Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 163


__ADS_3

Di kota yang ramai dengan gedung kantor Tianlin yang penuh kaca menjulang di tengahnya, Nampak Lin Tian tengah berdiskusi dengan Niu Anni. Mereka tengah duduk berdua di bawah payung biru nan teduh. Dengan pepohonan hiasan yang mengitari gazebo itu.


“Pemandangan di sini indah sekali. Sayangnya membuat rambutku yang baru di buat oleh penata rambut nomor satu Asia kemarin lusa, berantakan,“ ujar nya sembari menata rambut merah yang panjang itu semakin tertiup angin saja.


“Sisir saja, agar rapi kembali, apanya yang disayangkan,“ ujar Lin Tian sembari menyeruput minuman segar nya dalam gelas besar dan menyerahkan sisir rambut milik nya.


‘Gawat, aku lupa kalau Lin Tian adalah ahli berbakat itu,’ gumam Niu Anni yang merasa tak berbakat.


“Namamu Niu Anni, untuk apa Alimama berkunjung ke perusahaan Tianlin?“ tanya Lin Tian. “Pertama-tama aku katakan dulu, kalau hal yang bisa mendapatkan untung, Aku tidak akan melakukan nya.“


“Em… panggil aku Anni saja,“ ujar Niu Anni supaya terkesan akrab dengan panggilan sederhana itu.


“Baiklah Xio Niu,“ ujar Lin Tian menurut.


Lanjut Niu Anni, “Kedatangan ku kali ini adalah untuk membicarakan keinginan kerjasama antara Alimama dan Tianlin. Entah bagaimana pendapatmu.“


Lin Tian langsung berpikir tentang keuntungan yang bisa saja sangat besar jika menyetujui nya. Itulah makanya otak nya langsung memperingatkan agar berhati-hati. Bahkan kalau perlu mesti ada garis pembatas supaya steril dari ancaman. ‘Kerjasama dengan Alimama? Kenapa… Apa yang membuat ku di lirik bos besar?“


“Aku menolak,“ kata Lin Tian setelah di pikir-pikir bakalan memperoleh untung besar nanti nya.


“Bagus sekali, kesempatan ini sangat sulit di dapatkan, maka mari kita membicarakan lebih lanjut proyek kerja sama ini,“ ujar Niu Anni sembari mengeluarkan setumpuk berkas. “Apa katamu?“ Namun dia segera sadar. Ada yang keliru dengan pemahaman nya tadi.


“Aku menolak nya. Aku sudah bilang, aku tidak akan melakukan apapun yang bisa menghasilkan uang,“ ujar Lin Tian ingin jujur dengan urusan sama Sistem.


“Aku, Niu Anni, selama 30 tahun ini, pertama kalinya aku bertemu dengan seorang yang sangat palsu sekali. Aku salah, kekuatanku tidak ada 1 % dari kekuatan Lin Tian,“ ujar Niu Ani sampai mengeluarkan air mata.

__ADS_1


“Memang direktur lin tidak pernah tunduk pada apapun,“ kata Ma Keji ikut terenyuh.


“Aih aku yang lancang, aku pamit dulu,“ ujar Niu Anni sembari menuang minuman terakhir nya untuk segera di habiskan dan undur diri.


“Tidak boleh menolak proyek yang mendapatkan untung untuk perusahaan, kalau tidak, kekayaan pribadimu akan dipotong sampai habis,“ ujar Xiao Qian membisik.


“Mm, kalau begitu, baiklah,“ ujar Lin Tian gembrobyos. Kebingungan dengan kebijakan yang diambil tadi.


“Ma Keji, tolong ambilkan kertas dan pena kemari,“ ujar Lin Tian.


“Baik,“ kata Ma Keji.


“Tunggu dulu!“ panggil nya sama Niu Anni yang sudah terlanjur melangkah menjauh. “Aku hanya menolak proyek kerjasama yang menghasilkan uang, apa Alimama mempertimbangkan kerjasama dalam kegiatan amal yang tidak menghasilkan laba?“


“Eh, ini maksud ku, bukan kegiatan amal seperti ini, melainkan kegiatan amal kecil Misalnya….“


‘Aku aku tidak kepikiran. Misalnya apa ya?’ Lin Tian berpikir keras.


“Ah, aku tahu. Direktur Lin dulu selalu membantu kehidupan para lansia, berikutnya akan membantu kesehatan para lansia,“ ujar Ma Keji.


“Benar, sepertinya kamu sudah mempelajari nya. Lanjutkan,“ kata Lin Tian. ‘Eh Ma Keji saja mengerti, kenapa aku tidak kepikiran. Sebenarnya apa yang sedang dibicarakan nya.’


