
Pekan olah raga rumah kucing Tianlin.
Uhuk uhuk.
“Sekarang kami sudah mengumpulkan banyak pelayan kucing,“ ujar Lin Tian. “Kalian akan menjadi pelayan kucing yang handal di bawah pimpinan Tuan Li. Lokasi pemeliharaan berada di gunung belakang rumah ayah ibuku. Luasnya beberapa hektar.“
“Coba dengar apa ini bahasa manusia?“
“Bahkan, gunung juga milik orang lain.“
“Lin Tian apa mainan untuk kucing. “
“Ini aku sudah menyediakan nya sejak awal.“
Gung ....
Terdengar suara mesin. Drone terbang. Mengitari seputar rumah yang tengah mereka pakai untuk membicarakan kucing yang manis.
Kucing gendut mengejar drone.
__ADS_1
“Aku sudah membeli banyak drone. Kita akan mengikatkan tali untuk menghibur kucing. Selain itu, juga bisa memutar berbagai macam video pendidikan kucing. “
“Lihat deh, masuk akal kah memakai drone untuk menghibur kucing. Kita bahkan menyentuhnya pun belum pernah. “
“Beberapa hari ini aku melihat siaran langsung Tian Feifei. Kucingnya seperti kurang makan makanan kucing. Kita tidak boleh membiarkan hal yang tidak sehat seperti ini terulang lagi. Jadi aku sudah mengundang profesor hewan paling handal di negeri ini. Untuk menjadi dokter kucing kita,“ jelas Lin Tian yang sampai detil tentang bagaimana memelihara kucing agar tetap sehat serta berkualitas. Jadi kucing terus menjadi hal yang bagus. Baik bentuk maupun kondisi nya. Sehingga nilainya pun bakalan melambung seiring biaya perawatan yang demikian besar sampai harus merugi.
“Apa perlu sampai berlebihan seperti ini?“ Karena memang kebanyakan memelihara binatang simpel saja. Asal tak sakit sudah cukup. Dia di biarkan berkeliaran bebas di pekarangan. Naik turun atap rumah. Serta mengejar-ngejar tikus. Hingga akhirnya menjadi binatang yang sesuai kodratnya. Tanpa perlu berusaha supaya dia menjadi manusia seperti para perawatnya yang demikian handal serta berapa lama dia menghabiskan waktu demi mempelajari hal yang demikian saja.
“Selain itu aku juga mengundang koki Michelin bintang 3 untuk membuat makanan kucing. Bahan-bahannya juga adalah bahan-bahan yang di impor dari berbagai belahan dunia,“ kata Lin Tian. Benar-benar suatu pemborosan yang sudah pasti bakalan menghisap dana perusahaan. Karena dengan demikian tentu hitung hitungannya nanti sudah terlihat dengan jelas. Dan sistem tak bakalan lagi menolak hal yang sepele ini.
“Dunia tidak adil. Manusia tidak sebanding dengan kucing,“ kata yang lain yang beranggapan kalau itu berlebihan hanya demi satu ekor binatang manis saja. Tak perlu seperti itu kelihatannya. Yang mestinya bisa di sumbangkan untuk kegiatan manusia. Misalkan berolahraga dalam suatu turnamen. Keliling kota mengadakan festival. Atau balap karung. Tentunya akan banyak yang memanfaatkan dana perusahaan itu, dan bukan untuk binatang saja.
“Biaya apa lagi yang perlu dikeluarkan? Aku Lin Tian... tidak perusahaan ku, yang akan menanggung nya,“ ujar Lin Tian. Meskipun dia mengelola perusahaan tapi nampaknya untuk hal ini patut di bedakan antara perusahaan yang hubungannya dengan sistem. Serta dirinya yang kali ini bergantung dari kerugian yang di peroleh.
“Kamu bilang memelihara kucing kan, mana kucingnya?“ tanya Li. Semenjak awal memang belum terlihat binatang yang di maksud.
“Tidak mungkin... Tidak mungkin ada orang yang membuka perusahaan pemeliharaan kucing tapi tidak memiliki kucing kan?“ ujar orang-orang disitu yang langsung menoleh kesana kemari mencari kucing istimewa yang di maksud. Benar juga mereka sudah di bayar mahal. Namun pekerjaan tak kunjung ada, tentunya tanpa binatang yang sejak semula mereka bicarakan dan sudah banyak digelontorkan dana perusahaan.
