
Di tengah kota, diantara sela-sela gedung tinggi pencakar langit, anak-anak muda milenial pada asik jalan-jalan dengan santainya.
“Huh… Sudah susah-susah mendapatkan cuti, malah disuruh bekerja lagi,“ ujar Zhou Weiwei. Tentu saja sangat mangkel menghadapi kenyataan demikian. Kalau bukan teman, dia tak akan mau berkorban, bahkan tak akan mengatakan hal-hal yang indah yang bisa dia lakukan kala itu. “Malah kamu yang santai!“
“Nyonya jangan kuat-kuat,“ ujar Lin Tian kesakitan kala jaketnya di cubit dengan paksa. “Jelas-jelas aku yang menemani kamu jalan-jalan.“
“Kamu menyuruhku mendesain pakaian. Kalau aku tidak belajar, bagaimana caraku bekerja untukmu. Sebal!“ ujar Zhou Weiwei yang tengah sebal serta berusaha mencari segala sesuatu yang berhubungan dengan desain suatu pakaian yang tengah modis dan mesti mencari rekan-rekannya yang paling tidak tahu akan pakaian yang mesti di kenakan kala pertunjukan, juga mesti mengisi potensi besar yang ada di dirinya, sehingga bisa menjadikannya sebagai suatu hal yang sangat bernilai dalam perjalanan hidup itu.
“Ekspresi dan kata-katamu bertolak belakang,“ kata Lin Tian.
Mereka terus jalan-jalan sembari melihat-lihat bahan yang tersedia di toko sepanjang perjalanan di kota itu.
“Tidak bisa, bahan ini tidak bagus,” ujar Zhou Weiwei mengomentari kain bahan yang kali ini tengah dia lihat. Nampaknya memang ada yang kurang dengan kain di tangannya itu. Mesti ada yang sangat sesuai serta pantas di gunakan nantinya pada sebuah pertunjukan yang hubungannya dengan legenda tersebut. Kalau kainnya asal-asalan, maka selain tak nyaman di pakai, bisa-bisa menjadi sebuah masalah kala pertunjukan berlangsung. Itu ang mesti di hindari. Sebagai seorang professional dengan nilai potensi yang sangat tinggi, hal demikian tentu sudah bukan barang baru untuk memberi penilaian. “Tidak bisa, desainnya biasa saja. Bahan dan desainnya bagus, tapi tidak ada hubungannya dengan opera.“
Kemudian Zhou melihat-lihat bahan lainnya, serta warna yang ada dan berbagai potensi yang berhubungan dengan banyak hal yang berkaitan dengan pertunjukan opera klasik tersebut.
“Orang ini, walaupun jalannya pelan, tapi cepat juga,“ ujar Lin Tian keheranan dengan polisi Zhou Weiwei yang sangat cekatan dalam memilih bahan serta menilai apa saja yang pantas untuk di kata-kata-in.
__ADS_1
“Cepat kemari!“ ujar Zhou. Nampaknya dia tengah menemukan sesuatu sehingga mengajak Lin Tian untuk buru-buru masuk ke suatu toko yang tengah mengadakan pertunjukan heboh.
#
Lin Tian mengikutinya serta langsung melihat-lihat dalam toko tersebut yang sangat menarik dengan banyak orang yang tengah berada di dalamnya.
“Banyak sekali orang-orang di toko ini. Apa ada sale. Heh, aku harus beli beberapa,“ ujar Lin Tian ikut antusias kala melihat banyak orang tersebut dan berharap banyak diskon yang ditawarkan sehingga dia nanti akan bisa mendapatkan barang bagus dengan harga yang sangat murah. Jadi kala memakainya juga akan lebih punya kekuatan moral untuk memamerkannya terhadap orang-orang yang paham akan barang bagus.
Zhou hanya bisa kebingungan dengan sikap Lin Tian, si orang kaya, tetapi tetap saja menyukai barang murahan yang di jual secara obral begitu.
