Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 237


__ADS_3

Kamu anda


Raja dunia


Hari ini buka


Dari took Kamu Muda Lin Tian di beri kaos sport yang sangat keren.


Dengan celana belel yang demikian mengikuti mode. Dimana bahannya sangat mahal dan berkelas.


Juga rambut gimbal yang membuat tampilan beda.


“Bagus juga, kamu terlihat tampan. Hanya saja sedikit…“ ujar Xiao Li mengagumi rancangannya pada Direktur Lin yang menjadi model dadakan itu.


“Apa-apaan dengan sandal itu!“ ujarnya kaget saat melihat sandal yang di pakai oleh Lin Tian. Bukankah segala pakaian sudah di buat sedemikian rupa mengikuti mode terkini yang sangat di gemari dengan kawula muda milenial yang pantas ke mana-mana.


“Ini adalah gaya Guangdong,“ ujar Lin tian tetap bangga dengan sandal keren yang selalu menemaninya kemanapun, meski pakaiannya sangat elit, tetap saja dia merasa enjoy jika berhubungan dengan alas kaki demikian.


“Apa ini?“ ujar Lin Tian sembari memelintir rambutnya yang terkesan aneh. Keriting dan awut-awutan, rasanya.

__ADS_1


“Ini adalah yang paling populer saat ini. Rambut gimbal,“ jelas Xiao Li sangat menggemari rambut yang dia buat.


“Mana mungkin rambut begini popular!“ ujar Lin Tian tak suka.


“Kita memiliki seorang karyawan yang memiliki rambut gimbal juga, dia terlihat sangat tampan. Aku akan memanggil dia untukmu,“ ujarnya menoleh kesana kemari demi menemukan tokoh itu.


“David, apa yang sedang kamu lakukan di sini?“ tanya Xiao li setelah menemukan anak yang dicari tersebut. “Cepat, cepat, cepat! Kemarilah. Tunjukkan rambutmu pada yang lain,“ ujarnya lagi.


Namun lehernya memanjang. Bajunya melebar. Itu hanya boneka. Dan kala di pegang langsung membuat terlepas semuanya hingga menghampar di lantai. Dan itu belum seberapa jika di bandingkan dengan rasa kecewa oleh si pembuat yang begitu mengagumi buatannya tersebut.


Membuat Xiaoli terpana. Sedih dan bengong. Pakaian yang dia banggakan itu menghampar di lantai seiring dengan lepasnya dari ikatan kepala yang berujung dengan rambut gimbal itu.


Demi melihat demikian, Lin Tian langsung marah.


“Bagus sekali kau Xiao Li, beraninya kamu meletakkan kain pel di kepalaku!“ Seraya membanting wig yang sangat gimbal itu. Dia tak menyukai kepalanya di lapisi dengan bahan yang awut-awutan. Dan lebih nyaman dengan rambut lurus walau awut-awutan juga. Akan tetapi sudah menjadi kebiasaan. Jadi terasa enak saja. Tidak seperti sekarang yang merasa seperti kain pel yang lengket, juga tidak terbiasa dengan gaya itu. Sehingga membuat seakan kain pel yang sudah lusuh saja kala berjalan. Makanya dia mesti membanting dengan kuat. Itu mungkin belum seberapa jika di tambah dengan di pijak dan di injak-injak sampai hancur. Mungkin karena merasa saying akibat berada di depan pembuatnya jadi tak enak, makanya hanya melakukan demikian saja.


“Puh!“ Zhao sampai terpingkal-pingkal melihat kelakuan Lin Tian. Dia sudah menyangka kalau anak itu tak bakalan suka dengan gaya terbaru yang lagi popular di dunia mode itu.


“Dan baju ini berapa harganya?“ tanya Lin Tian.

__ADS_1


“Ini adalah gaya yang dirancang oleh gabungan desainer. Harga spesial di hari pembukaan 900 yuan saja,“ jelas Xiao Li. Demikian murah untuk baju yang penuh dengan rancangan spektakuler. Sehingga para pemakainya akan merasa nyaman dalam bertindak maupun kala memainkan berbagai peran di lingkungannya yang penuh pergaulan itu. Sehingga membuat hati senang walau tak punya uang. Tetapi harga bahan yang mahal tersebut menambah rasa bangga juga.


