
Walaupun bukan pengantin baru, Reyhan dan Laura tetap saling menunjukkan perhatian yang lebih.
Seperti di malam itu, malam yang sama dengan Rosyidah dan Tiwi yang tengah merasakan malam pertama, saat Reyhan baru pulang dari counter, Laura menyapa hangat suaminya. Ia segera beranjak dari duduknya lalu menghampiri Reyhan yang sedang menutup pintu.
Laura mengecup tangan Reyhan. Dan di balas kecupan oleh Reyhan di keningnya. Laura bergelayut manja, seperti lama tak bertemu. Sehingga membuat Reyhan semakin gemas dengan tingkahnya.
Apalagi melihat penampilan Laura yang memukau. Memakai baju dinasnya yang seperti jaring ikan dan sangat minim, sehingga setiap lekuk tubuhnya terekspose sempurna. Rambut hitam yang disanggul asal, serta make up yang sederhana. Membuat Reyhan tak bosan memandangnya setiap hari, karena penampilannya selalu berubah-ubah.
Tak tahan, dengan pesona Laura, Reyhan segera berlalu ke kamar mandi untuk mandi terlebih dahulu sebelum mendekati istrinya.
Sedangkan Laura, tampak asyik duduk di tepi ranjang sambil melihat YouTube tentang acara masak. Ia selalu bersemangat memasak, agar bisa menyajikan hidangan yang disukai suaminya.
Tiba-tiba hidungnya mengendus aroma wangi, sehingga membuat ia mendongakkan kepalanya dan melihat Reyhan tengah berdiri di dekatnya, dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Titik titik air yang membasahi wajah, membuatnya semakin terlihat segar. Keduanya saling melempar senyum.
"Buruan pakai baju sana gih, kedinginan lho nanti. Kamarnya kan pakai AC." titah Laura.
Ia selalu ingat, jika Reyhan pernah sakit karena kedinginan ketika tidur di kamarnya yang menggunakan AC. Keduanya saat ini memang sedang tidur di rumah pak Atmaja. Karena permintaan kedua orang tua Laura.
"Ngga mau."
"Kok ngga mau? Apa mau diambilkan?"
Laura langsung meletakkan handphonenya, lalu berdiri hendak mengambilkan baju. Namun tangannya segera di pegang Reyhan, lalu ia mengecup kening Laura cukup lama sambil berdoa.
"Pakai bajunya nanti saja, setelah kita bikin adek."
Laura yang mulai paham dengan maksud suaminya, kembali tersenyum hangat lalu mengangguk. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Reyhan sambil menatap nya.
Deru nafas mulai terdengar tak beraturan. Meskipun, keduanya sering melakukan hal itu, tetap saja membuat jantung keduanya selalu berdebar kencang.
"Ya Allah, setelah sekian kali kami berusaha dan berdoa, semoga malam ini, Engkau kabulkan doa kami. Bibit kecebong yang kami keluarkan, semoga yang paling berkualitas. Sehingga sekali masuk, langsung tumbuh dan berkembang pesat di rahim istri ku."
__ADS_1
Laura terkekeh mendengar doa yang panjang lebar dari mulut suaminya itu. Sehingga ia sedikit terkejut ketika pusaka milik Reyhan langsung memasuki goa miliknya.
Ia pun memejamkan matanya sambil mencengkeram tangan Reyhan dengan kuat. Meskipun sudah berulang kali melakukan hal itu, tetap saja Reyhan selalu kesulitan ketika memasukkan pusaka nya.
"Sayang, kenapa setiap kali memasukkan ke goa mu, aku selalu saja kesulitan? Memangnya kamu kunci pakai apa sih?"
"Meskipun, sudah aku kunci, kamu berhasil membobolnya juga kan? Itu rahasia ku, agar kamu selalu menyayangi ku."
"Kamu sudah melakukan hal yang benar Miss Laura. Aku sangat menyukainya. Membuat semangat ku bertambah besar. Terima kasih sudah melakukan untuk ku, sehingga aku sangat puas."
_____
Tidak mau kalah dengan pasangan muda lainnya, yang tengah hanyut dalam malam pertama, dengan sejuta rasanya. Bayu dan Anisa pun juga tengah melakukan malam yang ke 700.
