
Flashback on.
Bayu menyunggingkan senyum ketika melihat deretan angka di buku tabungannya. Semua angka itu di dapat dari hasil counter nya yang terus meningkat sejak ia menikah dengan Anisa.
Setiap hari ia memang selalu memberi Anisa nafkah. namun kadang Anisa menolaknya dengan alasan sudah memiliki uang dari hasil toko dan mengajar. Setelah berulang kali Bayu memaksa akhirnya Anisa menerima uang pemberian suaminya tersebut.
Anisa selalu berpesan untuk menyimpan uang hasil usaha Bayu baik-baik dan tak lupa untuk menyedekahkan sebagian nya, tidak hanya di berikan pada dirinya saja.
Bayu pun mengangguk mengiyakan saran istrinya. Tapi ia tak menyangka, jika semakin hari usaha nya terus mengalami peningkatan.
Sehingga uang tabungannya tidak hanya cukup untuk membayar total tagihan rumah sakit, tapi juga cukup untuk membeli sebuah mobil. Sehingga ketika wira wiri bersama keluarga kecilnya tak perlu merepotkan Reyhan dan istrinya.
Bahkan sisa uang tabungannya masih cukup untuk menggelar acara aqiqah anak pertamanya.
Dan Bayu segera menyampaikan keinginannya itu pada Reyhan yang tengah duduk di teras sambil mengenakan sepatu.
"Alhamdulillah, kalau kamu ada niatan seperti itu. Oh iya, uang biaya rumah sakit sudah ada belum?"
"Sudah dong. Rencana aku juga mau buat acara aqiqah buat anak ku."
"Baguslah kalau begitu."
Reyhan pun menghitung uang yang di sodorkan Bayu lalu menyerahkan uang itu pada Laura untuk di hitung ulang. Sementara Reyhan mencari gambar mobil dan harganya yang sesuai dengan uang Bayu di katalog handphonenya.
Karena ia bekerja di showroom papa mertuanya, maka ia bisa membantu mewujudkan keinginan adiknya itu dengan mudah.
"Ini mobil yang sesuai dengan budget mu. Harganya sudah aku diskon 30% dari harga normal. Itung-itung hadiah buat keponakan." kekeh Reyhan sambil memeluk Laura yang tengah duduk di sampingnya.
"Thanks kak. Kalau perlu sih gratis sekalian." canda Bayu.
"Aku saja cuma kerja di sana. Mana bisa menggratiskan untuk mu. Nanti lah kalau sudah punya showroom sendiri." kekeh Reyhan lagi.
"Okay, aku percaya pada mu kak. Hari ini Anisa sudah di ijinkan pulang. Aku mau mobil itu segera datang. Aku ingin memberikan kejutan untuknya."
"Baiklah, kalau begitu aku berangkat dulu."
Baru saja Reyhan berangkat, Bayu sudah wira wiri tak sabar menunggu kedatangan mobilnya. Ia semakin tak sabar kala Anisa terus menerus menelpon dirinya. Sengaja ia membiarkan handphone nya terus berdering tanpa mengangkat nya.
Hingga hampir siang, mobil yang sangat ia tunggu akhirnya datang juga.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali sih kak?" gerutu Bayu yang tak sabar sambil memutari mobil nya yang baru datang.
"Hem, sudah di diskon masih saja protes. Memang ngga di test driver dulu. Semua sudah ok, bisa kamu pakai sekarang."
"Baiklah kalau begitu aku pamit dulu ya." dengan binar bahagia Bayu mengendarai mobilnya.
"Hem, dasar bocah. Sudah punya anak masih saja tingkah nya seperti bocah kecil." gumam Reyhan sambil geleng-geleng kepala.
Hanya untuk memastikan mobilnya di terima oleh adiky, Reyhan rela ikut mengantarkan mobil itu. Padahal masih banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan.
Flashback off
"Walaupun mobil second aku harap kamu menyukainya sayang." ucap Bayu saat sedang menyetir.
"Tentu aku sangat menyukainya mas. Yang penting masih nyaman di naiki. Iya kan bu?" Anisa justru melempar pertanyaan pada ibu mertuanya yang tengah duduk di belakang sambil memangku cucunya.
"Iya nak. Ibu juga bersyukur bisa memiliki menantu seperti mu yang mau menerima apapun pemberian suami."
