Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 29


__ADS_3

“Kamu dipecat pergi dari sini!“ ujar Kepala Toko. Terlampau marah. Tak tertahankan lagi. Dia sudah enggan memelihara anak yang sok tahu. Serta dikasih tahu sudah tak mau. Apalagi ingin menang sendiri. Masuk sering terlambat. Kerja ogah-ogahan, mau jadi apa. Apalagi dia hanya kerja paruh waktu, itu bukan hal yang bagus untuk karier. Sementara dia sudah banyak makan asam garam nya kehidupan ini, berada di toko yang selama ini dia besarkan.


“Aku? Sepertinya kamu salah paham,“ ujar Lin Tian. “Yang dipecat adalah kamu tempat ini sekarang adalah milikku,“ ujarnya sekonyong-konyong. Uang bukan masalah darinya. Selama sistem masih bisa diajak kerja sama, dan sejauh dia berhasil menyelesaikan misi, maka akan bisa diatur segala yang berhubungan dengan uang itu.


“Kamu. Maksudmu kamu sudah membeli tempat ini? Bagaimana mungkin?“ Kepala toko terperanjat. Semudah itukan dia mendapatkan toko yang demikian bagus dan sangat menguntungkan ini? Atau Cuma bualan semata, mengingat sejauh ini dia hanya kerja paruh waktu, dimana gaji saja tak akan isa mendapat yang sangat menarik dibandingkan dengan karyawan lama yang juga tentunya mendapat hak yang lebih. Itu tak akan baik untuk mendapat hasil maksimal.


“Kalau tidak percaya telepon lah?“ ujar Lin Tian.


“Baik.“


Kepala Toko segera menghubungi beberapa nomor. Penasaran dia dengan ucapan anak yang pandai bicara ini. Jangan-jangan dia hanya pandai bicara saja, namun tak bisa mewujudkan apa yang jadi ucapannya. Dan itu diperparah jika hanya dibiarkan saja apa yang jadi kebiasaan tak baik, namun tidak ada yang menghentikannya. Maka akan semakin buruk anak itu. Dan parahnya lagi, tentu akan semakin membuat kacau orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan menjadi korban bualan nya itu. Namun kalau benar, maka dia mesti hati-hati pada bocah demikian. Akan berbahaya untuk kariernya. Dan berbahaya juga untuk bulan-bulan ke depan. Dia mesti merintis lagi dari bawah apa yang sudah dia punya sekarang. Bukan masalah mudah menjadi kepala sebuah perusahaan seperto toko ini. Terkadang mesti merangkak dari bawah. Menjadi penjaga sebuah usaha, atau menjadi pegawai paruh waktu dulu. Bahkan kalau tak beruntung akan menempati posisi yang buruk lagi, semisal cleaning service atau office boy. Jika itu terjadi maka akan semakin gawat. Dan semua itu bisa diakibatkan anak yang kurang bagus .


“Tuan pemegang saham…“ Dia berhasil menelepon seseorang. Ada jawaban dari seberang sana.


“Baik, baiklah.“


“Tidak apa-apa tidak masalah,“ ujarnya seraya mengangguk-angguk tiada paham apa yang disampaikan suara dari seberang sana itu.


“Bagaimana apa masih ada yang ingin kamu katakan?“ ujar Lin Tian dengan sedikit bergaya. Kali ini sudah saatnya si kepala Toko yang sok kuasa ini paham. Bahwa dialah yang sudah mendapat kepercayaan atas toko yang demikian menguntungkan dan menjadi rebutan itu. Bahkan sampai-sampai Duoduo enggan untuk meninggalkan tempat itu.


Tuan Kepala toko hanya terdiam. Namun menatap si Lin Tian dengan nada amarah yang seakan tak mereda saja.


Brak!


Jam dinding berjatuhan. Terlempar dengan kuat ke arah Lin Tian. Untung hanya mengenai dinding. Kalau sampai kena kepala, bisa-bisa detak jam itu beralih ke jantung Lin Tian yang terus berdetak tak beraturan.

