Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 102


__ADS_3

Duar!


Festival bau di mulai. Sangat meriah. Ada balon. Ada kembang api yang indah menghiasi langit. Juga pita warna warni yang ikut terbang bersama balon udara yang cantik menghiasi cakrawala biru. Pada bersuka. Pada ingin bau.


Lin Tian dan Jiang Hao menyambut para pengunjung. “Selamat datang di festival bau. Ini adalah hadiah dari festival ini.“


Banyak hadiah. Sebagai penarik hati mereka. Jadi tidak takut rugi. Kalau pengunjung banyak, maka akan semakin populer.


“Silahkan mengenakan masker anti bau. Para wisatawan yang membawa durian diharap menjaga jarak dengan wisatawan lain nya.“


Ada masker ada tabung. Tabungnya gede, lebih besar dari tabung melon.


“Peralatan dengan spesifikasi tertinggi ditambah berbagai item di belakang. Siapa yang dapat menyangka kalau aku berhasil merugi.“ Lin Tian senang. Karena bisa rugi dengan sukses.


Bau segera menyebar ke seluruh area Festival. Untung pada memakai masker. Selain bau hilang, penyakit juga tak masuk.


“Ugh. Festival yang diselenggarakan Lin Tian ini. Ups.. pasti ada keanehan. Ugh…“ ujar pria berambut blonde sembari menahan diri agar tahan. Bagaimana tidak, namanya juga festival bau, tentu saja sangat mencekam. Apalagi baunya bercampur aduk. Mesti sudah bersiap diri kalau ingin berkunjung. Sebab kalau tak melihat juga bakalan kecewa. Ada suatu kemeriahan yang tak disaksikan. Bahkan kalau sepi, mungkin keberadaannya akan segera lenyap beberapa waktu berikutnya.


“Diam-diam masuk kemari, benar-benar kesalahan. Ugh…“ Lanjutnya menyesal. “Harus segera mengambil masker.“


#


Di lain lokasi. Menoleh kanan kiri. Si dua pemuda bermasker.

__ADS_1


“Disini namanya festival bau busuk. Tapi tidak ada durian sama sekali,“ ujar pemuda bermasker dan memakai sweater oranye. Dia sama sekali tak menemukan benda yang dimaksud. Biasanya kan di gantung pada depan warung, di atas dagangan atau tepat di balik kaca. Biar kelihatan. Namun kali ini tak Nampak sama sekali. Ini festival apa.


“Benar, tidak ada durian. Promosi palsu!“ ujar si kaos putih sembari melepas masker, karena sangat tahan dengan bau demikian, serta untuk mendeteksi keberadaan durian yang menggugah selera itu. Kalaupun taka da durian, kenapa di bilang ada. Promosi demikian sangat tak bagus untuk di dengar apalagi sampai mesti di buat tiruan.


“Saudara-saudara, disini bukannya tidak ada durian, tetapi terlalu banyak durian,“ ujar panitia menasehati. Setidaknya supaya si anak muda tersebut tidak asal-asalan. Sehingga bicara yang enggak-enggak. Makanya secara pelan akan di kasih tahu.


Keduanya tercengang. Mulut menganga lebar. Mata melotot mau keluar. Nampak kini duriannya menggunung. Sebuah gunung durian buatan yang terdiri dari durian-durian asli Malaysia. Bayangkan kalau satu puluhan yuan, segunung itu berapa coba. Benar-benar bakat merugi. Hanya demi bisa tanpa bau. Akibat bau-bau itu demikian banyak.


“1 buah durian harganya puluhan yuan, berapa dana yang dia keluarkan. Tapi kenapa aku sama sekali tidak mencium bau durian?“


Hidung sudah rusak.


#


“Ternyata begitu. Lin Tian melakukan semua ini demi itu. Tak disangka dia mulai bergerak se awal ini. Aku harus menghalangi rencananya. Menghalangi festival ini,“ ujar pesaingnya mulai mencurigai ada yang tak beres dengan apa yang dikerjakan Lin Tian. Dia semakin paham. Mesti dilakukan pencegahan agar segala itu tidak menjadi semakin popular bahkan jangan sampai untung.


