
Setelah semua selesai merawat Anisa, giliran perawat menangani Bayu. Seorang perawat mengoleskan minyak kayu putih ke hidung Bayu.
Tak lama kemudian, ia mulai bereaksi dengan sedikit menggerakkan mata dan hidungnya. Dan akhirnya ia tampak silau dengan lampu putih yang menyala terang.
Seketika ia sadar dan langsung terduduk. Ia lalu menoleh ke samping dan melihat Anisa tengah memeluk bayinya. Dengan penuh semangat ia turun dari brankar lalu berjalan mendekati keduanya.
"Maafkan aku, karena terlalu bahagia nya sampai pingsan." ujar Bayu sambil meringis. Lalu ia mengecup kening Anisa dan bayinya bertubi tubi.
"Mas, di adzani dulu." ucap Anisa mengingatkan.
"Iya sayang."
Bayu pun akhirnya mendekatkan bibirnya ke telinga bayi dan mulai melafadzkan adzan. Anisa ikut mendengarkan dengan baik.
Hidup keduanya kini terasa semakin lengkap dengan kehadiran bayi mungil itu.
Sementara itu, di luar ruangan, semua juga langsung mengucapkan syukur dan tersenyum lega, kala mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin.
Laura ikut menitikkan air mata, karena akhirnya sahabat nya bisa melewati proses yang tak mudah untuk menjadi seorang ibu. Ia juga berharap suatu saat bisa segera memiliki momongan.
Kini Anisa sudah di bawa ke ruang perawatan bersama bayinya di dampingi oleh keluarga Bayu.
Laura mengucapkan selamat pada Anisa, akhirnya kini ia sudah menjadi seorang ibu. Sedangkan Reyhan, ia juga mengucapkan selamat pada Bayu, akhirnya kini ia sudah menjadi seorang ayah.
Ibu Rohmah sendiri berdiri di samping box dan memperhatikan bayi mungil yang tidur dalamnya. Meskipun bukan anak pertamanya yang memberikan cucu pertama untuknya, ia tetap merasa bersyukur. Ia juga terus mendoakan agar Reyhan dan Laura segera di beri momongan.
Tak berselang lama, kedua orang tua Anisa datang.
"Assalamu'alaikum." ucap kedua orang tua Anisa.
"Wa'alaikumussalam." balas seisi ruangan kompak.
Mata Anisa berkaca-kaca kala melihat siapa yang mengucapkan salam. Begitu pun dengan orang tuanya, yang juga berkaca-kaca kala melihat Anisa tersenyum hangat melihat ke arah mereka.
Kedua orang tuanya langsung mendekati Anisa. Ia mencium punggung tangan kedua orang tuanya dengan takzim.
"Selamat nak, akhirnya kamu menjadi seorang ibu." ucap umi Salwa sambil mengecup kening Anisa bertubi-tubi di sertai isak tangis keduanya.
__ADS_1
Setelah keduanya mengurai pelukan, giliran abi Gofur yang mengucapkan selamat dan mengecup kening Anisa. Meskipun abi Gofur seorang lelaki, ia juga menitikkan air mata ketika anak satu-satunya berhasil melahirkan dengan selamat. Ia sangat terharu bahagia.
Setelah mengurai pelukan, kedua orang tua Anisa bersalaman pada Bayu. Keduanya juga mengucapkan selamat padanya.
Abi Gofur menasehati Bayu agar tidak hanya menjadi suami yang baik saja, tapi juga bisa menjadi seorang ayah yang baik untuk anak-anaknya nanti. Begitu pun umi Salwa, ia juga memberi nasehat yang hampir sama pada Bayu. Ia menganggukkan kepalanya tanda paham dan akan berusaha untuk melakukan nya.
Tak lupa, kedua orang tua Anisa juga bersalaman dengan keluarga Bayu yang lain. Sebelum bercakap-cakap lebih banyak, kedua orang tua Anisa menengok bayi mungil yang masih tidur dalam box.
Saking gemasnya, keduanya menowel pipi bayi itu. Sehingga membuat bayi itu menggeliat dan tak lama kemudian menangis.
"Gara-gara abi nih."
"Lhoh, bukannya umi juga towel towel, kok cuma abi saja yang di salahin?" sebuah ribut kecil yang membuat seisi ruangan terkikik.
Biasanya mereka akan tertawa terbahak-bahak, tapi mengingat sekarang sudah ada bayi, tak mungkin mereka seperti itu. Yang ada justru bayi mungil itu akan menangis.
