
"Pah, kenapa ngomong seperti itu sih?" tanya Laura cemberut sembari berjalan masuk rumah.
"Kan sudah papa bilang, papa ingin kalian bisa semakin dekat. Dia itu anak baik, pasti bisa membawa mu pada kebaikan juga."
"Hemm... selalu saja maksain kehendak." Laura berlalu menaiki tangga menuju kamarnya dengan muka cemberut.
"Pah, kamu juga jangan terlalu memaksa seperti itu dong, kasian Laura."
"Selalu saja mama membela itu anak, bisa semakin manja jadinya."
"Terserah papa sajalah. Tapi, mama lihat Reyhan sepertinya juga pemuda yang baik, penuh sopan santun dan rendah hati."
"Nah, itu dia mah, makanya dukung terus usaha papa untuk mendekatkan kedua anak itu, daripada Laura ditempel Choki si parasit itu."
"Hush, papah. Anak orang dikatain parasit."
"Biarin aja." kata pak Atmaja sambil merangkul bahu bu Ani, keduanya berjalan menuju kamar.
_____
"Kamu jadi buka counter ngga Bay?" tanya Reyhan ketika sama-sama sedang menyiapkan orderan pelanggan.
"Nyari tempat susah banget kak belum dapat, kalaupun ada pasti harganya yang mahal."
"Asal tempatnya strategis ngga masalah Bay."
Drett.... Drett
Handphone Reyhan bergetar, lalu segera mengangkatnya ketika mengetahui kalo yang menelponnya adalah Rama.
"Hallo, ada apa mas?" sapa Reyhan.
"Yakin, serius kamu?"
"Ok, ok nanti aku coba cek lokasi dulu. makasih mas." Reyhan menutup teleponnya.
"Siapa mas?" tanya Bayu ketika kakaknya sudah selesai bertelepon.
"Mas Rama, ngasih tahu aku kalo ada kios yang dikontrakkan."
"Emang kamu mau buka cabang lagi kak?"
"Lhoh, katanya kamu mau buka counter. Ini aku juga bantuin cari kiosnya."
"Jadi kamu cerita ke teman-teman mu kalo aku mau buka counter kak?"
"Heem, kan aku mau bantuin kamu."
__ADS_1
"Makasih kak." dengan gerak refleks Bayu langsung memeluk Reyhan.
Dan, seketika Reyhan langsung membulatkan mata, kemudian melepas pelukan Bayu.
"Apaan sih Bay, aku masih normal kali, jangan gitu ah, geli tau." ucap Reyhan sewot.
"Iya iya maap. Trus kapan kita bisa lihat kiosnya?"
"Nanti sore mungkin, sekitar jam 5."
"Ok deh, aku siap. Tapi.... uangnya.... kamu udah ada kan kak?"
"Kalo uang jelas ada, tapi cukup enggaknya aku juga kurang tahu." ucap Reyhan sambil terkekeh.
Akhirnya hari pun beranjak sore. Setelah berpamitan dengan ibu, kedua kakak beradik itu berboncengan menuju ke kios yang alamatnya sudah dikirim Rama.
Menempuh perjalanan hampir 30 menit, akhirnya sampai juga mereka di deretan kios yang terlihat mungil.
"Apa itu ya kak kiosnya." tanya Bayu ketika sudah sampai diparkiran, dan menunjuk kios yang tertempel tulisan dikontrakkan.
"Mungkin, yuk mendekat. Tanya tanya sama orang sekitar." ajak Reyhan, lalu mereka berdua berjalan menuju toko yang ada di samping kontrakan kosong.
Setelah bertanya-tanya dan mendapatkan info soal pemilik kontrakan, bergegas Bayu menelpon pemilik kontrakan untuk mendiskusikan lebih lanjut.
Setelah hampir 15 menit menunggu, akhirnya ada seorang bapak yang mendekati mereka, ternyata benar dia adalah pemilik kontrakan.
Dan, akhirnya sebuah kata sepakat di dapat, uang sewa untuk kontrak setahun adalah 6 juta. Bayu segera mengulurkan 6 gepok uang lembar merah ke pemilik kontrakan. Setelah penghitungan uang selesai, Bayu menerima kunci tersebut, pertanda dia sudah sah menjadi penyewa kios.
Setelahnya, pemilik kontrakan pun segera pulang karena ada sebuah acara penting, sedangkan Bayu dan Reyhan melanjutkan bicara mereka. Reyhan juga banyak memberikan masukan masukan ke Bayu selama pembukaan counter. Bayu sangat senang tentunya, karena Reyhan tak merasa tersaingi.