“Oh ya,” dia langsung mendapat ide. Cemerlang. Semua demi sebuah pertarungan yang menentukan. Sehingga dia bisa mengalahkan si Lin Tian ini dengan gemilang.


“Halo ini biro meteorologi?” ujarnya menelepon biro. Ada sesuatu yang telah dipikirkannya, serta langsung dikerjakan, agar bisa sukses.


“Utus orang untuk membuat hujan untukku. Semakin besar semakin bagus. Berapapun tidak apa-apa. Cepat buatkan untukku,“ katanya lagi mendesak, bicara kasar, membentak-bentak, agar semuanya dilakukan dengan segera. Dan segala yang tengah dia pikirkan langsung sukses. Sebab kalau tidak, maka bakalan seperti yang sudah-sudah, si Lin Tian yang sulit dikalahkan itu bakalan tahu serta mengambil langkah untuk menghadang apa yang dia tengah lakukan guna menyerang orang tersebut.


“Jurus se jitu ini, pasti tidak ada orang lain yang memikirkannya,“ gumamnya lagi seraya menutup telepon. Kali ini pasti berhasil membuat Lin Tian rugi. Benar-benar jurus yang sangat ampuh. Tentu bisa membuat musuh kalah tanpa terdeteksi. Dan inilah harapannya. Menang namun lawan tak menyadari apa yang sudah dia lakukan. Dia yakin, dan jurus mengerikan tersebut hanya dia yang tahu. Lin Tian sebentar lagi pasti bakalan rugi besar.

__ADS_1


“Lagi-lagi ada orang yang mau membayar untuk membuat hujan. Untung tidak berlebihan seperti waktu itu, Lin Tian meminta kita membuat hujan salju,“ ujar orang biro keheranan dengan keinginan banyak orang yang aneh-aneh walau sedikit ada pekerjaan dan penghasilan tambahan untuknya.


“Anak muda jaman sekarang semuanya sedang dipaksa untuk menghamburkan uang atau bagaimana,“ kata Bos Botak itu lagi.


#


Semua makan durian.


“Aku kenyang sekali. Kenyang sekali,“ ujar wisatawan senang. Sembari mengelus-elus perut gendutnya akibat banyak makan durian yang sangat lezat serta sangat bau. Dia tak perduli jika hal ini menimbulkan beberapa masalah kesehatan nanti. Yang penting durian dua puluh yuan itu bisa masuk setidaknya dua atau tiga buah.


“Tak diduga benar-benar makan gratis semaunya. Apa dia tidak rugi?“ ujar yang lain. Masih terus makan. Bayangkan untuk menikmati rasa buah mahal itu tak bisa setiap hari. Karena demikian menguras kantong. Makanya terkadang hanya meminum es rasa itu demi mengobati kangen pada si buah. Dan bisa menyantap meski sedikit. Atau kalau bukan hanya makan biscuit rasa demikian. Itu semua akibat mahalnya buah nikmat tadi.


“Benar semakin banyak makan. Bos semakin rugi besar.“


“Ini baru wisatawan yang baik. Cepat buat aku rugi lebih banyak lagi,“ ujar Lin Tian sangat senang menyaksikan semua itu. Para wisatawan makan buah bau. Sehingga akan banyak menguras hartanya. Dan durian itu segera habis. Nanti hitung-hitungan dengan sistem akan segera sukses.


“Cepat datangkan 3 truk durian lagi. Jangan biarkan wisatawan kelaparan,“ ujarnya lagi untuk bisa terus berbagi dengan sesama. Makanya tidak perduli dengan dana. Asalkan ada kesempatan, maka semua mesti bisa makan dengan kenyang. Dan berapapun jumlah buah tak menjadi soal baginya.


Tap.


“Gawat hujan. Acara selanjutnya yang bermodal lebih besar belum dimulai.“


Lin Tian bingung.

__ADS_1


__ADS_2