"Sayang, ayo kita bikin dedek untuk Zakira." bisik Bayu lembut ditelinga Anisa.
"Bukankah Zakira masih kecil mas? Kok mau dibuatkan adik?"
"Ah kamu, pasti pura-pura ngga tahu." dengan gemas Bayu mencubit hidung Anisa. Lalu mengecup keningnya sembari memanjatkan doa.
Di satu sisi, Bayu sangat bersyukur, setelah menikah tak lama kemudian Anisa hamil. Yang menunjukkan kecebongnya memiliki kualitas super.
Namun di sisi lain, Bayu harus rela pada Anisa yang mencurahkan perhatiannya yang lebih, dengan anaknya yang masih sangat membutuhkannya di banding dirinya.
Anisa melayani suaminya dengan sepenuh hati, walaupun sebenarnya dia juga sangat capek.
Dan di malam itu, para lelaki seperti Reyhan, Bayu, Andre dan Adam sangat merasa terpuaskan dengan servis yang diberikan oleh para istri mereka.
Para istri itu juga merasa bersyukur, walaupun harus menahan rasa sakit, akhirnya bisa memuaskan suami mereka.
Mereka yang belum di karuniai anak, sangat berharap lele yang mereka sebar di empang sang istri bisa tumbuh subur dan cepat panen.
__ADS_1
Selanjutnya mereka pun tidur dengan sangat pulas, hingga adzan subuh samar samar terdengar. Membuat mereka menggeliat dan terbangun. Bahkan sebelum sholat subuh, mereka kembali melakukan hal itu untuk yang kesekian kalinya.
Reyhan mengangkat tubuh Laura, menuju kamar mandi untuk mandi bersama, karena mereka sedang di kamar Laura yang lengkap dengan segala fasilitasnya.
Sedangkan pasangan yang lain, harus sabar antri mandi satu persatu, sambil memelankan guyuran air, agar tidak terdengar oleh orang tua mereka.
Meskipun orang tua mereka pernah muda, dan mengalami hal yang sama, tetap saja hal itu membuat malu mereka.
Saat pagi hari, Andre mengajak Rosyidah berjalan jalan di sekitar pondok. Ia ingin mengenal lebih dekat lingkungan istrinya. Rosyidah banyak menceritakan tentang pondok yang dibangun abinya. Andre pun tampak antusias mendengarnya.
Selanjutnya keduanya juga bercerita tentang pekerjaan masing-masing. Andre menelan saliva mendengar pekerjaan Rosyidah. Ia seorang ustadzah di pondok abinya.
Andre menghentikan langkahnya lalu mengungkapkan isi hatinya.
"Aku sangat minder sekali dengan status pekerjaan kita yang sangat berbeda 180 derajat sayang." celetuk Andre yang membuat Rosyidah menghentikan langkahnya dan menatap suaminya. Bahkan ia juga menggenggam tangannya.
"Jangan pernah minder mas. Semua pekerjaan yang halal dikerjakan demi menghidupi keluarganya itu jauh lebih baik dan diridhoi Allah daripada mencuri atau meminta minta." ucap Rosyidah meyakinkan suaminya.
Andre menatap Rosyidah dan membenarkan perkataannya.
"Kamu benar sayang. Terima kasih dukungannya." Rosyidah mengangguk sambil tersenyum.
"Em, sebenarnya aku ingin berusaha menjadi seorang wirausahawan seperti Reyhan itu."
"Apapun yang kamu lakukan, selama halal, in shaa Allah aku dukung mas. Wanita yang baik adalah yang mau berjuang bersama dengan suaminya, sampai ia sukses."
"Terima kasih sekali sayang ku." Andre memeluk erat Rosyidah.
Beberapa siswa yang melihat adegan itu harus menutup mata mereka dengan tangan. Namun meskipun menutup mata, tangannya masih renggang, sehingga pemandangan itu masih samar terlihat.
"Ya Allah mas, kita dilihat sama siswa-siswi." celetuk Rosyidah sambil mengendurkan pelukan.
__ADS_1
"Maaf sayang, aku terlalu bahagia, sehingga tidak memperhatikan tempat."
Keduanya segera berlalu meninggalkan pelataran menuju ke kamar.