Juragan Muda

Juragan Muda
40. Bertemu mantan


__ADS_3

"Bu, aku jadi pamit berangkat ke Surabaya ya. Mungkin sekitar 2 harian. Ini aku sengaja berangkat lebih pagi, mau mampir ke counter cabang dulu sebentar."


"Iya, ngga ada yang tertinggal kan? hati hati ya nak, bawa mobilnya pelan-pelan. Kalau sudah sampai jangan lupa kabari, kalau ngantuk segera menepi, jangan dipaksakan, bahaya."


"Hehehe, aku sudah besar bu, in shaa Allah aku juga bisa jaga diri. Tapi, nasehat ibu tetap aku ingat kok. Jangan lupa doain Reyhan ya."


"Tentu itu, ya sudah buruan berangkat sana, keburu jalannya macet."


"Iya bu, pamit dulu ya, assalamu'alaikum." kata Reyhan sambil mencium punggung tangan ibunya.


Tak lupa, juga berpamitan pada kedua adiknya yang tengah asyik mencuci motor di halaman depan rumah.


"Pamit dulu ya Bay, Bim. Titip counterku juga. Assalamu'alaikum."


"Iya wa'alaikumussalam, jangan lupa kak oleh oleh nya." jawab keduanya kompak.


"Beres, mau apa?"


"Nanti aku pikirin dulu kak, kalau udah aku WhatsApp kakak." Bima menjawab dengan penuh semangat.


"Okay, bye."


Reyhan pun segera masuk ke mobil yang berada dipinggir jalan. Dan mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan yang sudah padat oleh kendaraan.


Sesampainya di counter cabang, Reyhan segera menepikan mobilnya di pinggir jalan. Karena lahan parkir sudah penuh dengan kendaraan roda 2.


"Mas Reyhan." sapa karyawannya ketika Reyhan sudah berdiri di depan etalase counter, dan Reyhan langsung membalasnya dengan tersenyum.


"Mas Reyhan." gumam pasangan muda mudi yang ada disampingnya secara bersamaan, lalu keduanya menoleh.


Deg!


Jantung ketiganya seketika berdetak kencang.


Karena untuk yang pertama kalinya mereka dipertemukan setelah sekian lamanya berpisah.


Ketiganya saling menatap dengan pandangan yang menelisik.


Sampai akhirnya Reyhan menyapa terlebih dulu pada orang orang yang pernah singgah dalam masa lalunya itu.


"Andre, Sinta lama ngga ketemu, gimana kabarnya?" Reyhan menyapa mereka dengan senyum yang ramah.

__ADS_1


"Kita baik-baik saja, iya kan sayang?" jawab Andre sambil memeluk punggung Sinta.


"Alhamdulillah syukurlah kalau begitu."


"Kamu sendiri gimana kabarnya Rey, sepertinya kok masih sama seperti yang dulu." Andre berkata sambil memperhatikan serius penampilan rekan sekolah nya itu, Sinta pun juga melakukan hal yang sama.


"Aku, aku Alhamdulillah juga baik-baik saja, seperti yang kamu lihat sekarang."


"Oooohh... baguslah kalau begitu, btw kerja di mana kamu sekarang Rey?"


"Lhoh dia....." belum selesai karyawan Reyhan bicara tapi Reyhan langsung mengedipkan mata padanya, sehingga dia tidak jadi melanjutkan bicaranya.


"Aku, kerja jadi sales kok." jawab Reyhan singkat.


"SALES!" ucap Sinta dan Andre bersamaan, karena terkejut dengan pengakuan Reyhan.


Reyhan pun hanya mengangguk sambil tersenyum. Sedangkan karyawannya terlihat menahan tawa menyaksikan tontonan gratis itu.


"Kamu keluar dari pabrik yang memberikan gaji tetap tiap bulannya hanya demi menjadi sales Rey? Apa kamu sebagai laki-laki ngga malu keliling menawarkan barang?" Andre sengaja menaikkan nada bicaranya satu oktaf karena heran dengan keputusan Reyhan, dan Sinta pun hanya manggut-manggut menanggapi bicara pacarnya.


"Kerja apa aja yang penting halal Ndre."


"Oh benar itu, tapi kalau kerja dipabrik kan enak Rey dapet gaji tetap, jadi misal mau kredit motor bisa disesuaikan sama uang gaji kita. Tuh, aku baru aja kredit motor, udah berjalan setahun, kurang 2 tahun lagi." ucap Andre dengan penuh jumawa sambil menunjuk ke motornya yang terparkir pas di depan counter.


"Kamu.... masih pake motor mu itu Rey?" tanya Andre lagi.


