
3 bulan sudah Reyhan benar benar di rumah hanya untuk menemani istrinya, Laura. Semua pekerjaan nya ia serahkan pada Bayu.
Tak lupa di setiap keringat yang Bayu keluar kan untuk membantunya ada upah yang tetap Reyhan berikan untuk mencukupi kebutuhannya.
Dokter pun sengaja di undang ke rumah Reyhan untuk memantau keadaan Laura dan bayinya setiap hari.
Kedua orang tua Laura juga sering kali mengunjunginya tiap akhir pekan, dan membawakan beraneka ragam oleh oleh.
Dan di pagi hari itu, seperti biasa setelah sholat subuh, Reyhan mengerjakan semua pekerjaan yang umumnya di kerjakan oleh wanita. Setelah itu, barulah ia menyusul Laura ke kamar untuk memandikannya.
"Mas, aku mau mandi di kamar mandi. Masa setiap hari di kamar terus, aku bosan." keluh Laura.
Selama 3 bulan berlalu memang Reyhan hanya mengelap tubuh Laura dengan air hangat. Semua keperluan nya selalu di siapkan oleh Reyhan.
Ia tak mengijinkan Laura menyentuh pekerjaan sama sekali. Bahkan untuk sekedar makan pun selalu di suapi. Reyhan juga membelikan tv untuk hiburan agar tidak bosan di kamar.
Tapi kenyataannya hal itu masih saja membuat Laura jenuh berada di kamarnya.
"Sayang, ini semua kan demi kebaikan bersama." berulang kali Reyhan menasehati dengan penuh kesabaran. Namun Laura tak bisa menahan rasa jenuhnya.
"Rambut ku lepek banget mas. Aku mau mandi di guyur air. Pasti akan terasa segar. Sekali ini saja, ijinkan ya mas." ratap Laura yang membuat Reyhan terenyuh sekaligus bimbang.
"Habis mandi balik ke kamar lagi ngga apa-apa mas." Laura masih bersikeras merayu suaminya.
Reyhan pun menghela nafas panjang. Ia tidak pernah bosan merawat Laura yang tengah mengandung anaknya. Justru ia sangat kasian dengan Laura karena harus melewati masa-masa yang tidak mengenakkan seperti itu.
"Baiklah, mas siapkan dulu segala keperluan nya. Miss Laura tunggu di sini sebentar ya." titah Reyhan.
Ia segera menuju ke kamar mandi, menuangkan air hangat di ember, lalu menuangkan essentials agar Laura lebih rileks, dan tak lupa menyiapkan sebuah kursi kecil untuk tempat duduknya.
Setelah semua selesai barulah ia ke kamar. Dengan pelan dan penuh kehati-hatian ia menggendong tubuh Laura, yang sedikit bertambah berat menuju kamar mandi.
Tanpa di beri aba-aba Laura mengalungkan kedua tangannya di leher Reyhan, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Reyhan. Merasakan perhatian tulus yang suaminya berikan.
Namun Laura segera mendongakkan kepalanya kala mendengar dengus nafas Reyhan yang sedikit ngos-ngosan.
__ADS_1
"Sepertinya berat badan ku mulai naik mas." cicit Laura dalam gendongan Reyhan.
"Bagus dong, itu artinya kalian berdua sama-sama berkembang." kekeh Reyhan.
"Tapi aku ngga enak sama kamu mas, pasti keberatan."
"Mas cuma menggendong kamu sebentar. Sedangkan Miss Laura, menggendong bayi kita berdua selama hampir 9 bulan. Belum lagi nanti kalau sudah lahir. Jadi siapa yang paling lama dan paling keberatan menggendong?"
Cup
Laura mengecup pipi Reyhan sebagai bentuk sayang nya pada suaminya. Sehingga membuat Reyhan menyunggingkan senyum.
"Pipi yang satunya lagi belum, nanti iri lagi." kekeh Reyhan. Lalu Laura segera mengecup pipi Reyhan yang satunya lagi.
Sesampainya di kamar mandi, Reyhan mendudukkan dengan pelan Laura di kursi yang sudah ia sediakan tadi. Ia menutup pintu, lalu mulai melepas baju yang di kenakan Laura satu persatu.