"Kamu susui dulu saja nak." akhirnya bu Rohmah mengingatkan.
Umi Salwa yang masih berdiri di dekat box segera mengangkat bayi perempuan itu pelan-pelan.
Reyhan yang paham, langsung menyingkirkan dari brankar tempat Anisa duduk. Reyhan duduk di sofa, di ikuti oleh pak Gofur dan Bayu. Ketiga lelaki beda usia itu bercakap-cakap sambil menunggu Anisa menyusui.
Sedangkan Anisa, ia terlihat masih canggung dalam menyusui.
"Tidak apa-apa, jilbabnya agak di singkap sedikit." ucap umi Salwa pada Anisa.
Anisa memang selalu memakai cadar, dan jilbab yang besar. Walaupun saat melahirkan sekalipun.
Perlahan ia membuka kancing bajunya, lalu mengeluarkan buah apel yang sekarang berubah jadi buah jeruk Bali.
"Bismillah." desisnya ketika perlahan mendekatkan buah miliknya ke bibir sang bayi.
Seketika tangisan bayi itu berhenti, dan mulai merespon sesuatu di dekat bibirnya. Hingga sekian menit asi Anisa tak kunjung keluar.
"Sabar sayang, nanti lama-lama juga akan keluar dan justru bisa mengalir dengan deras jika kamu rutin memberikan nya." ucap umi Salwa yang tahu jika Anisa hampir saja putus asa karena bayi perempuannya tak kunjung bisa meminum ASI-nya.
Setelah sekian menit berlalu, akhirnya bayi itu bisa meminum cairan kuning, lalu berganti putih kekuningan dari buah dada Anisa. Walaupun pada awalnya juga ada sedikit drama. Anisa meringis menahan sakit, karena bayinya menggigit dengan kuat.
__ADS_1
"Sakit banget ya Nis?" celetuk Laura sambil meringis, karena melihat Anisa yang juga sedang meringis.
"Kalau bayi laki-laki, lebih berlipat-lipat sakitnya non Laura." kata bu Rohmah menjelaskan, yang di sertai anggukan oleh umi Salwa.
Laura bergidik nyeri mendengar penjelasan ibu mertuanya.
'Di gigit suami saja sakit, apa lagi di gigit bayi laki-laki nanti?' batin Laura sambil membayangkan.
Walaupun belum begitu puas meminum asi, bayi itu kini tidak menangis lagi dan bahkan sudah tertidur dalam pangkuan Anisa.
Laura menatap bayi mungil milik Anisa sambil mengusap lembut pipinya.
"Aku gendong boleh Nis?" celetuk Laura tiba-tiba setelah sekian detik mengusap pipi bayi itu.
"Boleh."
Keduanya sangat hati-hati dan pelan-pelan dalam serah terima bayi itu. Karena baru pertama kalinya bagi mereka memegang bayi.
Laura sangat deg-degan ketika perlahan bayi mungil itu mulai berpindah ke tangannya.
"Ya ampun Nis, aku deg-degan banget." tutur Laura dengan polos. Kegugupan nya saat memegang bayi memang tak dapat di tutupi. Sehingga membuat ibu-ibu menyunggingkan senyum.
"Kalau sudah terbiasa ngga akan takut kok nak."
Laura mengangguk sambil tersenyum. Ia mengamati bayi Anisa yang saat ini dalam gendongannya. Sambil berdo'a semoga setelah menggendong bayi itu ia bisa segera hamil.
Laura mendongakkan kepalanya, dan tak sengaja pandangan nya bersirobok dengan Reyhan. Keduanya saling melempar senyum penuh arti.
'Walau itu bukan bayi mu, tapi kamu tampak bahagia sekali sayang.' batin Reyhan.
'Pasto mas Reyhan bakalan seneng banget, kalau yang aku gendong ini adalah anak ku sendiri. Ya Allah, semoga, aku lekas hamil.' batin Laura.
"Ya ampun La, ngga dimanapun tempatnya, kamu selalu saja melempar senyum ke arah suami mu. Bucin akut ya kamu." celetuk Anisa yang membuat Laura tersipu malu.
"Kamu juga kan begitu Nis. Kalau ngga bucin sama suami sendiri, masa harus bucin dengan suami orang." Laura tak mau kalah.
Semenjak keduanya hidup serumah, mereka semakin akrab dan tentunya lebih sering adu mulut yang mengundang tawa orang-orang di sekitarnya. Tapi keduanya tak pernah memasukkan ke hati setiap candaan, karena tujuannya adalah untuk menghibur diri.
__ADS_1