Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 76


__ADS_3

“Benar. Kami ingin bergabung dengan kalian,“ kata Lin Tian. Yang mencoba merambah ke dunia yang dimiliki kelompok tujuh Xiong ini. Siapa tahu berjodoh. Dan bisa membuat sama-sama untung nantinya.


“Boleh saja,“ ujar Xiong Er.


Lin Tian diam.


“Apa kalian semudah itu menerima orang?“ tanya Lin Tian keheranan. Tidak biasanya emang. Beberapa kasus akan saling menyelidiki dahulu. Tentang minat. Kemampuan serta kesungguhan dari sang tamu yang akan berbisnis dengan mereka. Sehingga tidak merugikan salah satu pihak. Jangan-jangan nanti hanya akan berbuat tak benar. Lalu menjadikan satu pihak jadi tak menentu.


“Kalian bahkan sudah memberikan begitu banyak uang, untuk apa aku mempertimbangkan lagi?“ ujar Xiong Er tanpa ragu lagi. Baginya, untuk apa lagi berbisnis kalau bukan demi uang. Sebab dengan membawa uang sebanyak itu, sudah cukup untuk membeli perkebunan yang sangat luas. Dan itu bisa mengembangkan usaha mereka. Untuk kemudian jadi lebih hebat lagi.


“Tadi aku sampai sudah mempersiapkan diri kalau kamu tidak menerimaku, maka aku akan bertarung dengan kalian,“ kata Lin Tian semakin heran. Biasanya demikian. Mesti menolak dahulu, lalu dipaksa dan setelah jagoan menang baik dengan jurus maut atau hanya dengan taktik perkelahian yang sangat ulet, menjadikan mereka akhirnya bisa saling menumbangkan. Barulah kemudian bisa saling menerima dengan keyakinan kalau musuh jauh lebih kuat dan pantas melanjutkan usaha bisnis mereka.


“Sepertinya kamu buta ilmu bela diri juga ya?“ ucap Er.


“Aturannya tidak semudah itu. Kita harus bertarung sebelum berkunjung,“ ujar Cao. Tak terima hanya damai-damai saja. Lalu apa gunanya punya wajah cantik kalau tak menempeleng orang dulu dalam berbisnis. Itu barangkali pemikiran sadisnya.


“Bertarung itu tidak baik. Kami keluarga Xiong, sangat berbudaya dan memiliki gaya baru,“ ujar Xiong Er. Seakan pasrah saja pada para tamu yang dianggapnya sangat jago-jago berkelahi.


“Tapi tetap saja, kita adalah bandit dunia hitam,“ ujar Cao bersikeras. Dia sampai menggebrak meja karena menahan amarah.


“Daun… dunia hitam, jangan menakutkan,“ kata Xiong Er ketakutan. Keringat dingin mengucur. “Itu karena dulu kita sangat miskin. Sekarang sudah tidak sama lagi.“

__ADS_1


Xiong Er membuka buku. Tulisannya, “Unit lanjutan untuk pengentasan kemiskinan target.”


“E…“


Lin Tian dan Cao semakin menggeram.


“Tapi tuan muda Xiong ke tujuh…“ ujar Lin Tian.


“Maksudmu si bodoh itu ya. Dia dan adik keenam sudah lama tidak berhubungan dengan kami lagi,“ jelas Xiong Er. Sehingga ada sedikit perbedaan prinsip dalam memperlakukan tamu yang dating. Mereka barangkali suka dengan kekerasan. Sehingga siapa saja yang masuk ke rumah mereka bakalan di hadapi dulu dengan kemampuan ilmu bela diri. Tapi tidak dengan tuan er kedua ini. Dia akan lebih mengedepankan urusan bisnis. Dimana akhirnya bisa saling menguntungkan daripada hanya adu jotos dan kemampuan yang tak ada habisnya, namun hanya menyisakan rasa sakit dalam tubuh mereka masing-masing, bahkan lebih lama lagi akan saling mendendam untuk waktu yang


“Kalau begitu uang ini….“ ujar Lin Tian seakan uang itu akan diambil lagi daripada tak ada masalah lagi.


“Daripada banyak bertanya lebih baik langsung melihat. Ikuti aku.“


“Ini adalah….“


Lin Tian kagum pada apa yang kali ini ada di penglihatannya.


