
"Kak." Bima menyusul kakak nya yang hampir melangkah masuk kamar mandi.
Sontak Reyhan pun menoleh.
"Hem, ada apa?"
"Cukup 5 menit aja mandinya tak usah berlama-lama."
"Lhoh, emang kenapa? Suka suka aku dong menikmati waktu me time."
"Kamar mandi jadi tempat bersarangnya jin dan setan, emang kakak mau mandi sambil dilihatin setan."
"Ah, nakut nakutin aku ya?"
"Ih, siapa yang nakut nakutin, emang bener kok."
"Aku ngga percaya." Reyhan melangkah masuk kamar mandi.
"Pak ustadz yang bilang, aku ngga bohong. Lagian me time kok di kamar mandi, kayak ngga ada tempat lain aja." Bima tertawa kecil.
Reyhan kembali membuka pintu.
"Bener ya yang bilang pak ustadz?" tanya Reyhan memastikan.
Bima pun mengangguk mengiyakan lalu pergi meninggalkan kakak nya yang masih mematung di ambang pintu.
'Kalo udah kata pak ustadz, ya aku manut aja lah.' batin Reyhan.
akhirnya tak sampai 5 menit Reyhan sudah keluar dari tempat me time nya selama ini dan berjalan menuju ke counter.
Sesaat mencocokkan setiap transaksi harian selama ditinggal ke rumah sakit.
'Alhamdulillah semua cocok.' batin Reyhan.
Lalu segera membantu Tiwi yang masih sibuk melayani pembeli.
"Mas Reyhan ngga ke counter cabang?" tanya Tiwi membuka percakapan pagi itu.
"Nanti dulu Wi, mau ada tamu soalnya."
Tak berselang lama 2 orang perempuan yang seusia Bayu tampak turun dari motor.
"Titip counter dulu ya Wi."
"Iya mas." sambil melihat mas Reyhan yang berjalan keluar lewat pintu depan.
"Dinda dan Nanda kan?" tanya Reyhan kearah 2 wanita itu, lalu keduanya mengangguk mengiyakan.
"Satu satu dulu ya, ikut saya duduk di teras itu. Yang satu silahkan duduk di kursi tunggu itu." Reyhan memberi pengertian ke wanita kembar yang merupakan tetangga satu desa. Kemanapun pergi selalu bersama.
"Silahkan duduk mbak. Oh ya, silahkan diminum ya, maaf cuma air putih."
"Iya mas, makasih." jawab Dinda.
Ehem...
__ADS_1
"Saya cuma ingin bertanya tanya sedikit soal kesiapan kamu ikut saya dalam mengelola counter..........." Dan beberapa pertanyaan lainnya mulai di ajukan Reyhan ke Dinda.
Setelah hampir 15 menit tes wawancara untuk Dinda pun selesai.
Dan kini tiba giliran Nanda. Beberapa pertanyaan yang sama pun juga diajukan.
"Mbak tolong panggilin Dinda dulu ya kesini." pinta Reyhan ke Nanda setelah tes wawancara untuk Nanda selesai.
Tak berselang lama, si kembar pun sudah duduk di kursi masing-masing menghadap ke Reyhan.
"Sebelumnya terimakasih ya mbak atas antusias nya mengikuti tes wawancara ini." si kembar pun mengangguk bersamaan.
"Dan hari bismillah, saya putuskan untuk menerima kalian berdua......." sikembar langsung mengangkat wajahnya diiringi sebuah senyuman mendengar perkataan Reyhan.
"Tapi..." Sikembar langsung menatap Reyhan kembali yang ternyata belum selesai bicara.
"Karena counter saya ada 2 jadi saya akan pisah kalian. Dinda di counter sini, dan Nanda di counter depan pasar Jati. Untuk hari libur dalam sebulan saya kasih 2 hari dan bebas pilih harinya, dan tidak boleh bareng ya libur nya. Shif pagi jam 8 sampai jam 4, shif siang jam 1 siang sampai jam 9 malam. Bisa di mengerti? Atau mungkin ada yang keberatan?"
Sejenak keduanya saling bertukar pandang lalu menggeleng menandakan tak ada pertanyaan. Walaupun dari sekolah taman kanak-kanak sampai bangku SMA selalu duduk bersama, tapi karena suatu urusan pekerjaan, akhirnya sikembar rela berpisah.
"Okay, kalo begitu bisa ya di mulai kerja nya hari ini. Dinda mari ikut saya berkenalan dengan mbak Tiwi. Nanda tunggu sebentar ya di sini."
Setelah sampai di dalam counter, Reyhan segera mengenalkan Dinda ke Tiwi.
Tak lupa berpesan jika ada yang belum diketahui bisa ditanyakan ke Tiwi.
Setelah itu, Reyhan segera masuk ke rumah mengambil jaket dan kunci motor, tak lupa berpamitan ke ibunya.
"Nanda, mohon maaf kita naik motor sendiri sendiri ya. Yuk ikuti saya." perintah Reyhan.
"Kok ngga boncengan aja Rey?" tanya ibunya yang sudah berdiri diambang pintu.
