
"Ngga usah di pelototi gitu, handphone saya memang jadul kok dok." kata Tiwi yang seolah tahu tentang apa yang sedang di pikirkan dokter di hadapannya itu.
Dokter itu pun tersenyum meringis karena isi pikirannya bisa di tebak oleh wanita di hadapannya. Ia segera menanyakan nama orang tuanya yang tertera di handphone, lalu memencet nomor nya.
Setelah panggilan terhubung, ia segera mendekatkan handphone itu ke telinga Tiwi.
Setelah cukup menyampaikan kabar, dan Tiwi juga sudah mengucapkan salam, dokter itu segera mematikan panggilan telepon nya.
Tak berselang lama, makanan yang di pesan pun datang. Seorang driver makanan online mengantarkan pesanan dokter itu.
Perut keduanya yang sejak tadi memang belum terisi semakin berbunyi nyaring kala bau khas makanan itu menguar ke seluruh sudut ruangan. Setelah membayar makanan nya, bergegas dokter itu membuka box nya.
Ia hendak menyuap nasi dengan lauk ayam bakar itu ke mulutnya. Namun ketika ia membuka mulut, matanya bersirobok dengan Tiwi yang tengah menelan saliva memandangnya.
Seketika ia mengurungkan niatnya untuk makan, dan dengan terpaksa ia harus menyuapi Tiwi karena tangannya belum bisa di gerakkan.
"Pak dokter makan saja duluan." tolak Tiwi karena merasa sungkan terlalu merepotkan lelaki di hadapannya.
Apalagi dia adalah seorang dokter, yang pasti kelasnya adalah orang kaya. Bukan seperti dirinya yang hanya berasal dari keluarga miskin.
Entah kenapa Tiwi selalu minder dengan keadaan keluarganya. Namun meskipun begitu, ia tetap bersyukur atas segala apa sudah ia miliki.
"Bukan kah tadi kamu juga kelaparan? Ya sudah pasien ku saja yang makan duluan. Tugas ku sebagai dokter kan memang melayani pasien sepenuh hati." ucap dokter itu sambil mendekatkan sesendok nasi.
Akhirnya setelah adu mulut sekian detik, dengan ragu Tiwi membuka mulutnya menerima suapan itu, karena perutnya memang sudah lapar. Perlahan lahan nasi box itu akhirnya habis. Dokter itu menyodorkan segelas air putih lagi pada Tiwi yang juga langsung di habiskan.
'Ternyata dokter ini cukup baik, apalagi wajahnya juga sedikit tampan.' puji Tiwi dalam hati sambil menatap dokter yang tengah meletakkan gelas di nakas.
"Terima kasih dok sudah menolong saya." ucap Tiwi tulus.
__ADS_1
"Hem. Aku curiga, sepertinya kamu tadi kelaparan, terus oleng hingga akhirnya ketabrak aku deh." kata dokter itu penuh selidik.
Baru saja Tiwi memuji dokter itu, kini ia mulai menaruh curiga lagi pada dirinya. Sehingga membuat nya sedikit kecewa sudah terlanjur memujinya.
"Iya mungkin benar perkataan pak dokter. Oh iya, pak dokter makan duluan gih. Keburu ayamnya di gondol tikus." ucap Tiwi sambil meringis.
Dokter itu menarik sedikit senyum mendengar Tiwi berkata seperti itu. Lalu ia mengambil nasi box yang masih tersisa untuknya. Bergegas ia pun membuka dan melahap isinya.
'Sepertinya dokter itu harus di ajak bercanda, agar tidak terlalu serius dan terus menerus menuduhnya yang bukan-bukan.' pikir Tiwi.
Selama ini, Tiwi selalu di ajak bicara duluan oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi kali ini ketika di hadapkan pada orang yang mungkin sifatnya sama seperti dirinya, akhirnya ia pun mulai belajar mencairkan suasana.
Tiwi melihat jam yang tertera di handphone sudah menunjukkan pukul 8 lebih. Seketika ia teringat jika belum melaksanakan Dhuhur, Ashar, Maghrib dan bahkan isya' karena kejadian tadi.
