
"Papa." sapa seorang wanita cantik berkacamata hitam dengan rambut lurus sebahu, baju super ketat, rok diatas lutut dan high heels yang tinggi, sedang menenteng tas bak sosialita.
Semua menengok ke asal suara, lalu memandang dari atas ke bawah balik ke atas lagi, tersihir dengan penampilan wanita yang berdiri di hadapan mereka.
Ehm...
Direktur sengaja berdehem untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka.
"Mohon maaf perkenalkan ini anak semata wayang saya, Laura arabela. Laura salaman sama customer papah sekarang." pinta direktur dengan sedikit mengedipkan mata.
Laura pun membulatkan matanya dengan permintaan aneh papanya. tapi segera mengikuti perintah nya juga karena takut uang salonnya akan dipangkas.
Laura segera mengulurkan tangan ke arah bu Rohmah walau dengan perasaan sedikit jijik karena harus bersalaman dengan kaum jelata, dan bu Rohmah segera membalas jabat tangan itu sambil tersenyum ramah.
Setelahnya segera mengulurkan tangan ke Reyhan, tapi betapa terkejutnya dia ketika Reyhan tidak menerima uluran tangannya dan malah menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Laura segera menarik tangannya kembali dan mengendus.
"Tanganku masih bau wangi walau sedikit terkontaminasi." gumamnya lirih.
Lalu segera mengulurkan tangan lagi tapi Reyhan tetap melakukan hal yang sama.
"Mbak, maaf kita bukan mahram jadi saya menolak jabat tangan dengan anda, takut akan menimbulkan dosa, tidak hanya bagi kita tapi juga bagi orang tua kita."
Seketika wajah Laura berubah masam.
'Teman teman di kampus ku saja tak ingin melewatkan kesempatan hanya untuk sekedar bersalaman dengan ku, lha ini. Dasar katrok, jamet.' maki Laura dalam batin.
Pak direktur kembali mengajak bicara, sedangkan Laura terpaksa harus menjadi obat nyamuk.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, terimakasih, semoga usaha nya makin sukses ya mas Reyhan."
Laura menarik nafas lega akhirnya papa nya selesai berceramah.
Sesampainya di mobil, dia segera menghempaskan pantatnya di kursi depan lalu membanting pintunya keras.
"Papa tanggungjawab, karena udah bikin Laura BT."
Pak direktur Atmaja hanya geleng-geleng melihat putri semata wayangnya berulah.
"Pah! Kenapa nyuruh Laura jemput papah? Tadi pagi perasaan papa bawa mobil." protes Laura karena tak kunjung mendapat jawaban dari papanya.
"Papa sengaja nyuruh kamu jemput papa, biar bisa kenal sama Reyhan yang baru saja beli mobil secara cash."
"APA! Laura ngga salah dengar? Bisa kan dia hutang di bank lalu beli mobil di showroom papa, gitu aja dibanggakan."
__ADS_1
"Kamu salah besar, dia beli mobil pakai uang hasil jerih payahnya sendiri. Jadi mulai sekarang papa ingin kamu bisa berteman dengannya."
"WHAT! Papa, jangan becanda. Mana level aku temenan sama mereka."
"Jangan menilai orang dari status sosialnya, atau papa sumpahin kamu jadi istrinya biar tahu rasa."
"APA! PAPAA........"
Laura berteriak keras sekali sehingga pak Atmaja berhenti mendadak.
"Laura! Bisa ngga jangan teriak teriak seperti itu, kita tuh dijalan bukan dihutan." Bentak pak Atmaja, setelah menghembuskan nafas kasar akhirnya mobil melaju lagi dengan kecepatan sedang.
"Lagian papah tuh aneh ya, masak doain anak nya jelek kayak gitu."
"Kok jelek, itu tuh doa baik Laura. Asal kamu tahu ya, Reyhan itu bapaknya sudah meninggal, ibunya buruh pabrik. Tapi Reyhan bisa sukses seperti sekarang atas usahanya sendiri, padahal dia cuma tamat SMA."
"APA! TAMAT SMA!"
