti ini Miss. Bisa jalan-jalan menghabiskan waktu bersama keluarga atau orang tercinta di tempat keramaian seperti ini sudah terasa menyenangkan."


"Memang orang kota main nya kemana?"


"Ke luar negeri." keduanya pun terkekeh bersama. Tak lama kemudian pesanan mereka pun jadi. Mereka segera beranjak pergi, mencari tempat duduk.


"Di situ saja mas." Laura menunjuk kursi di bawah pohon. Reyhan pun mengikutinya.


Kini keduanya tengah duduk berjejer sambil menikmati takoyaki hangat sambil bertukar cerita. Sampai akhirnya Laura merasakan kepedasan.


Reyhan yang lupa belum membeli minum, segera berlari kecil membelikan minuman untuk Laura.

__ADS_1


Tak berselang lama, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang terjatuh di depan Laura karena berlari. Terdorong rasa iba, ia pun membantu anak kecil yang mulai terisak karena lutut nya berdarah.


"Cup cup, sudah sayang, jangan menangis ya. Kita kesana obati lukanya." ucap Laura berusaha menenangkan anak kecil itu sambil menunjuk kursi tempat ia duduk tadi.


Anak kecil perempuan tadi langsung mengangguk, dan dengan di bantu Laura ia berjalan menuju kursi. Setelah itu barulah Laura membersihkan lukanya dengan tisu yang senantiasa ada di dalam tas nya.


"Kita tunggu om Reyhan sebentar dulu ya, biar di belikan obat." hibur Laura pada anak kecil itu yang mulai berhenti menangis.


Tak berselang lama, Reyhan datang dengan membawa 2 cup es coklat. Ia mengernyitkan dahi melihat Laura yang berjongkok di bawah anak kecil.


"Apa yang terjadi sayang?" suara Reyhan mengejutkan Laura. Ia pun menengok ke arah suaminya lalu mengatakan yang sebenarnya.


Reyhan pun menyodorkan es yang baru saja ia beli pada Laura dan anak kecil itu, sehingga membuat anak kecil itu melupakan rasa sakitnya dan kini tertawa senang.


"Ih, tante suka kalau kamu tertawa seperti ini." dengan gemas Laura mencubit pipi anak kecil itu.


"Sayang, kok kebiasaan sih. Nanti dia nangis lagi lho. Kalau yang kamu cubit aku ngga masalah." kekeh Reyhan.


"Cantika." seru wanita yang kini sudah ada di hadapan mereka. Ia memeluk anak kecil itu sambil terisak.


"Cantika tadi jatuh ma, terus di tolongin sama tante Laura, terus di kasih es coklat sama om Reyhan. Mereka baik banget ma." ucap gadis kecil itu dengan mata yang berbinar.


Mendengar penjelasan anak kecil itu, mamanya langsung mengucapkan terima kasih pada Reyhan dan Laura. Karena sibuk melayani pembeli hingga tak tahu anaknya lari kemana-mana, hingga ia menyangka anaknya hilang. Beruntung Reyhan dan Laura membantunya.


Setelah pertemuan singkat itu, Cantika dan mamanya pamit pergi, karena masih harus melayani pembeli. Laura menatap kepergian ibu dan anak itu sambil berandai-andai jika ia memiliki seorang anak pasti akan terasa sangat menyenangkan.


Cantika kembali menoleh lalu melambaikan tangan ke arah Laura, yang di balas oleh lambaian tangan pula. Sehingga membuat Laura semakin gemas dengan bocah kecil itu.


"Hayo, mulai senyum-senyum sendiri ya." goda Reyhan sambil menowel dagu Laura.

__ADS_1


"Aku semakin gemas dengan bocah itu mas."


"Tenang, nanti malam kita bikin. Sekarang kita nikmati dulu suasana di tempat ini." kekeh Reyhan.


"Ish, mulut mu mas, ini di tempat ramai, beraninya bicara seperti itu." tanpa ragu Laura langsung mencubit gemas pipi Reyhan.


Seminggu sudah Laura dan Reyhan menunggu hasil tes pemeriksaan. Dan akhirnya hari ini hasilnya sudah keluar. Mereka segera bersiap siap untuk berangkat ke klinik. Laura yang tak sabar terus menyuruh Reyhan untuk lebih mempercepat gerakannya yang tengah menyisir rambut.


Keadaan jalan raya setiap sore memang lebih ramai, membuat waktu terasa bergerak lebih lambat, membuat Laura beberapa kali mendengus kesal.


"Sayang, istighfar lah biar hati menjadi tenang, jangan menuruti hawa nafsu."


Laura langsung menyandarkan tubuhnya di tempat duduknya sambil menghela nafas panjang. Ia mencoba beristighfar sesuai nasehat suaminya.


Sejak dulu semua keinginan nya memang selalu di turuti oleh kedua orang tuanya. Menjadikan nya sebagai anak yang manja.


Tapi sekarang Laura sadar, bahwa tidak semua keinginan itu bisa dengan mudah untuk di wujudkan. Butuh usaha dan doa yang lebih keras lagi dan tak lupa di iringi dengan sebuah kesabaran.


"Ayo sayang kita turun."


Laura mengangguk lalu segera turun dari mobil setelah Reyhan membukakan pintu untuknya.


Seperti Minggu lalu, keduanya harus menunggu sampai nomor antriannya di panggil. Dan kali ini, sambil menunggu Laura kembali beristighfar. Tidak seperti tadi atau kemarin-kemarin yang selalu tidak sabaran. Ia sudah menyerahkan semuanya pada Sang Pencipta. Yang penting semua baik-baik saja, tidak ada penyakit yang berbahaya.


Melihat Laura yang tampak lebih tenang, membuat Reyhan juga menjadi lega. Ia juga beristighfar sambil menunggu.


Dan, tak lama kemudian, nomor antrian mereka pun akhirnya di panggil. Keduanya segera berjalan menuju ruang pemeriksaan.


Dokter wanita segera mempersilahkan keduanya duduk sambil di iringi senyum ramah ketika melihat keduanya sudah memasuki ruangan.

__ADS_1


Ia segera menjelaskan hasil pemeriksaan itu secara rinci yang membuat jantung Laura dan Reyhan berdetak kencang.


"Dan, sesuai apa yang saya jelaskan tadi, bahwa, bapak dan ibu di nyatakan sehat, tidak ada yang mandul sama sekali." ucap dokter yang membuat keduanya seketika bernafas lega.


__ADS_2