
"Habis dari mana kamu Laura?" tanya pak Atmaja sambil pura-pura melipat koran.
"Papa. Kapan papa pulang?" sengaja Laura mengalihkan pembicaraan dan menghambur ke pelukan papanya lalu bergantian ke mamanya.
"Tadi sore, kamu belum jawab pertanyaan papa ya." pak Atmaja mengulangi pertanyaannya.
"Laura habis ke salon pa." jawab Laura berbohong, padahal baru saja pulang makan malam dengan Choki, dan Laura lah yang harus membayar bill pembayarannya.
"Okay. Papa mau minta tolong sama kamu."
"Apa pa." sahut Laura cepat.
"Besok antarkan oleh-oleh untuk Reyhan."
"APA! Laura ngga salah dengar?"
"Enggak, terserah kamu waktunya kapan, yang jelas harus besok. Setelah hadiah dikirim kamu harus berfoto Selfi dengannya, sebagai bukti kalo kamu tidak membohongi papa."
"APA!" Laura selalu terkejut dengan permintaan papa nya yang aneh.
"Jangan teriak-teriak Laura! Bisa tuli telinga papa, paham kan?"
"I_iya pa, Laura paham." Jawab Laura sambil menekuk mukanya.
"Nah, itu di meja ada 2 oleh-oleh, paper bag pink buat kamu, paper bag biru untuk Reyhan. Masih ingat kan alamat rumahnya."
Laura hanya mengangguk, lalu segera meraih paper bag pink dan mulai mengeluarkan isinya.
Sebuah jam tangan limited edition yang membuat Laura langsung bersorak gembira dan kembali memeluk papanya.
"Makanya kamu itu jadi anak yang penurut, pasti papa akan sering kasih kamu hadiah." jawab pak Atmaja sambil mengelus rambut Laura.
"Iya iya pa, ya sudah Laura pamit ke kamar dulu ya." Lalu segera bangkit sambil membawa 2 paper bag ke kamarnya dengan wajah ceria.
_____
"Kapan kamu mau mengantar hadiah untuk nak Reyhan sayang?" tanya Bu Ani ketika mereka sedang sarapan pagi bersama.
"Sehabis pulang kuliah ma."
"Yah, mama ngga bisa titip masakan dong, padahal mama udah masak banyak banget lho.
Laura pun membulatkan mata tak percaya dengan apa kata mamanya.
"Mama serius?" tanya Laura, dan mama mengangguk.
"Ya sudah siapkan sekarang aja ma, ngga papa di bawa Laura ke kampus dulu, ngga kan basi kok, kan baru aja yang masak." perintah pak Atmaja.
Uhuk... uhuk
__ADS_1
Laura tersedak merasakan keanehan orangtuanya saat ini, tapi hanya memilih diam, dari pada nanti semakin ngelantur.
"Laura pamit dulu ya ma, pa." kata Laura setelah menghabiskan segelas jus jambu.
"Tunggu dulu sayang, mama siapkan makanan untuk Reyhan sebentar aja." Bu Ani segera bergegas menyiapkan makanan.
"Nih, masukin mobil." kata Bu Ani sambil menyodorkan 2 rantang makanan yang didalamnya beraneka ragam isinya.
Sambil menelan Saliva Laura menerima rantang itu dan berjalan menuju mobilnya.
Segera mobil merah membelah jalanan kota yang sudah tampak macet dengan kecepatan tinggi. Apalagi pagi itu Laura masih harus menjemput Choki.
Akhirnya Laura tiba disebuah rumah yang megah, tapi tak pernah ia diijinkan masuk ke dalamnya, melainkan harus menunggu diluar.
Setelah mengirimkan pesan WhatsApp, tak berapa lama Choki sudah keluar lewat gerbang samping.
"Sudah lama nunggunya sayang?" sapa Choki sambil menutup pintu mobil.
"Enggak kok, baru aja." jawab Laura lalu mulai melajukan mobilnya pelan keluar dari komplek perumahan elit.
"Bau.... apa ini sayang?"
Tanya Choki, ketika hidungnya kembang kempis mulai mengendus bau masakan yang menggugah selera. Dia segera menoleh ke kiri kanan, dan seketika pandangannya tertuju pada paper bag biru dan 2 rantang yang berjejer di kursi belakang.
"Itu apa sayang?" sambil menunjuk ke arah belakang.
"Itu hadiah untuk teman papa."
"Hadiah kok seperti aroma masakan." Choki menatap Laura tak percaya.