“”Kamu Anda’, raja dunia hari ini buka,“ kata Zhou. “Mereka sedang mengadakan pembukaan toko. Lihat ini adalah merk yang sudah lama aku tunggu,“ tunjuk Zhou akan barang-barang yang sudah lama dia incar. Tentang sebuah benda bagus dengan harga murah yang disajikan dengan nilai yang turun drastis, supaya lekas laku serta bisa mengagumi barang yang sudah di beli. Sehingga nanti kalau sangat cocok, maka untuk selanjutnya harga mahal tak menjadi soal jika menyukai benda yang memang menjadi kegemarannya itu.
“Wow.. kakak, kamu tampan sekali,“ ujar para milenial yang histeris begitu mendengar suara penyanyinya sekaligus melihat tampang yang menjual itu. Sebab sebagai penyanyi sekarang, bukan saja suara yang menjadi nilai jual, tetapi tampang juga berperan. Dalam artian, suara yang bagus adalah karunia, dengan tampang keren menjadi nilai lebih dalam mempopulerkan suara istimewa itu.
“Argh… kakak, aku mau mati.“
Mendengar komentar yang aneh-aneh oleh para fans itu membuat si penyanyi semakin lantang dalam mengeluarkan suara vocal nya. Dan terus mengeluarkan suara yang mendayu-dayu agar semua pada suka hati, melewatkan hari yang penuh tantangan kali ini, dengan penuh kegembiraan, hingga terlupakan segala keresahan itu, dan berganti dengan rasa senang karena hiburan yang demikian menarik.
__ADS_1
Selain suara juga goyangan dan postur tubuh si penyanyi yang semakin memikat hati sampai ingin mati yang dirasakan oleh para pengagum tersebut. Sehingga si penyanyi dapat memperoleh lemparan barang-barang saweran yang sangat beragam dan nilai nya sangat tinggi.
Malahan yang lain lebih histeris lagi.
“Kya kakak…“
Begitu hebohnya pertunjukan kala itu. Yang menyeret orang-orang untuk terus melihatnya walau dengan berbagai rintangan dan halangan yang begitu berat. Misalkan jarak yang jauh, biaya yang mahal, karena pada suka, membuat mereka tak segan-segan mengeluarkan dana yang besar guna mendapatkannya.
“Eh, kenapa dia di sana?“ ujar Zhou keheranan. “Hei Xiao Li.“
“Eh kak Zhou,“ ujar Zhou Li.
“Ini adalah Xiao Li teman SMP ku. Ini adalah Lin Tian temanku,“ ujar Zhou memperkenalkan dua orang sahabatnya terhadap sahabatnya yang lain.
“Kak Lin Tian, dandananmu cukup unik,“ ujar Xiao Li. Saat berkenalan serta mengamati apa yang dikenakan pemuda itu.
“Tidak, tidak, singlet putihku yang mendunia, belum aku pakai lo,“ jelas Lin Tian. Sedikit malu juga dia di komentari demikian sama anak kemarin sore, makanya dia mesti menunjukkan kalau hal yang lebih bagus masih dia miliki di rumahnya sana yang sangat megah.
__ADS_1
“Xiao Li apa kamu kru di sini?“ tanya Zhou.
“Hehe, bisa dibilang begitu. Toko ‘Kamu Anda’ ini adalah tokoku. Silahkan masuk. Aku akan membawa kalian masuk duluan untuk melihat-lihat. Kak Lin Tian, aku akan memilihkan pakaian yang bagus untukmu,“ ujar Xiao Li yang sangat paham akan mode serta desain cantik yang sangat pantas untuk anak setampan Lin Tian. Anak ini selain mempunyai toko yang sangat terkenal, juga mempunyai nilai potensi yang tinggi, makanya hanya dengan memandang postur dari seseorang, dia sudah bisa menentukan seberapa pantas pakaian yang mesti di pakai oleh seseorang agar nampak lebih keren dan mengikuti mode yang tengah digemari saat itu.