"Ya Allah, astaghfirullah." pekik Tiwi yang membuat dokter itu terkejut. Ia menahan kunyahan nya dan melihat ke arah Tiwi.
"Ada apa?"
"Sholat Maghrib dan Isya' saja. Ngga mungkin kan sholat Dhuhur dan Ashar di gabungkan sekalian. Cukup bertayamum saja kalau takut luka mu terkena air."
"Iya pak, terima kasih sarannya." Tiwi seketika bernafas lega mendengar penjelasan dokter.
"Hem." Dokter itu kembali melanjutkan makannya.
"Katanya tadi tanya soal sholat. Lalu kenapa ngga sholat sekarang?" tanya dokter itu sambil mengernyitkan dahi.
"Memang dokter ngga lihat? Baju saya compang camping kena aspal jalan. Belum lagi baju saya juga najis kena pipis bayi teman saya. Jadi saya menunggu orang tua saya membawakan baju ganti untuk saya." Dokter itu pun mengangguk paham.
Keduanya kembali terdiam dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga suasana sangat terasa hening dan canggung. Sampai akhirnya, pintu terbuka dan terlihat ibunya Tiwi menyembulkan kepalanya.
__ADS_1
"Tiwi." seru ibunya.
Sambil menangis ia langsung berlari menghambur ke Tiwi yang terbaring lemah di brankar, di ikuti oleh bapaknya.
"Kenapa bisa sampai seperti ini nak?" tanya ibunya sambil memegang tangan Tiwi, hingga membuatnya meringis kesakitan, akibat tangan yang di pegang ibunya penuh luka.
"Pelan-pelan bu, badannya penuh luka." ucap dokter itu mengingatkan, karena tak tega melihat Tiwi yang meringis menahan sakit. Sehingga pandangan bu Siti beralih pada lelaki berkemeja biru muda yang ada di samping Tiwi.
"Saya Adam bu. Yang membantu membawa putri ibu ke sini. Karena bapak ibu sudah datang, kalau begitu saya permisi dulu ya." ucap dokter itu memperkenalkan diri. Ia pun menarik sebuah senyum dan membungkukkan badannya memberi hormat pada bu Siti dan pak Somad.
'Kenapa hanya bilang membantu saja? Padahal jelas-jelas dia juga yang menabrak ku. Hem. Apa mungkin dia takut kalau sampai kedua orang tua ku menuntutnya macam-macam?' gerutu Tiwi dalam hati sambil memandang punggung dokter itu yang melenggang hendak keluar kamar. Namun ia pun menoleh dan kembali mendekati mereka.
'Lhoh, apa dia tahu kalau aku sedang membatinnya? Kok kesini lagi?' batin Tiwi yang cukup gugup.
"Oh iya, saya lupa bilang ke bapak dan ibu. Semua administrasi sudah saya urus. Jadi tidak perlu khawatir lagi."
"Terima kasih dokter." ucap kedua orang tua Tiwi serempak sambil membungkukkan badan. Dokter itu pun kembali menarik senyum lalu melenggang pergi.
Tiwi bernafas lega ternyata dokter itu hanya bicara soal administrasi.
Setelah kepergian sang dokter, dengan di bantu ibunya Tiwi pelan pelan melepaskan bajunya lalu membersihkan badannya. Sangat terasa perih ketika kulitnya terkena air.
Setelah sholat, Tiwi tidak bisa kembali tidur. Mungkin karena sejak sore dia sudah tidur cukup lama.
Orang tuanya yang memang sejak tadi belum sempat bercakap-cakap dengan Tiwi, akhirnya memulai percakapan itu.
Tentunya membahas soal kecelakaan yang menimpa anaknya. Tiwi pun menceritakan semuanya.
"Hem, pantas saja dokter tadi menemani dan membayar total tagihan rumah sakit. Ternyata dia toh yang menabrak kamu nak." ucap ibunya sambil manggut-manggut.
__ADS_1
"Yang penting sudah bertanggung jawab, ngga usah di besar besarkan bu." ucap pak Somad bijak.
Kedua orang tua Tiwi mengusap pelan pada bagian tubuh Tiwi yang tidak terdapat luka, agar Tiwi bisa tidur lagi setelah meminum obatnya.