“Aku kembalikan, sampai jumpa,“ Lin Tian melepasnya, untuk kemudian di lempar secara semena-mena. Kaos spring itu meluncur dengan deras ke arah pembuatnya. Yang tak menyangka pakaian yang demikian mengikuti mode demikian tidak membuat Lin Tian sangat suka.


“Huh, baju ber-merk mahal yang dulu aku pesan saja, selain mementingkan desain. Ini kaos 20 yuan dicetak dengan dua huruf, langsung menjadi 900 yuan?“ ujar Lin Tian sembari mengganti bajunya yang lama dan masih sangat enak untuk dikenakan. Serta menjadi identitas yang sudah berjalan tanpa perlu mengenakan pakaian lain yang sangat mahal tetapi dalam rasa dia tak menyukainya. Makanya lebih indah kalau dia mengenakan yang demikian saja. Itu sudah sangat nikmat.


“Aih! Tidak bisa dibilang seperti itu. Ini disebut nilai tambah merek,“ jelas Xiao Li masih berusaha mempertahankan pendapatnya. Menurut dia segala sesuatu yang mengikuti mode adalah yang terbaik. Dan sedikit membedakan dengan gaya tempo dulu yang sudah berjalan terlampau lama. Serta sangat nyaman di kenakan dalam kondisi yang santai.


“Menurutku itu adalah pengurangan nilai merek,“ kata Lin Tian yang sangat menyukai pakaian murah meriah namun nyaman di kenakan seperti yang biasa dia pakai itu. Sehingga sudah terlalu enggan untuk berganti posisi serta lebih enak demikian saja.


“Lin Tian, bukankah kamu paling menyukai barang yang mahal dan sederhana seperti ini?“


“Kalau menggunakan otak untuk merancang dan menggunakan hati untuk membuatnya, tentu saja aku rela merugi, bukan rela mengeluarkan uang. Tapi mengambil keuntungan dengan cara picik seperti ini, bukankah itu semudah memotong kucai. Apanya yang merek terkenal, ini jelas-jelas sembarangan. Aku, Lin Tian, hanya perlu rapi dan bersih. Dan aku sudah menjadi yang paling tampan di jalanan,“ ujar Lin Tian sembari bergaya dan membayangkan kalau di seputar nya penuh dengan bunga-bunga yang sangat menawan sebagai bingkai akibat kerapiannya yang menakjubkan itu.


“Lin Tian sandalmu putus,“ kata Zhou Weiwei sembari menunjuk ke kaki Lin Tian yang saking asiknya mengenakan kaos kebanggaan sampai tak memperhatikan hal mendasar begitu.


Dilihatnya sandal itu. Sandal yang penuh kenangan. Dan sudah seringkali bersama tuannya ini malang melintang di dunia persilatan. Namun kini harus putus. Mungkin akan menjadi pertanda tak baik yang akan dia rasakan berikutnya. Saying sekali sandal yang begitu melegenda, harus putus talinya. Padahal alasnya masih bagus dan patut di sayangkan kalau mesti di buang ke tempat sampah. Hal ini tentunya mesti ada pembelaan supaya tak serta merta terbuang, dan harus di sol serta lem yang kuat.


“Ah, sandal mewah 15 yuan ku,“ Lin Tian sedih.

__ADS_1


“Arg, Sandal, kamu meninggal dengan cara mengenaskan,“ kembali Lin Tian mengeluh akan miliknya yang sangat dia banggakan. Dengan sandal sederhana ini dia merasa sangat nyaman dan tidak gerah akibat terlibat dengan segala yang resmi. Namun kenyataannya harus kehilangan. Dan itu membuatnya sampai berteriak-teriak histeris akan segala sesuatu yang membuat dia harus nyeker hingga perjalanan pulang yang penuh dengan onak duri tajam.


__ADS_2