
Semua akan terasa menyenangkan jika dilakukan dengan ikhlas. Dan tak terasa pula waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Reyhan pun berjalan keluar untuk membeli oleh-oleh buat keluarga nya. Counter cabang Reyhan berada di kios pinggir pasar yang menghadap ke jalan raya, sehingga dari pagi sampai ke pagi lagi tak kan pernah sepi.
Banyak sekali penjual aneka makanan yang juga berjajar jajar di depan parkir. Langkah nya tertuju pada penjual sate madura. Setelah menyampaikan pesanannya lalu segera kembali ke counter untuk mengecek buku transaksi hari ini.
'Usaha tak akan mengkhianati hasil, dan Allah sebaik-baik pemberi rezeki.' batin Reyhan sambil menyunggingkan senyum nya yang khas setelah mentotal transaksi pertama di counter cabang.
"Senyum senyum sendiri mas." suara penjual sate mengagetkan nya.
"Eh, udah jadi ya mas, berapa totalnya?" spontan Reyhan berdiri dan mengambil dompet yang ada di sampingnya.
"80rb mas." jawab penjual sate sambil mengamati counter Reyhan. Lalu pandangan nya tertuju pada handphone yang sedang promo.
"Ini ya mas, kembaliannya ambil aja." Reyhan menyerahkan selembar merah.
"Maa syaa Allah, baik banget mas, suwun ya mas." penjual sate terlihat sangat senang, tapi pandangan nya segera beralih pada handphone yang dilihatnya tadi.
Reyhan pun juga ikut mengamati.
"Itu bener mas harganya 1,5 juta?" tanya penjual sate dengan raut sedikit heran.
"Oh yang itu, iya mas bener. Baru promo itu." Reyhan pun mengeluarkan handphone yang dimaksud tadi sambil menjelaskan spesifikasi dan harga di pasaran.
Penjual sate pun mengernyitkan dahinya sebelum akhirnya memberanikan diri berbicara walaupun dengan sedikit ragu.
"Em.... saya baru ada uang 400rb mas, misal uang sisanya besok boleh ngga? Untuk anak saya yang sekolah nya daring. Pake handphone saya yang lama malah kadang jadi uring uringan karena memorinya sudah ngga muat."
'Ini nih, yang bikin ngga enak dihati. Mau nolak sungkan, jualan nya juga di depan counter pas. Ngga ditolak, juga aku punya prinsip untuk tidak mengkreditkan handphone. Aku pun juga baru sekali bertemu dengan nya, kalo dibohongi gimana.' sejenak Reyhan membatin sebelum memutuskan.
__ADS_1
"Em... kalo ngga gini saja mas, uang ini kamu bawa dulu, besok sore saya kasih uang kurangnya, tapi juga mungkin ngga bisa semua mas. Buat modal dagangan juga. Sementara handphone nya di sini dulu juga ngga papa." penjual sate meralat ucapannya karena sungkan dengan Reyhan.
"Em.. mohon maaf mas, kalo uangnya saya bawa dulu malah saya yang ngga enak sama kamu. Sebaiknya uangnya ini di bawa dulu saja. Besok sore kalo bisa menambahi lagi, saya ijinkan bawa handphone nya dulu."
"Oh, iya mas. Baik mas, kalo gitu terimakasih ya. Semoga usaha nya semakin lancar ya mas. Walaupun baru kenal tapi sudah percaya dengan saya. Kemarin saya mencoba ke dua counter yang ada di pinggir pinggir itu mas, tapi ngga ada yang mau ngasih keringanan. Padahal sama sama udah lama jualan disini, paling tidak kan tau kesehariannya seperti apa." terang penjual sate dengan raut wajah sedikit sedih.
Setelah nya penjual sate kembali ke gerobaknya, sedangkan Reyhan sendiri bersiap-siap untuk pulang. Setelah memperhatikan setiap sudut ruangan dan memastikan semua aman Reyhan segera menutup pintu nya.
_____
Hari hari pun di lalui Reyhan dengan kesibukannya menunggu counter cabang. Kini dirinya tak perlu lagi datang ke supplier handphone.
Berkat keluwesan dan kegigihannya dalam mempromosikan handphone dan terus mengalami peningkatan yang signifikan, akhirnya supplier handphone bersedia mengirim handphone yang dibutuhkan Reyhan tanpa ongkos kirim tentunya.
Hingga tak terasa sudah 2 bulan cabang counternya berjalan dengan lancar setiap transaksi nya. Penjual sate yang dulu pernah minta kredit handphone ke Reyhan juga menepati janjinya dengan melunasi kekurangannya setelah sepekan kemudian.