"Kan bukan mahram bu, Reyhan takut dosa, Reyhan ngga mau ibu bapak ikut menanggung dosanya." bisiknya di dekat ibunya, tapi masih bisa didengar oleh Nanda.
Sejenak ibu memandang anak sulung nya yang selalu dipandang nya masih kecil itu ternyata perlahan lahan mulai berubah menjadi manusia dewasa yang paham ilmu agama. Akhirnya ibu mengijinkan berangkat.
Dan mulai hari itu juga Reyhan resmi menambah 2 orang karyawan.
_____
Sore itu sebelum pulang Tiwi menyempatkan diri untuk mendekat ke Bayu, karena selama dirumah sakit tak sempat menjenguk.
"Sudah enakan belum mas?" tanya Tiwi yang sudah berdiri di dekat Bayu di ruang TV.
"Eh sudah kok Wi, duduk aja disini." Tiwi pun mengangguk lalu mulai duduk di dekat Bayu. Keduanya hanyut dalam candaan sore itu hingga suara ibu yang mengucap salam menjadi penjeda percakapan mereka.
"Lho, nak Tiwi belum pulang?"
"Belum bu, sempatin jenguk mas Bayu dulu."
"Oh ya, ini ada oleh oleh, dimakan ya." ibu meletakkan roti dan buah buahan di depan mereka. Lalu menuju dapur untuk mengambil pisau dan meletakkan didekat buah.
"Ibu pamit ke dapur dulu ya, mau nyuci." mereka berdua lantas mengangguk.
"Kupasin apel dong Wi?"
__ADS_1
"Hem... iya iya." Tiwi pun mulai mengupas apel dan Bayu juga mulai menatapnya intens.
"Kenapa lihat nya seperti itu." Ternyata Tiwi yang diperhatikan juga tahu sehingga Bayu segera mengelap mukanya yang gelagapan.
"Eh emangnya kenapa?"
"Kok malah balik nanya mas?" Tiwi mengernyitkan dahinya menatap Bayu.
"Emang ngga suka ya aku perhatiin? Kalo aku maunya mandangin kamu tiap hari seperti ini mulu boleh kan?"
Sontak apel yang ada ditangan Tiwi terjatuh, dan pisaunya mengenai jari lembutnya yang langsung mengeluarkan darah segar.
Auuh... Tiwi meringis kesakitan.
"Hah, kenapa Wi?" pandangan Bayu langsung tertuju pada tangan Tiwi yang mengeluarkan darah lalu menghisapnya.
Sesaat Tiwi tertegun dan menatap Bayu dengan intens.
'Astaga, kenapa mas Bayu seperhatian ini ke aku.' batinnya.
"Wi, Tiwi? Masih sakit ngga?" tanya Bayu yang ternyata sudah menempelkan hansaplast di jari Tiwi.
"Eh, udah ngga kok mas. Makasih ya." lalu Tiwi melanjutkan mengupas apel lagi dengan agak sedikit kikuk karena terus dipandangi Bayu.
"Mas, silahkan dimakan." Tiwi menyodorkan apel yang sudah bersih.
"Aku masih sedikit sakit Wi, bantuin suapin dong?" pinta Bayu manja.
Tiwi seketika membulatkan kedua bola matanya mendengar permintaan aneh Bayu, tapi tak urung juga menyuapinya sampai apel yang ada di piring itu habis.
"Emm.... aku pamit mau pulang dulu ya mas."
"Eh, kok buru buru. Aku juga mau makan mangga Wi, kupasin dong?"
"Apa! Kamu sakit apa rakus mas? Kok makannya banyak?" Tiwi bertanya dengan polosnya.
"Katanya orang sakit harus banyak makan biar cepet sehat, iya kan? Buruan kupasin mangga nya." bujuk Bayu yang sengaja ingin berlama-lama dengan Tiwi.
Tiwi pun mengikuti kemauan Bayu.
"Suapin kayak tadi ya Wi, biar aku cepat sembuh." Bayu sedikit memasang muka memelas yang membuat Tiwi jadi tak berkutik untuk menolak.
"Lho kok..... kakak kayak anak kecil main suap suapan segala." suara Bima mengejutkan keduanya, yang ternyata sudah berdiri di dekat mereka.
Potongan mangga yang cukup besar yang menempel di bibir Bayu segera di masukkan paksa oleh Tiwi karena merasa malu dengan Bima.
Dan, sontak saja Bayu langsung terbatuk-batuk. Tiwi dan Bayu jadi salah tingkah sendiri.
Sedangkan Bima karena tak kunjung dapat jawaban, dan justru malah melihat kakaknya melotot segera melenggang ke dapur melewati keduanya yang tampak aneh itu.
Bayu yang masih terbatuk-batuk buru-buru meraih air mineral dan langsung meminumnya hingga tandas.
"Em... kalo begitu aku permisi pulang dulu ya mas." ucap Tiwi yamg merasa masih sungkan dengan kejadian tadi.
"Eh Tiwi tunggu sebentar." tanpa sadar menahan tangan Tiwi.
__ADS_1
Tentu saja Tiwi kaget melihat Bayu bersikap seperti itu, akhirnya dia pun duduk kembali.
"Emm..... Emm...."