"Iya, itu yang paper bag biru oleh oleh untuk teman papa, kalo yang rantang isinya juga makanan untuk teman papa." Sengaja Laura tak mengatakan kalo semua itu untuk Reyhan, karena tak mau Choki cemburu.
"Boleh aku buka isinya ngga sayang, aku penasaran banget." pinta Choki.
"Jangan sayang, aku takut dimarahin papa."
"Tapi, aku laper banget belum sarapan, boleh ya sayang aku cobain dikiiit aja, pliis banget."
"Atau kamu mau... aku pingsan di kampus?" bujuk Choki.
Ciiittt....
Laura pun langsung mengerem mobil nya, yang mengakibatkan kepala mereka terantuk kaca depan.
"Adduuh..." jerit Choki sambil mengelus jidatnya.
"Kok ugal-ugalan sih sayang nyetirnya. Kalo kita matek gimana? kan belum nikah, masih perjaka ting ting aku." cerocos Choki panjang lebar.
Laura membuang nafas kasar, akhirnya segera menyuruh Choki untuk makan, dari pada harus mendengarkan kebawelannya sepanjang perjalanan menuju kampus.
__ADS_1
Choki pun langsung bersorak senang, dan segera meraih 2 rantang makanan. Matanya membulat ketika melihat menu menu yang tersaji dalam rantang.
Tak perlu waktu lama, akhirnya 2 rantang makanan itu pun habis juga, bersamaan dengan mobil yang sudah masuk pelataran parkir kampus.
"Terimakasih sayang, masakan mama mu enaaaak banget, aku suka, besok lagi ya."
"Heemm." Laura hanya menjawab seadanya.
Pandangan Choki beralih ke paper bag biru, ada rasa penasaran dihatinya.
"Aku boleh buka paper bag itu ngga sayang?"
Sejenak Laura berpikir. Ia tak mau jika sampai Choki membuka isi paper bag dan melihat isi didalamnya, maka akan timbul keinginan untuk memilikinya, bagaimana nanti harus menanggapi kebawelan Choki dan papanya.
"Enggak, dah ayo buruan turun, nanti kita bisa telat. Inget jam pertama dosen killer." akhirnya Laura segera mendorong Choki keluar, setelah nya dia juga keluar dan mengunci mobil.
Keduanya berlari menuju ruang kelasnya.
"Hah, untung saja aku belum telat." gumam Laura dengan nafas yang terengah-engah.
Laura segera mengeluarkan set alat makeup nya. Melihat bayangannya dalam pantulan cermin, tampak peluh membasahi wajahnya, dengan sigap mengelap keringat yang bercucuran dan jemari lentiknya mulai merapikan makeup nya lagi.
Choki pun lebih parah lagi, karena kekenyangan ditambah harus berlari sampai gedung lantai 2 membuat keringat nya membanjiri wajahnya dan perutnya seketika terasa sakit.
Apalah daya, ketika hendak berdiri untuk ke toilet malah dosennya datang. Terpaksa dia harus mengurungkan niatnya itu. Menahan keinginan untuk pup sampai jam mata kuliah selesai. Hal itu tentu saja sangat menyiksa Choki.
Akhirnya mata kuliah pun usai, dosen berjalan meninggalkan ruangan. Mahasiswa segera merapikan buku mereka. Dan sebuah suara keras begitu mengagetkan mereka.
Bruuuuuududutdutdut......
Suara kentut Choki, seketika dia mengulas senyum karena bisa bernafas sedikit lega. Gas yang sejak tadi ia tahan akhirnya berhasil ia keluarkan dengan ikhlas.
"Bau apaan nih." celoteh salah satu mahasiswa.
Mereka pun saling beradu pandang, namun tak ada yang mengakuinya sama sekali. Sedangkan Choki cengar-cengir melihat kebingungan temannya.
"Adduuh, baru aja bernafas lega kok sakit lagi." gumam Choki sambil meraba perut nya.
"Aku pamit ke toilet dulu ya sayang." ucap Choki ke Laura, lalu segera melangkah keluar meninggalkan Laura dan teman-temannya yang hampir muntah dengan bau kentutnya.
Laura hanya mengibaskan kedua tangannya pertanda menyuruhnya untuk segera keluar.
Berteman yuk kak di FB.
FB: Nurul khanifah
Berikan penilaian yang baik ya agar menambah semangat author untuk terus update.
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca, terimakasih semoga sehat selalu dan semakin lancar rezekinya.😘🤗
__ADS_1