Kini Reyhan pun sudah akrab dengan para penjual makanan di di sepanjang jalan depan kiosnya, dan juga para pemilik kios di pasar jati itu.
Sedangkan pemilik counter sebelah kanan masih bisa sedikit tersenyum kala Reyhan menyapa nya, tapi tak pernah terlibat sebuah percakapan.
Terkadang Reyhan membeli sesuatu yang mungkin dirasa tak begitu penting demi bisa sejenak berkenalan dengan penjual yang ada di deretan kiosnya sambil ikut melarisi dagangan sesama penjual.
"Rey, pulang pulang bawa teko, gelas plastik, piring piring buat apa?" tanya ibunya penasaran kala ia habis melarisi dagangan pembeli di dekat kiosnya.
"Em.... ya ngga papa, Reyhan sengaja beli buat ibu." jawab Reyhan sambil nyengir kuda, pasalnya dia sudah tau kalo dari semenjak ibunya menikah sering membeli piring dan gelas, katanya untuk persiapan semisal ada arisan atau acara yang besar tak perlu repot-repot cari pinjaman piring di gudang desa.
"Hemm, jangan membeli sesuatu yang ngga penting, ibu saja sekarang sudah ngga pernah beli lagi karena sudah cukup banyak, kok malah kamu yang gantian beli. Lebih baik uangnya di tabung, untuk gaji karyawan, untuk modal usaha, dan......"
"Dan apa bu?" Reyhan memotong ucapan ibunya dengan cepat.
__ADS_1
"Yaa, nikah kan juga butuh modal toh le, ngga cuma modal cinta saja. Mana ada anak sekarang nikah cuma di KUA kayak zaman ibu dulu."
"Deg!" seakan jantung Reyhan berhenti berdetak.
Karena setelah keluar dari pabrik dan menekuni usaha counternya, belum ada ikan eh perempuan maksud nya yang nyantol dihatinya. Lalu tiba-tiba ibu sudah bicara seperti itu.
"Oooh.... itu. Reyhan belum terlalu mikirin bu, masih fokus mengembangkan bisnis. Nanti kalo sudah rezekinya pasti mendekat sendiri bu." jawab Reyhan dengan senyum simpul sembari alisnya naik. Lalu segera masuk ke kamar tapi lagi-lagi langkah nya tertahan dengan ucapan ibunya.
"Lhoh, ibu perhatikan kamu dekat dengan Tiwi. Tiap waktu mengingatkan untuk sholat, makan siang dan... Kamu juga dekat dengan pak Somad. Ibu pikir kamu lagi mendekatinya." ucap ibunya dengan suara pelan.
Reyhan pun terkekeh mendengar penuturan ibunya, lalu segera menutup mulutnya dengan tangan takut percakapan itu di dengar oleh orang lain.
"Ya Allah ibuu ibu." sambil geleng-geleng kepala Reyhan kembali menjelaskan.
"Ada ada saja toh. Ibu lupa ya, Reyhan ini kan selalu bersikap baik dengan siapa pun juga. Entah itu kenal atau tidak. Bagi Reyhan dengan bersikap baik selain bisa menambah saudara, menambah rezeki, juga bisa bikin aku tetep awet muda." dengan terkikik Reyhan pun masuk kamar dan mulai menutup pintu nya, tapi lagi lagi ibunya bicara.
"Astaghfirullah Rey... Rey.. kamu jangan seperti itu, anak orang lho jangan dibuat mainan."
"Ibu... aku serius, aku ngga ada rasa sama Tiwi lho. Ibu kan tau aku tuh orangnya gampang akrab dengan siapa saja. Okay, kadang aku ngobrol dengan Tiwi, tapi itu seputar kerjaan, kami pun juga jarang becanda kok."
"Hem... ya sudah kalo begitu, pokok nya kalo sudah ada calon langsung kenalin ke ibu ya."
"Iya iya bu." jawab Reyhan singkat dan benar benar menutup pintu kamarnya untuk sejenak melepas penat.
Dan tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menyaksikan itu semua.
Tiwi, yang ingin ke kamar mandi untuk buang air seni mendadak menghentikan langkahnya, dan mendengarkan percakapan ibu dan anak itu.
'Ternyata aku salah sangka.' batin Tiwi.
__ADS_1
Raut wajahnya terlihat sangat kecewa dengan penuturan Reyhan tadi. Tapi untuk menyatakan perasaannya juga tak mungkin, terlalu tabu tentunya. Akhirnya dia pun berbalik arah menuju ruang counter dimana antrian pembeli sudah berjajar.