Juragan Muda

Juragan Muda
90. Keinginan Laura


__ADS_3

"Bisa dimulai sekarang ustadzah majelisnya." ucap Laura dengan suara yang lemah lembut, dan berbeda dari biasanya.


'Hem.... ternyata kamu suka ya aku berdandan seperti ini.' batin Laura, karena Reyhan tak berkedip menatapnya. Padahal selama ini, ia terkesan menghindari Laura. Segera Reyhan mengalihkan pandangannya ketika pandangannya bersirobok dengan Laura.


"Iya mbak." Anisa menjawab sambil mengangguk.


Dari segi akademik, Laura menjadi yang terpandai dalam kelasnya. Tapi, ternyata tidak dengan urusan membaca iqro'.


Dengan nafas yang tersengal-sengal dan keringat dingin, ia berusaha membaca iqro'. Ternyata ini tak semudah yang ia bayangkan. Jika bukan karena ingin tahu siapa wanita disamping Reyhan, tak sudi Laura capek capek bersandiwara seperti itu.


Sedangkan dalam hati Reyhan, ia terus mendoakan kebaikan untuk Laura. Ia memperhatikan dengan seksama ketika Laura berusaha untuk membaca iqro'. Bahkan, Reyhan juga ikut berkeringat dingin melihat Laura yang sangat fokus.


Akhirnya, sesi belajar membaca iqro'selesai, dan dilanjutkan dengan tausyiah.


Rosyidah sangat pandai dalam menyampaikan isi materi. Penyampaian dengan bahasa yang sederhana membuat materi itu dengan mudah diterima.


Sehingga membuat Reyhan dan yang lainnya merasa takjub. Saking takjubnya, timbul di hati Laura untuk bisa menjadi seperti Rosyidah. Tentunya, agar Reyhan juga bersimpati padanya, seperti ia bersimpati pada Rosyidah. Karena Reyhan mangut mangut saat mendengar tausyiah Rosyidah.


"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada Nya. Dan, janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." ( QS Ali Imran. 3:102 )


Sebuah ayat Rosyidah lantunkan beserta artinya. Suaranya sungguh sangat indah didengar.


'Kenapa dia pintar sekali? Ngga mungkin dong, seorang Laura bisa kalah. Aku harus giat belajar agar bisa mengungguli nya.' batin Laura tak terima.


"Itu artinya, jika kita mengakui dan meyakini beragama Islam, maka harus menjalankan setiap perintah yang ada pada Islam itu sendiri. Dan perlu kita ketahui, jika setiap perintah itu datangnya dari Tuhan kita, yaitu Allah. Jadi kita tidak berhak menawarnya apalagi sampai tidak menjalankannya. Karena pada dasarnya kita hidup didunia adalah menjadi hamba, yang berkewajiban untuk mengabdi penuh pada raja kita. Jika kita tidak menjalankan nya, tentu raja kita akan marah dan menghukum kita."


"Hukumannya seperti apa ustadzah?" bibi memberanikan diri bertanya.


"Misalnya, jika kita tidak melaksanakan sholat, bisa jadi Allah akan menghukum kita dengan menahan sebagian rezeki untuk kita."


'Aku tidak pernah sholat, nyatanya setiap kemauanku selalu terwujud.' batin Laura. Tapi ia tak mau mendebat Rosyidah, dan tetap stay cool.


"Oo..... begitu? Jadi, bibi harus rajin rajin sholat ya ustadzah biar cepet kaya." kata bibi dengan wajah serius.

__ADS_1


"Ya tidak begitu juga kali konsepnya bi." dibalik cadarnya Rosyidah tersenyum.


"Jika sholat bisa buat kaya, pasti banyak orang yang akan berlomba-lomba untuk sholat agar cepat kaya. Tapi kenyataan nya, ada juga kan yang sudah sholat tiap waktu tapi tidak kaya, dan ada juga yang sangat kaya padahal tidak pernah sholat? Terkadang Allah menghukum hambanya dengan cara yang halus. Saking halusnya, membuat hamba Nya semakin terlena. Ada orang yang kaya raya tapi ia tidak pernah melaksanakan sholat. Padahal itu adalah salah satu contoh hukuman dari Allah, yang dinamakan istidraj."


Seketika jantung mereka berdegup kencang mendengar penjelasan Rosyidah.


'Apa kekayaan ku juga salah satu bentuk istidraj? Karena aku tak pernah melaksanakan sholat selama ini.' batin pak Atmaja, dan mukanya mulai berubah tegang. Laura dan bu Ani juga sama tegangnya.


"Apa yang terjadi jika kelamaan kena is...."