Jantung Reyhan seketika berdegup kencang kala melihat Laura yang sudah tidak memakai baju dan siap di mandikan.
Apalagi beberapa bagian tubuh Laura yang terlihat mengembang seperti bola membuat nya semakin susah fokus.
Selama Laura hamil, memang keduanya tidak pernah melakukan pencak silat di atas kasur, demi menjaga bayi mereka atas saran dokter.
Hingga ia hanya bisa menelan saliva ketika melihat pemandangan yang semakin mempesona di hadapannya saat itu.
'Sabar Reyhan, mungkin masih setahun lagi pusaka mu akan kembali bekerja sebagaimana biasanya.' batin Reyhan mensugesti dirinya sendiri.
Reyhan segera meraih gagang gayung lalu mulai mengguyur pelan tubuh Laura. Sehingga membuat Laura merasakan kesegaran yang merasuk melalui pori-pori kulit nya dan membuatnya semakin lebih tenang.
Namun hal yang berbeda justru terjadi. Melihat Laura yang terlihat segar dalam guyuran air membuat pusaka Reyhan semakin tegak berdiri dan begitu menyesakkan.
"Dari tadi kamu mengguyur ku terus, kapan aku di sabuni mas?" celetuk Laura yang membuat Reyhan tersadar dari lamunannya.
Bergegas Reyhan mengambil sabun dan mulai menyabuni seluruh tubuh Laura.
'Ya ampun, bisa robek celana ku kalau pusaka ku kian tegang karena melihat tubuh indah istri ku yang seperti balon udara. Hanya di ijinkan menyentuh, tapi tak boleh merasakan. Oh, sungguh menyiksa sekali.' jerit Reyhan dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa melihat nya seperti itu mas?" tanya Laura di iringi senyuman, yang justru membuat Reyhan sulit sekali untuk menelan saliva.
'Pakai tanya lagi. Memang Miss Laura ngga melihat pusaka ku yang sudah tegak berdiri seperti orang upacara bendera. Sehingga menyembul di balik kolor ijo ku ini apa?' batin Reyhan begitu frustasi.
Laura masih menatap Reyhan dengan tatapan polosnya sehingga membuat Reyhan lepas kendali.
Reyhan mendekatkan wajahnya ke bibir Laura, lalu mulai merasakan manisnya bibir istrinya. Tak berhenti di situ saja, tangannya mulai bergerak nakal di tempat penampungan asi. Hampir 10 menit, hingga membuat Laura tersengal-sengal, lalu Reyhan segera tersadar.
"Ma_maafkan aku sayang." dengan gelagapan Reyhan berkata.
"Ngga apa-apa mas."
Laura yang tersipu malu mengalihkan pandangannya ke ember air. Reyhan kembali menyabuni tubuh Laura dengan sedikit lebih cepat, lalu mulai kembali mengguyur badannya.
Reyhan segera membebat tubuh Laura dengan handuk, lalu kembali menggendongnya menuju kamarnya.
"Semua sudah beres. Dan Miss Laura bertambah wangi dan segar." ucap Reyhan sambil menyisir rambut istrinya.
"Terima kasih ya mas, sudah mau merawat ku fengan baik. Padahal seharusnya aku kan yang harus merawat mas."
"Suami istri itu kan harus saling tolong menolong sayang."
Setelah selesai mendandani Laura dan menyuapinya, Reyhan segera mandi, karena ia sudah sangat kegerahan dengan segala aktifitas yang ia lakukan setiap pagi.
Sementara Laura duduk bersandar di kamar sambil memainkan handphone nya. Tiba-tiba ia merasakan perutnya sedikit nyeri, lalu perlahan menghilang, dan tiba-tiba muncul kembali.
"Arghhh.... Ada apa dengan perut ku?" gumam Laura sambil memegangi perutnya.
Tak ada orang di rumah itu, karena semua sudah pergi bekerja. Sedangkan Anisa kemarin sore baru pulang ke rumah orang tuanya, dan sekarang belum pulang. Laura harus menunggu Reyhan yang tengah mandi.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Reyhan sudah selesai mandi dan memasuki kamarnya.
"Miss Laura, apa yang terjadi?" tanyanya dengan panik melihat Laura meringis sambil memegangi perutnya.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1