"Ibu." Anisa menoleh sekali lagi sambil melempar senyum hangat pada ibu mertuanya.
Setelah menempuh perjalanan 1 jam akhirnya mereka tiba di rumah Bayu, yang bertepatan dengan Bima yang baru saja pulang dari sekolah.
"Hore, adik bayi nya sudah pulang." soraknya dengan penuh kegirangan.
"Bima. Jangan lari lari, takut nabrak ibu terus dedek nya jatuh. Mau kamu tanggung jawab?" seru Bayu yang tengah memapah Anisa pelan. Bukannya menjawab Bima malah mengerucutkan bibirnya.
_____
Sesampainya di kantor, Reyhan melihat Laura yang tengah fokus mengerjakan dokumen yang ada di hadapannya, hingga ia tak menyadari kedatangan Reyhan.
"Sayang, kamu kok pucat sekali?" Reyhan memperhatikan dengan seksama wajah Laura.
"Lhoh, aku ngga dengar kamu membuka pintu mas. Tahu tahu sudah di depan ku. Pakai pintu ajaibnya Doraemon ya." kekeh Laura.
Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Laura justru bercanda, hingga membuat Reyhan juga ikut terkekeh kecil.
"Sayang, kamu sakit?" tanya Reyhan lagi setelah keduanya tertawa.
"Aku hanya sedikit capek saja." Laura menyandarkan tubuhnya di kursi.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu istirahat saja duluan. Biar aku yang selesaikan."
Laura mengangguk lalu berjalan menuju sofa dengan di bantu Reyhan. Ia ingin tidur sejenak untuk menghilangkan rasa capeknya.
Padahal baru beberapa jam kerja tapi sudah membuatnya secapek itu. Tidak seperti biasanya.
Reyhan menyelimuti tubuh Laura lalu memijitnya. Tak berselang lama ia langsung tertidur pulas. Reyhan merasakan badan Laura sedikit panas, dan juga melihat wajah Laura yang tampak pucat.
"Sakit apa kamu Miss Laura? Kenapa ngga di jawab pertanyaan ku tadi? Apa kamu terus memikirkan kapan kita memiliki bayi?" gumam Reyhan.
Saat jam makan siang tiba, Laura belum juga bangun. Bahkan tidurnya terlihat meringkuk. Reyhan segera menurunkan suhu ruangan.
Ia juga sudah memesankan makan siang untuk berdua. Bila sewaktu-waktu Laura terbangun, ia bisa segera memakannya.
"Bau apa ini mas?" Dengan suara serak Laura bertanya.
"Aku sudah siapkan makan siang untuk kita. Ayo segera di makan." Reyhan segera mendekat ke arah Laura dan membuka 2 box nasi. Yang membuat Laura semakin mengernyitkan hidungnya.
"Aku ngga suka bau nya mas. Bisa kamu bawa pergi?" pinta Laura dengan muka melas.
Tak banyak bertanya Reyhan segera menyerahkan makanan itu pada ob yang lewat di depan ruangannya.
"Sekarang kamu mau makan apa Miss?"
Sejenak Laura berpikir.
"Kita jajan urap saja. Aku sudah lama ngga makan itu."
Keduanya pun bergegas keluar ruangan lalu mencari warung penjual nasi urap. Hingga hampir 1 jam setelah berkeliling dunia, akhirnya Reyhan berhasil menemukan warung penjual nasi urap yang letaknya di gang masuk perdesaan. Walaupun warung itu terlihat kecil, namun sangat ramai pembeli.
"Tunggu sebentar di sini ya Miss."
"Enggak, aku mau kita makan di warung itu." Jawab Laura yang justru mendahului suaminya turun dari mobil.
Bergegas Reyhan segera turun dan menyusul Laura. Ia khawatir kalau Laura pingsan karena terlalu lama mengantri.
"Kamu duduk dulu ya Miss. Biar aku pesankan." Reyhan segera mendudukkan Laura di sudut warung, lalu bergegas ia memesan makanan.
Setelah menunggu sekian menit, akhirnya pesanan mereka pun datang. Keduanya segera menyantap makanan itu dengan lahap.
__ADS_1
"Kamu sakit apa sih Miss. Kenapa habis makan pucat nya hilang?"
"Sakit kelaparan." kekeh Laura.