“Pohon coklat!“


Xiong Er memperlihatkan pohon coklat. Pohon buah yang sangat bagus untuk dibuat berbagai varian makanan yang sangat laku keras. Walau saat menjadi buah rasanya tak enak, namun setelah di seduh untuk minuman, atau kala di makan menjadi snack dengan bentuk padat sebuah benda, rasanya sungguh-sungguh nikmat. Dan harganya juga tak murah. Malah kalau dikasih isian yang menggugah selera, akan semakin melambung rasanya. Itulah coklat. Yang akhirnya membuat warna yang sesuai dengan tumbuhan itu diberi nama seperti itu. Memang suatu warna baru yang berbeda dengan warna primer akan diberi nama sesuai dengan warna benda yang sama. Coklat karena ada tumbuhan chocolate, orange karena ada nama buah orange, magenta akibat warnanya seperti itu. Mungkin hanya warna primer yang memang sudah ada semenjak dahulu.

__ADS_1


“Mereka indah sekali. Begitu tahu ada orang yang ingin berinventasi aku senang sekali.“ Xiong Er gembira. “Lebih baik datang di saat dibutuhkan, daripada datang lebih awal.“


“Tanda tangan disini,“ ujar Xiong Er menunjukkan perjanjian investasi PT Coklat Keluarga Xiong.


“Apa kalian begitu terburu- buru?“ ujar Lin Tian. Yang semula masih ingin melihat-lihat. Memang itu tujuan awal ingin berbisnis. Namun tak semudah itu. Makanya dia membawa banyak uang. Agar urusan menjadi semakin lancer. Tapi juga tak semudah ini mestinya, karena akan semakin kentara kalau urusan ini demikian mudah. Dan kalau urusan mudah, maka hasil yang didapat juga sedikit kurang memuaskan. Itu barangkali yang terpikirkan oleh si anak muda yang ahli dengan banyak akal namun kali ini agak kebingungan.


“Jujur saja. Kalau bukan kamu, kita nyaris dibeli orang.“


“Menghamburkan begitu banyak uang untuk membeli kebun coklat terpencil, orang kaya mana yang sememboroskan itu?“ kata Lin Tian.


“Walaupun terpencil tapi coklat kami adalah yang paling baik di kota,“ ujar Xiong Er sembari menggeleng gelengkan kepala. Dia masih terlampau yakin jika buah dari perkebunan itu tetap paling baik dari apa yang dihasilkan tumbuhan berjenis sama dengan pengelolaan yang berbeda, serta tanaman yang kurang sesuai dengan kondisi lingkungan yang tentu saja tidak cocok mengenai tanah serta suhu pegunungan nya. Dan disini merupakan yang paling tepat untuk tumbuh kembang dari biji coklat yang menjadikannya sangat berkualitas itu. Sebab, beda lokasi dan ketinggian dari penanaman tersebut akan membuat hasilnya juga berbeda. Berbeda hasil panen, maka pengelolaan serta hasil dari produk yang didapat akan berbeda juga. Inilah yang membuat mereka yakin, jika coklat mereka merupakan yang paling bagus. Tidak dengan hasil kebun orang lain, apalagi yang berbeda lokasi dengan apa yang ada disini.


“Mereka membeli tapi tidak mengembangkan coklat keluarga xiong. Tapi malah ingin menghancurkan kita. Dengan cara ini mereka dapat menempati pasar dengan bahan baku murah mereka sendiri. Aku tidak rela coklat seindah ini hilang begitu saja. “


“Kenapa aku merasa dia menakutkan?“ ujar Lin Tian dan Cao merasa ngeri.


“Sudahlah karena kamu sangat menyukai coklat ini aku akan berinvestasi,“ kata Lin Tian iba.


“Ubah target dan hancurkan perusahaan besar yang mengakuisisi kalian. Apa nama perusahaan besar itu?“ tanya Lin Tian.


“Namanya perusahaan makanan Xiao Xiaosu,“ terang Xiong Er.

__ADS_1


Lin Tian melongo. “Xiao Xiaosu. Bukankah itu adalah perusahaan keluarga Su Xueqing?“


__ADS_2