
Bayu dan Anisa langsung berucap syukur, akhirnya proses ijab qobul itu berjalan lancar. Keduanya di persilahkan duduk di pelaminan.
Tak lama kemudian, kedua orang tua Anisa di persilahkan duduk di kursi dekat pelaminan, di lanjutkan oleh bu Rohmah dan Reyhan sebagai pengganti ayah.
Suara musik yang gegap-gempita menambah suasana semakin mengharu biru.
Di deretan kursi tamu, ada sepasang mata yang ternyata tak mampu menyembunyikan rasa sedih dan haru nya, karena harus merelakan orang yang dulu pernah di cintai nya. Ialah Tiwi. Sekian lama ia tak bertemu dengan Bayu, dan akhirnya di pertemukan dalam status yang berbeda. Tapi, di sisi hatinya yang lain, ia juga ikut berbahagia karena Bayu menikah dengan orang yang sangat baik seperti Anisa. Tanpa sadar ia pun menitikkan air mata.
Sedangkan di deretan kursi lainnya, Laura yang juga datang bersama kedua orangtuanya tampak tersenyum hangat, menyaksikan sahabatnya menikah. Ketika pandangannya bersirobok dengan Reyhan, ia langsung menundukkan kepala. Entah kenapa ia merasa malu bertemu dengan calon suami nya itu, walau dalam hati memuji penampilan Reyhan yang sangat gagah dengan menggunakan beskap khas Jawa.
Reyhan menyunggingkan senyum kala melihat Laura langsung menundukkan kepalanya. Dalam hati ia memuji penampilan Laura yang kian bertambah anggun dalam balutan busana muslim yang lebar.
Satu persatu acara itu di mulai. Bayu dan Anisa sama sama tegang ketika prosesi foto berlangsung. Fotografer terus mengarahkan mereka agar bersikap seromantis mungkin. Tiwi yang melihat kemesraan yang mereka tunjukkan sedikit tersentil.
Ketika foto keluarga, pak Atmaja sekeluarga pun turut di persilahkan untuk maju ke depan. Bu Ani sengaja menyuruh Laura untuk berdiri di samping Reyhan.
"Tidak terasa ya, hampir sebulan tidak bertemu dengan calon istri ku. Ternyata kian hari semakin bertambah cantik." bisik Reyhan ketika tengah bersalaman dengan Laura. Sehingga membuatnya tersipu malu.
"Woi sadar, ini acara pernikahan ku, jangan bikin rusuh." bisik Bayu ke kakaknya, yang membuat mereka terkikik. Bisa-bisanya mereka bercanda di tengah acara yang sakral itu. Kedua orang tua mereka geleng-geleng kepala melihat itu.
Laura segera turun, tak ingin mendengarkan ocehan kakak beradik itu yang bisa membuatnya semakin bertambah malu.
Serangkaian acara itu akhirnya selesai, tamu undangan satu persatu pulang setelah sebelumnya bersalaman.
"Selamat ya mbak Anisa, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah." Anisa bersalaman dan berpelukan dengan Anisa.
'Tiwi, kenapa dia bisa ada di sini?' Bayu terperangah kaget. Bayangan masa lalunya bersama Tiwi seketika melintas kembali.
Tiwi mengulurkan tangannya pada Bayu yang masih diam, hingga Anisa sedikit menyenggol lengan suaminya. Bayu pun segera menerima jabat tangan Tiwi sambil menyunggingkan sedikit senyum.
Setelah seharian penuh, akhirnya acara itu selesai juga. Malam pun mulai menyapa. Anisa sudah berada dalam kamar sejak tadi. Sedangkan Bayu juga hendak memasuki kamar yang di pakainya kemarin.
"Nak Bayu, sekarang kamar mu bukan di situ lagi. Semua barang mu sudah kami pindahkan di kamar Anisa, langsung masuk saja. Pasti dia sudah menunggu mu." ucap pak Gofur sambil terkekeh.
Bayu hanya meringis mendengar ucapan mertuanya itu. Ia pun mengangguk dan melangkah ke kamar Anisa yang berada di sampingnya.
Ceklek....
__ADS_1
Pintu di buka oleh Bayu. Seketika jantung Anisa berdetak semakin kencang ketika mendengar suara pintu itu.
Bayu membulatkan matanya ketika melihat siapa yang tengah duduk di tepi ranjang. Rambut panjang sepinggang tergerai indah, dengan mengenakan gaun malam berwarna merah menyala. Berkali-kali ia mengucek matanya untuk memastikan tidak salah lihat.