"Istidraj maksudnya pak?" sambung Rosyidah yang melihat pak Atmaja kesulitan mengucapkan kalimat itu. Pak Atmaja seketika mengangguk.


"Jika cepat bertobat maka itu menjadi penggugur dosa untuknya, tapi jika tidak segera bertobat, maka seluruh kekayaan yang ia miliki akan menjadi bahan bakar ketika ia disiksa di akhirat nanti."


Pak Atmaja dan istrinya saling bertukar pandang. Kepanikan nampak jelas dimuka mereka. Sementara Laura tetap harus menunjukkan muka tenang, walaupun sebenarnya hatinya juga mulai gelisah dengan penjelasan Rosyidah barusan.


Majelis taklim itu pun selesai. Bu Ani mempersilahkan mereka menikmati hidangan.


Reyhan mengambil sepotong roti dan tanpa ia sadari, Rosyidah juga mengulurkan tangan mengambil roti. Tangan mereka seketika bersentuhan. Lalu Reyhan segera menarik tangannya kembali, begitu juga dengan Rosyidah.


"Kepala ku sedikit pusing, aku ijin istirahat sekarang ya ma." Laura mencari alasan agar bisa segera pergi dari situ.


"Biar bibi yang anter non." dengan sigap bibi berdiri dan memapah Laura ke kamarnya.


"Non Laura tambah cantik kalau pakai baju seperti itu, den Reyhan saja sampai terbatuk batuk ketika minum tadi. Terus waktu non Laura mengaji, dia juga terus memperhatikan."


"Benarkah yang bibi katakan?" bibi mengangguk dengan pasti.


'Okay, sepertinya aku perlu belanja gamis yang banyak dan aktif ikut majelis.' batin Laura sambil menyunggingkan senyum.


Selama perjalanan mengantar Rosyidah pulang, keduanya saling diam. Jujur saja, keduanya bingung mau berbicara apa. Sampai akhirnya mobil Reyhan sudah memasuki pelataran pondok pesantren.


Lagi lagi, Reyhan turun duluan dan membukakan pintu untuk Rosyidah.

__ADS_1


"Terimakasih." ucap Rosyidah dan Reyhan membalas dengan perkataan yang sama diiringi senyuman.


'Sikapmu sangat baik dan penuh perhatian sekali.' batin Rosyidah yang tertunduk malu.


"Mari masuk dulu nak Reyhan." suara haji Dahlan memecah keheningan keduanya.


"Terimakasih pak, tapi saya harus segera ke counter mengecek transaksi harian." tolak Reyhan dengan sopan, tapi mampu membuat Rosyidah sedikit kecewa.


"Bagaimana acara tadi Rosyidah?" tanya haji Dahlan.


"Alhamdulillah, semua berjalan lancar bi."


"Jika sewaktu-waktu abi ada acara, kamu mau kan untuk menggantikan abi?"


'Hem.... sepertinya aku harus sering-sering menggantikan abi mengisi majelis itu. Setidaknya ada waktu untuk dekat dengan keluarga nya dan mencari tahu informasi tentangnya.' batin Rosyidah.


"In shaa Allah Rosyidah siap bi." Rosyidah mengangguk dengan mantap.


"Alhamdulillah, kamu memang seperti abi. Jiwa dakwah mu berkobar luar biasa." puji haji Dahlan sambil mengelus kepala anak bungsunya itu.


Selama perjalanan Reyhan tak fokus karena masih terbayang dengan penampilan Laura yang sangat berbeda. Apalagi ia memakai set gamis pemberian nya yang membuat Reyhan merasa lebih dihargai.


Tak hanya itu saja, melihat kegigihan Laura dalam membaca iqro', semakin membuat Reyhan bangga padanya. Dalam hati Reyhan berniat membelikan Laura set gamis lagi, agar Laura semakin semangat mengikuti majelis ta'lim.


Shiittt.......


Reyhan menginjak rem dengan kuat. Hampir saja ia menabrak seorang pengendara motor yang berada didepannya.


"Arghhh...... Kenapa aku jadi memikirkannya. Sampai aku tak fokus menyetir, dan hampir saja membahayakan nyawa orang lain." gerutu Reyhan sambil memukul kemudi.


"Astaghfirullah...." Reyhan mengucap istighfar beberapa kali sambil mengelus dadanya, agar perasaannya bisa lebih tenang.


Hai kak, terima kasih atas seluruh dukungan nya. Yang belum ngasih like hadiah vote dan favorit, masih di tunggu ya😉

__ADS_1


sambil nunggu author update bab selanjutnya mari mampir dikarya temen author yang kece badai 😉😉



__ADS_2