“Beberapa waktu sebelum ini, aku bersama dengan wakil direktur Chu bersama-sama melakukan survey ke taman. Kita melihat banyak lansia sedang berolahraga, sebenarnya lokasi di sana sangat terbatas, begitu juga dengan fasilitas nya. Sehingga, harus ada pebisnis yang campur tangan untuk menyelenggarakan kegiatan bela diri khusus lansia. Menambah kegiatan lain yang bisa membuat lansia berolahraga, memberikan hadiah agar para lansia lebih bersemangat lagi untuk berolahraga. Ini adalah membantu dalam bidang kesehatan,“ jelas Ma Keji.


“Oh, ternyata begitu…. Ehem, Maksudku benar itu adalah maksud ku,“ ujar Lin Tian. ‘Hehe, Ma Keji ini benar-benar kreatif, bisa memikirkan kegiatan yang bermodal besar, namun tidak menghasilkan untung seperti ini.’ Gumam Lin Tian yang membuat Sistem sedikit kaget.

__ADS_1


“Kenapa aku rasa, penerus perusahaan ini, sudah di cuci otak nya,“ ujar Niu Anni mengeluh.


#


“Pertandingan bela diri? Aku Lu Baoguo tidak setuju,“ ujar Lu Baoguo seorang yang ahli dan sangat senior menolak kedatangan Ma keji yang tengah mencari dukungan pada para lansia. “Siapa yang bisa mengalahkan ku. Teknik ku bisa membunuh orang. Kalau sampai terjadi kecelakaan bagaimana?“


“Kalau begitu, justru malah harus ditandingkan. Bagaimana kalau begini, anda bertanding dengan anak muda. Para lansia akan saling bertanding,“ ujar Ma Keji yang turut was-was dengan kehebatan master ilmu bela diri tersebut.


“Jangankan seorang pemuda, aku mau 10 orang,“ kata Lu Baoguo khawatir jika hanya satu orang maka sekali gebrak akan langsung tersudut dengan posisi jatuh yang aneh.


#


“Eh, secepat ini,“ ujar Lu Baoguo keheranan ternyata sudah ada ring dengan fasilitas yang sangat lengkap demi olahraga yang sangat mahal begitu. Ternyata penyelenggara tidak main-main dalam membina para lansia untuk bisa menunjukkan keahliannya.


“Kenapa aku menyetujui pertandingan ini,“ gumam si kakek yang berpakaian jago kungfu era kerajaan. Tentu dia sangat berbakat dan sangat ahli dalam bela diri serta canggih dalam menghadapi berbagai perguruan yang ada di seluruh negeri.


“Hari-hati dengan pukulan ku, dia memiliki mata, aku bisa menjatuhkan mu dengan sekali pukulan,“ ujar si kakek yang masih kurang percaya diri saat melawan orang yang tinggi besar dengan otot kuat demikian. Lagi pula siapa yang mau kalah hanya melawan dengan olahraga barat begitu. Sudah banyak di pertunjukan dalam legenda silat jika berpakaian seperti para guru melawan para bokser tentu hanya sekali kuncian bakalan langsung bisa membuat musuh terkapar. Itu biasanya maka tak perlu ada yang dikhawatirkan buat si kakek tang tentu saja sudah sangat berpengalaman dalam dunia persilatan yang begitu keras namun dengan santai di lakoni nya. “Mulailah….“


Tanpa pikir anjang lawan langsung melayangkan pukulan nya ke arah pipi sang jagoan kawakan itu. Soalnya seperti biasa nya juga kalau bukan demikian bakalan langsung dielakkan dengan mudah. Sebab sangat tajam matanya dalam mengatasi pukulan musuh. Untuk itulah dia mesti dengan cepat melayangkan pukulan pertamanya.


Duk!


Tepat di pipi. Tak disangka secepat itu. Walau dia sudah sangat pengalaman dalam ber tinju, namun tak yakin kalau kali ini bakalan langsung kena, bahkan tanpa halangan sedikitpun, malahan dia seorang master. Makanya membuat semuanya keheranan.


“Pemuda ini tidak memiliki etika bela diri,“ ujar si kakek terkapar sembari mengerang-ngerang. Dan mengutuk lawan yang sudah berani-berani nya menjatuhkan orang tua yang sangat ahli itu, bahkan hanya untuk sekali pukulan saja. Benar-benar etika yang sangat kurang dalam diri si pemuda kurang ajar ini. Perlu dikasih pelajaran, si kakek terus menggerutu namun masih tetap rebahan agar rasa sakit segera sirna. Apalagi posisi jatuhnya sangat artistik begitu. Sungguh bikin remuk badan.

__ADS_1


__ADS_2