“Para hadirin pamit dulu....“ kata Lin tian bergerak cepat. Untung orang nya tidak maluan, jadi saat mengetahui kalau orang-orang tengah membicarakan satu kekurangan itu, dia bisa dengan leluasa berpaling muka untuk membenahi kekurangannya tadi.
__ADS_1
‘Aku hanya memikirkan bagaimana caranya menghamburkan uang tapi belum mencari kucing,’ ujar Lin Tian sembari bergerak cepat agar tujuan nya terwujud. Kucing liar mesti di cari. Atau kalau perlu beli. Kan banyak di tempat penjualan hewan piaraan. Yang terkadang banyak di dapat binatang manis itu. Kalau bukan itu di sosmed juga sering di tawarkan. Tidak hanya kucing, tikus, kelinci, iguana juga selalu menjadi rebutan para penggemarnya. Mereka ini tak segan-segan mengeluarkan dana besar hanya untuk mendapatkan binatang manis itu. Yang berikutnya akan di pelihara serta menjadi tontonan mengasikkan di kala tengah sendiri.
“Halo... Ini Qian Duomei dan Qian Duohao? Cepat gerakkan semua orang, suruh mereka pergi ke tempat penyelamatan hewan kecil, beli semua kucing yang ada,“ ujar Lin Tian pada kembar Qian yang masih sedikit bingung dalam mengatasi kesulitan mencari kucing. Setiap kucing sama. Kebanyakan lucu dan menggemaskan. Harganya yang bisa beda. Ini bisa saja karena kelangkaannya, atau karena memang sangat khusus. Dalam artian walaupun ras nya banyak tapi karena begitu bagus membuat harganya ikut melambung. Semua memang tergantung selera. Dan ini yang membuat segala hal tersebut bisa berubah banyak.
“Beli? Langsung adopsi saja tidak perlu membelinya bisa juga kan?“ ujar Qian yang kelihatannya sayang kalau harus mengeluarkan uang banak-banyak hanya demi kucing semata. Karena banyak juga kucing-kucing liar yang dibuang pemiliknya akibat rusuh. Bikin banyak kekacauan serta semakin cepat pertumbuhannya melebihi anggota pemilik rumah. Makanya tak jarang mereka di taruh sembarangan di sawah-sawah, atau pekarangan supaya mereka mencari sendiri makanan yang berupa binatang liar lainnya, seperti tikus, atau kodok hijau yang menyehatkan. Di sawah dan lahan kosong kan banyak makanan seperti itu.
“Berani, untuk apa menghamburkan uang.“
“Apanya yang menghamburkan uang?“ Kayaknya hal demikian tak usah di katakan kalau hanya sia-sia. Semua sudah terpikirkan. Untuk berbagai kegiatan yang bisa sedikit mengeluarkan dana, namun kira-kira nantinya lebih banyak pemasukan yang akan di dapat dari hitung-hitungan akhir. Ini semua memang berhubungan dengan hal itu. Sebab kalau tidak bagaimana dia mendapat pemasukan.
“Orang lain sudah susah payah menyelamatkan mereka dan memeliharanya, mana bisa kita mengambilnya begitu saja.“
“Membuat orang baik terbalas budinya itu adalah visi bisnis Lin Tian.“
“Ternyata begitu, sepertinya aku terlalu polos.“ Sembari mengangguk-angguk dia mulai paham dengan penjelasan temannya akan usaha besar yang dilakukan demi kemanusiaan dan rasa simpati pada sesama. Sehingga tak perduli seberapapun pengeluaran yang dilakukan.
“Bos Lin Tian adalah orang baik, tidak seharusnya kita berpikir sembarangan,“ ujar Qian yang baru paham kalau bos mereka demikian memikirkan nasib binatang manis tersebut. Sehingga segala sesuatu di pikirkan secara detail. Sampai segala sesuatu akhirnya berjalan dengan baik dan lancar.
“Malu aku.“
__ADS_1
“Demi merugi aku bahkan tidak punya malu lagi,“ ujar Lin Tian malu-malu.