"Mbak, ini kamar mbak Anisa kan?" dengan ragu Bayu yang masih berdiri di depan pintu bertanya. Wanita itupun mengangguk tanpa menoleh.
"Lalu mbak siapa?"
"Aku Anisa mas." Anisa memberanikan diri menengok ke belakang.
Lagi-lagi Bayu terperanjat kaget dan mulutnya kembali terbuka lebar, tangannya memegang dadanya. Ia tak percaya melihat penampilan Anisa yang sungguh berbeda.
"Kamu Anisa?" tanya Bayu sekali lagi sambil berjalan mendekat. Sekali lagi Anisa mengangguk.
'Ya ampun, serasa ketiban durian. Beruntung banget aku bisa jadi suaminya. Sudah cantik, sholihah lagi. Untung kak Reyhan menolaknya.' batin Bayu.
Rasanya saat itu ia ingin jingkrak-jingkrak, tapi sadar diri, tidak mungkin hal itu di lakukan di depan istrinya. Yang ada istrinya malah ilfeel padanya.
Bayu segera duduk di samping Anisa dan menatap nya intens. Anisa yang merasa di perhatikan semakin tertunduk malu.
Tiba-tiba sebuah kecupan hangat mendarat di kening Anisa.
"Sudah doa mas?" Anisa mendongakkan kepalanya dan menatap Bayu.
"Astaga, lupa." Bayu meringis sambil menepuk jidatnya. Melihat hal itu Anisa tersenyum.
'Waduh gawat, mendadak lupa doa malam pertama. Gimana nih?' batin Bayu.
"Kita doa sama sama ya mas." ajak Anisa. Bayu pun mengangguk. Tapi mulutnya tak kunjung terbuka.
"Ayo mas."
"Eh, aku mendadak lupa." dengan jujur Bayu berkata, walaupun perasaannya sungguh tak enak.
"Ya sudah, aku baca yang keras nanti kamu ikutin ya." Bayu mengangguk dan mulai mengikuti doa istrinya.
Setelah berdoa, Bayu yang tak sabar segera mencium kening Anisa. Keduanya pun hanyut dalam malam pertama yang terasa indah.
__ADS_1
Sayup-sayup suara adzan subuh mulai terdengar. Tapi Bayu hanya menggeliat saja. Ia lupa menyadari jika sekarang berada di rumah Anisa, dan semalam telah melalui malam yang indah bersama nya.
Anisa pun juga mendengar suara adzan. Ia menggeliat dan melihat Bayu yang berada di sampingnya masih tertidur pulas.
"Mas, mas Bayu." Anisa membangunkan Bayu sambil menggoyang goyangkan tubuhnya.
Bayu kembali menggeliat. Mungkin karena efek pertandingan semalam, ia sangat kecapekan dan masih pulas. Sekali lagi Anisa membangunkan nya, akhirnya perlahan lahan Bayu membuka matanya. Bayu tersenyum dan mengelus pipi Anisa.
"Aku ngga menyangka, jika sekarang kita sudah resmi jadi suami istri." Anisa mengangguk sambil tersenyum membenarkan ucapan suaminya itu.
"Ternyata kamu lebih cantik dari yang ada di pikiran ku."
"Semua wanita memang takdirnya cantik mas."
"Anisa, aku boleh berkata jujur?"
"Hemm, apa itu mas?" Anisa mengernyitkan keningnya.
"Sebenarnya aku kurang paham ilmu agama. Aku ingin kamu membantu mengajari ku."
Anisa tersenyum sebelum menanggapi ucapan suaminya itu.
"Aku juga sama mas, ngga terlalu paham. Kita belajar sama sama ya."
"Aku yakin kamu hanya merendah." Bayu menowel dagu Anisa, lalu mencium keningnya.
"Anisa, aku mau lagi." bisik nya lembut di telinga Anisa, sehingga ia langsung menggelinjang geli.
"Tapi kita kan belum sholat subuh."
"Ayolah nis, habis itu kita mandi lalu sholat subuh."
Anisa pun menjawab dengan sebuah senyuman dan anggukan. Yang membuat mata Bayu langsung berbinar dan mendekap tubuh Anisa erat.
"Mas, doa dulu."
"Maafkan aku Anisa, terlalu bersemangat jadi lupa." Bayu meringis sambil menepuk jidatnya.
__ADS_1