"Iya, memang kenapa Ndre?" sengaja Reyhan tak bilang jika tadi ke counter bawa mobil, karena motor nya kemarin dipinjam oleh karyawannya karena ban nya bocor.


"Apa.... kamu ngga tertarik gitu beli motor baru, seperti punya ku misalnya? Atau... uang gajimu ngga cukup buat kredit motor?"


"Kedua orangtuaku tidak suka anak-anaknya jatuh dalam dosa riba Ndre, aku pun sepemikiran dengan mereka. Jadi tak masalah aku pakai motor itu, yang penting masih nyaman aku naiki."


"Hem... bagus deh kalau begitu, aku salut sama kamu." Andre menepuk pundak Reyhan pelan.


"Eh, kamu mau beli apa, perasaan tadi yang tanya aku melulu." Andre kembali berbicara lagi.


"Eh, biasa beli paket data. Kamu mau beli apa?" Reyhan balik bertanya.


"Ini." Andre memperlihatkan handphone keluaran terbaru.


"Oh, bagus, itu kan handphone keluaran terbaru." jawab Reyhan.

__ADS_1


"Tentu dong, aku bosen pake handphone lama Rey. Rencana juga mau beliin Sinta tapi bulan depan." ujar Andre sambil terkekeh.


"Eh Rey, padahal aku sering kesini lho karena paling murah diantara counter lainnya, tapi kok aku baru ketemu sekali ini ya."


"Mungkin kamu yang terlalu sibuk kali Ndre, ya udah dilanjutkan dulu aja transaksinya, kasian mas counternya nunggu kelamaan, aku nanti nanti aja."


Andre pun segera menyelesaikan transaksinya, setelah itu berpamitan ke Reyhan.


"Kalau sewaktu-waktu butuh kerjaan telepon aku ya." Andre menyerahkan selembar kertas yang berisi nomor teleponnya.


Reyhan pun mengangguk sambil menerima selembar kertas itu.


"Bos, itu tadi siapa, nyerocos aja ngomong nya." tanya Aldo karyawan Reyhan yang baru 4 bulan kerja.


"Temen sekolah ku Do." jawab Reyhan sambil membuka buku transaksi.


"Ngomong nya kok seperti itu bos. Maaf ya bos gara gara motornya aku pinjam dan parkir nya sebelahan sama tuh orang, jadi dia ngerendahin bos gitu."


"Ya ngga papa, terserah mereka ngomong apa. kamu juga ngapain pake minta maaf segala, santai aja kali."


"Santai gimana? Bos yang direndahin aku yang emosi, ngga terima kalau mereka menghina bos seperti tadi, coba kalau tadi aku jawab kalo yang punya counter ini bos Reyhan, dan aku kasih tahu juga kalo bos punya mobil yang belinya cash, bisa kejang-kejang mereka. Lagian kenapa tadi aku ngga boleh belain kamu bos?" Aldo berapi-api mengeluarkan uneg-uneg nya.


"Halah, semua ini cuma titipin Do, ngga perlu dipamerin segala, jadi kalo ada lagi temanku yang kesini, bisa ya akting seperti tadi, pura-pura ngga kenal sama aku."


"Ngga janji bos." ucap Aldo masih sedikit emosi.


"Hlo... kok gitu? Ya harus janji pokoknya. Aku hanya ingin merendah Do. Orang yang merendah tak selamanya rendah. Terkadang orang ingin dihargai tapi lupa caranya menghargai."


"Ini nih, sifat bos Reyhan yang sangat aku suka. Walaupun sudah jadi bos, tapi tetap rendah hati dan tidak sombong, makanya semakin sukses terus."


"Hemm.... kamu mengeluarkan jurus maut untuk minta kenaikan gaji atau bonus Do?"


"Itu jujur dari hatiku bos, terimakasih sudah mau mengangkut ku jadi karyawan. Kalo tidak, mungkin sampai sekarang aku masih jadi pemulung."


"Lhohlhohlhoh, kok jadinya melow? Udah udah, aku siap siap mau ada acara, takut telat." Reyhan menutup pembicaraan. Dan setelahnya mengecek laci uang lalu menghitungnya, mengambil 2 gepok lembar merah, dan menambahi uang pecahan.


"Aku pamit dulu ya, Assalamu'alaikum."


Berteman yuk kak di FB.


FB: Nurul khanifah

__ADS_1


Berikan penilaian yang baik ya agar menambah semangat author untuk terus update.


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca, terimakasih semoga sehat selalu dan semakin lancar rezekinya.😘🤗


__ADS_2