Setelah puas bercerita mereka segera pulang, tak lupa mampir untuk membelikan jajan keluarga.
_____
Beberapa hari Bayu disibukkan dengan aktifitas untuk memulai grand opening counter pertamanya. Sebagian besar stok counter dibeli dari kakaknya dengan harga saudara tentunya.
Dan, Selama Bayu menyiapkan perlengkapan counternya, Reyhan segera mendapat karyawan baru lagi, agar tidak kewalahan melayani pembeli. Apalagi Tiwi juga mengundurkan diri dan memilih bekerja dengan Bayu.
Hari yang ditunggu pun tiba, tepat pada hari minggu Bayu memulai grand opening counter barunya. Dengan dibantu Tiwi mereka menunggu calon pembeli datang. Terlihat, mereka juga membungkus beberapa gift kecil untuk pembeli.
Secarik senyum mengembang di wajah Bayu kala datang pembeli pertama. Selanjutnya pembeli juga terus berdatangan.
"Nah, aku bilang juga apa mas, lebih enak buka counter sendiri kan?" kata Tiwi sambil merapikan letak kartu perdana.
"Iya betul juga kamu sayang, pokoknya aku bakalan giat bekerja, biar bisa menyusul sukses seperti mas Reyhan." kata Bayu dengan senyum yang mengembang sambil serius menatap Tiwi bidadari hatinya.
"Tahu ngga, aku jadi tambah semangat kerja karena ada kamu yang senantiasa disamping ku, membantu dan mendukung ku. Makasih ya sayang." imbuh Bayu lagi sambil menggenggam jemari tangan Tiwi.
__ADS_1
"Ih gombal, paling bisa deh."
"Udah malem, yuk tutup, aku anterin kamu pulang."
"Boleh, yuk."
Tiwi segera menutup pintu rolling door, sedangkan Bayu harus mengecek transaksi hari pertama dan mencocokkan dengan uang yang ada.
"Gimana hasilnya mas."
"Lumayan dapet 1 juta, semoga besok meningkat."
"Aamiin."
Setelah mengunci pintu, mereka berjalan beriringan menuju motor Bayu terparkir. Tak lupa keduanya juga menyapa orang orang yang ada di dekatnya agar tidak terkesan sombong.
Motor pun akhirnya melaju dengan kecepatan sedang. Hawa dingin menambah Tiwi memeluk erat Bayu dari belakang, yang tentunya hal itu membuat Bayu cengar-cengir sendiri.
Akhirnya sampai juga di pelataran rumah Tiwi. Karena hari sudah malam, maka Bayu tak enak untuk mampir, bisa-bisa malah di gerebek warga desa. Karena tamu di atas jam 9 wajib lapor.
Bayu pun kembali melajukan motor dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai rumah. Tak sabar bercerita dengan keluarganya mengenai grand opening counter barunya. Karena dia sadar, keluarga adalah tempat ternyaman untuk meluapkan segala keluh kesahnya selama ini.
"Alhamdulillah sudah pulang Bay?" ibu menyambut nya sambil duduk di teras depan rumah.
"Iya bu, hari pertama hasilnya langsung lumayan. Doakan aku bisa sesukses kakak ya bu."
"Tentu lah Bay, ibu akan selalu doakan agar semua anak ibu sukses, ngga ada yang jadi buruh pabrik seperti itu." balas Bu Rohmah sambil mengelus punggung Bayu.
"Kakak mana bu?" tanya Bayu ketika tak melihat Reyhan ada di counter ataupun di kamar nya.
"Biasalah lagi ke counter cabang, ambil uang transaksi hari ini."
"Kak, mana nih oleh-olehnya?" todong Bima yang masih melihat tv, padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Ops, sorry, kakak lupa Bim. Besok ya, kakak janji bakalan beliin kamu oleh-oleh." kata Bayu sambil menepuk jidatnya, lalu segera mencubit pipi adiknya.
Tentu saja Bayu lupa untuk membeli oleh-oleh, karena itu bukan kebiasaannya selama ini, melainkan kebiasaan Reyhan.
Dan, mulai besok dia janji akan meniru kebiasaan kakaknya, membeli oleh-oleh agar semakin melancarkan rezekinya.
Berteman yuk kak di FB.
FB: Nurul khanifah
Berikan penilaian yang baik ya agar menambah semangat author untuk terus update.
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca, terimakasih semoga sehat selalu dan semakin lancar rezekinya.😘🤗
__ADS_1