__ADS_1


“Ingin menipuku, baru saja aku menghubungi tuan pemegang saham!“


Pemilik toko ini sama sekali tidak berubah. Semakin geram dia dengan Lin Tian yang sok tahu. Kali ini tak ada ampun lagi bagi bocah miskin yang sudah mendapat kerjaan di sini, tapi masih berulah saja. Itu tak bagus. Dan bakal berakhir bencana untuk kariernya. Mungkin kali ini da selamanya tak akan bisa dia bekerja sama lagi pada satu perusahaan yang sangat besar ini.


“Eh… Kapan aku menyuruhmu menelepon pemegang saham?“ ujar Lin Tian. Dia sendiri terkejut, atau pura-pura terkejut. Kenapa dia tak bilang dari tadi, kalau bukan hendak membuat si pemilik toko marah. Dia seakan sedikit mempermainkan orang itu. Supaya ada yang sedikit tak terima, lalu berang, dan bakal memukulnya.


“Jangan pura-pura lagi. Kalau bukan pemegang saham aku harus bertanya pada siapa lagi?“ tanya Kepala toko. Sebab pemimpin tertinggi dari perusahaan adalah para pemegang saham. Jadi semakin banyak dia yang memiliki saham, akan mendapatkan hak yang terbesar pula. Termasuk toko ini. Sebab dari kepemilikan itu membuat baik buruknya toko juga terpengaruh pada harga jual saham.


“Hubungi nomor ini.“ Lin Tian memberikan nomor telepon pada secarik kertas.


“Kalau sampai hari ini kamu tidak memberiku jawaban yang memuaskan aku akan mengantarmu ke kantor polisi!“


Dihubungi nomor yang tertera itu.


“Halo?“


Kepala tercengang.


Lin Tian senyum – senyum. Kapan lagi mesti tersenyum. Dia juga membutuhkan tempat itu untuk membangun perusahaannya di atas kekuasaan. Agar bisa terus berjalan, dan sistem akan berlanjut untuk terus menerima misi yang penuh hadiah itu.


“Kamu mempermainkan ku!“


Kepala toko marah. Dia ambil benda yang ada. Tak ingin dia dipermainkan sama anak-anak yang sudah semenjak tadi selalu membuat tidak nyaman.


“Aku akan memukulmu sampai mati!“

__ADS_1


Kepala toko mengangkat benda berbahaya. Tentu sekali melabrak akan bisa membuat anak itu terdiam. Sebab benda keras ini bukan main-main.


Namun,


Kursi hilang.


Rambut hilang.


“Aku memang tidak membeli toko ini, tapi aku membeli tanah ini,“ ujar Lin Tian. Seraya mengangkat kaki pada tempat tinggi, lalu lompat - lompat. “Mulai sekarang, ini adalah lokasi perusahaan Tian Tianlin.“


Lin Tian naik naik.


Dan mesin datang.


Bongkar!


Lin Tian menyuruh membongkar toko itu. Ini untuk perusahaannya. Dan toko yang kurang banyak fungsi baginya itu mesti rata. Lalu akan didirikan sesuatu yang lebih menguntungkan. Dan bagi dia sistem itu telah merubahnya menjadi hal yang menarik. Termasuk memiliki perusahaan sendiri. Dimana karyawannya cantik-cantik, termasuk guru Chen yang sudah jadi karyawannya.


Kepala toko hanya pucat. Hilang sudah segalanya. Kepercayaan para pemegang saham, pekerjaan, juga toko yang selama ini memberinya banyak pengalaman. Oleh tangan anak yang kurang bagus ini, segalanya berubah. Dia harus menerima kenyataan. Bahkan mulai lagi dari bawah. Kalau tidak mesti melamar lagi agar bisa diterima di toko lain sebagai kepala, kalau kepala dalam toko itu tak ada. Atau jika adapun mesti ada kepala dua didalam satu toko. Tentunya akan semakin menarik, dimana akan bertambah ramai, jika ada dua kepala, dimana kepentingannya juga beragam, serta kemudian akan saling ramai demi mempertahankan setiap kebijakan.


“Duoduo…“ ujar Lin Tian. “Kamu dari jurusan desain bangunan kan?“


Duo duo hanya mengangguk.


“Bergabunglah dengan perusahaan ku dan menjadi ahli bangunan.“

__ADS_1


MISI UTAMA 1 : SEMUA AWAL PASTI AKAN SULIT.


TINGKAT KEBERHASILAN….


__ADS_2