"Sudah diam, jangan teriak teriak mulu, bisa tuli telinga papa. Lebih baik mulai sekarang kamu berteman dengannya, belajar segala kebaikan yang ada pada dirinya. Daripada kamu pacaran sama si tengil Choki, bisa habis uang papa diporotin sama dia."
Laura pun langsung terdiam mendengar nama pacarnya di sebut, karena dia tahu kalau papanya tidak menyukainya.
Mobil pun berbelok ke halaman rumah 2 lantai yang terlihat megah.
Laura keluar dari mobil dan membanting pintunya sangat keras.
Karena Laura sudah terlanjur masuk rumah, maka ibu pun segera mendekat ke pak Atmaja untuk bertanya apa yang terjadi.
Pak Atmaja pun mulai menceritakan dari awal hingga akhir, berharap istrinya mau membantunya merubah kelakuan putrinya yang sudah terlewat manja.
_____
Sementara itu di rumah Reyhan.
Setelah tamu pulang, Dinda segera menuju teras diikuti oleh Tiwi yang ingin melihat mobil dari jarak dekat.
"Wah ngga nyangka ya mas Reyhan bisa beli mobil yang baguuus banget." kata Dinda takjub, karena didesa itu belum ada yang memiliki mobil.
Tetangga yang mendengar kasak kusuk soal itu pun juga langsung mendekat.
Sehingga jadilah sore itu halamannya dipenuhi oleh para tetangga yang ingin melihat sekaligus mengucapkan selamat.
Air mata ibu pun menetes, tidak menyangka anaknya akan sukses dimasa mudanya.
Bahkan mobil baru yang dibeli Reyhan melebihi apa yang ada dipikiran ibunya.
__ADS_1
"Yuk bu, cobain mobil ku."
Reyhan menggandeng tangan ibunya dan membuka pintu depan samping kemudi.
Bima dan Bayu juga tak ingin ketinggalan, segera membuka pintu belakang.
"Kak, kita cuma masuk aja atau sambil keliling desa?" celetuk Bima.
"Keliling desa dong." jawab Reyhan sambil tersenyum.
"APA! Kamu kan ngga bisa nyetir Rey?" ibunya terkejut setengah mati.
"Ibu tenang aja, duduk yang anteng ya. Ambil nafas panjang.... lalu hembuskan perlahan."
"Mau naik mobil atau mau nglahirin bayi kak." protes Bayu.
"Bawel." Lalu Reyhan segera memutar kuncinya pelan.
Deru mobil pun mulai terdengar, perlahan lahan Reyhan memutar kemudi dan mobil pun mulai berjalan keluar dari halaman rumah mengelilingi desa, setelah puas baru kembali kerumah.
"Wah, ternyata kak Reyhan jago menyetir juga ya." Bima memuji kakak nya.
"Iya Rey, padahal kita baru punya mobil sekarang lho."
"Diam-diam aku ikut kursus menyetir mobil bu, kadang aku juga yang menyetir mobil temanku kalau perjalanan seminar."
"Oooooo....... pantes udah berasa seperti naik taksi aja, nyaman banget. Kapan kapan aku ajarin dong kak." rengek Bayu.
"Gampang, yang penting ada fee buat aku." sahut Reyhan terkekeh.
"Rey, memang harga mobilnya berapa? Yakin uangnya ngga kurang? Apa sampai pinjam di bank?" ibunya memberondong dengan berbagai pertanyaan ketika masuk ke rumah diikuti keduanya adiknya.
"Alhamdulillah ngga kurang bu, ngga sampai pinjam bank juga kok."
"Harganya?" ibu mengulang pertanyaannya.
"Emm.... seribu masih ada kembaliannya bu."
"Itu harga permen apa harga mobil, yang jelas kalo bicara." ibunya mulai jengah dengan Reyhan yang bertele-tele pun sama dengan keduanya adiknya yang juga penasaran.
"Emm.. 700 bu."
"700? Ngga mungkin kalau mobil bagus harganya cuma 700 ribu."
"Jangan jangan....... 700 juta." tebak Bayu dan Reyhan mengangguk sambil meringis.
__ADS_1
"700 juta!" ulang ibu, Bayu dan Bima bersamaan sambil membulatkan mata.
"It_itu uang apa daun kak?" Bayu gelagapan karena speechless.