
Lin Tian santai sembari minum kopi dalam cangkir biru.
“Eh“
Lin Tian menoleh. Ada yang tengah membidik kan kamera kea rah dirinya.
“Aneh. Sejak berapa hari yang lalu, aneh sekali,“ ujar Lin Tian akan para fotografer yang terus saja mengambil gambar.
#
Lin Tian naik skuter matik nya yang berwarna putih mengkilat, dengan helm biru dan kacamata yang sengaja di taruh di jidat, bukan nya di mata.
Nampak mobil mewah dengan kamera yang menyala dari dalam nya.
“Ternyata benar ada orang yang mengikuti ku,“ ujar Lin Tian seraya memperhatikan mobil itu. Bukankah sangat mengerikan. Bahkan ada putri yang sampai kecelakaan akibat di ambil gambarnya secara diam-diam namun dalam kondisi yang tak suka. Akhirnya kabur cepat-cepat dengan kendaraan mewahnya, serta tak terkendali. Bisa saja hal demikian akan terjadi kala seorang setampan dan tajir Lin Tian di buru untuk sekedar main poto diambil gambar keren nya.
“Jangan - jangan ingin menculik ku,“ ujarnya membayangkan betapa tersiksanya di culik sembari di ikat pada kursi sampai menangis meraung-raung. “Tidak mungkin. Jangan – jangan…“
Lalu ada pemikiran lain. “Hehe, ini pasti adalah fans ku. Ternyata benar, punya tampang tampan, belum tentu baik.“
#
Di depan kantor grup Tian Lin.
Kit…
__ADS_1
Dengan kuat rem motor Lin Tian di tekan. Membuatnya langsung terhenti.
“Parkir di tempat biasa ya,“ ujar Bos Lin Tian seraya menyerahkan kunci sembari melempar ke petugas parkir.
“Baik bos,“ ujar petugas itu sembari menerima kunci, seraya menempatkan kendaraan sederhana itu di tempat biasanya sang bos menaruh motor yang demikian irit ini.
Nampak dari kejauhan para pemotret terus saja mengambil gambar gedung Grup Tianlin dari jarak yang bisa menjangkau supaya bisa mengambil gambar dengan posisi terbaik. Sekarang peralatan demikian canggih. Sehingga gambar untuk jarak yang semestinya tak jelas andai menggunakan mata biasa, maka akan begitu nyata kala menggunakan alat tersebut. Bahkan untuk jarak sejauh bintang juga bisa Nampak jelas, sehingga gambar yang di dapat akan memperlihatkan secara detail apa yang jauh itu. Bahkan untuk gambar yang semestinya puluhan tahun ke depan demikian nyata bisa di ambil. Apalagi hanya untuk jarak yang beberapa meter jaraknya. Dengan lensa yang canggih akan semakin gamblang apa yang di perlihatkan oleh jepretan itu. Sehingga hasilnya akan sangat jernih untuk kemudian mampu menghiasi cover buku atau bagian isi tersebut secara lebih indah pula.
Lin Tian terus berjalan memasuki pintu kantor.
Dia menoleh. Merasa terus saja diambil gambar nya. Namun dia terus saja melanjutkan perjalanan nya. Dan menuju ke pintu guna memasuki ke dalam nya.
“Silahkan foto, aku begitu tampan, sayang kalau tidak dinikmati seluruh dunia,“ ujar Lin Tian yang serasa seperti cover boy saja lagak nya. Maklum dari sebelumnya sudah diambil terus oleh kamera yang canggih serta para pemotret amatiran yang selalu saja membuat ulah demi mendapatkan gambar yang sangat indah. Dia santai saja dengan tangan masih masuk ke dalam kantung dan sandal jepit kebanggaan yang sangat nyaman untuk di bawa walaupun ke dalam ruang kantor yang sejuk.
Duk.
“Aiya…“
Si cewek menjerit. Jatuh terjerembab. Pantatnya kena lantai halus namun keras. Dan dia mengerang kesakitan. Bagaimana bisa menang kalau seorang yang cantik nan anggun melawan lelaki tampan yang begitu melegenda.
“Sakit!“
“Kamu tidak apa-apa?“ tanya Lin Tian sembari mendekati si cewek yang jatuh kebangetan. Dia demikian bersimpatik akan kejadian mengenaskan itu. Dan ingin rasanya dia menyentuh, menggapai, dan mencoba membangunkan si cewek dari rasa sakit nya.
“Hidung belang! Jangan menyentuhku!“ ujar si cewek dengan marah. Bagaimana tidak marah, kalau sudah membuatnya jatuh bangun, malahan hendak ingin menyentuh lembut kulit indahnya, tentu siapapun bakalan merajuk.
__ADS_1
“Ada apa ini? Wajahku sudah tidak bisa digunakan lagi?“ ujar Lin Tian heran melihat si cewek marah-marah. Tadi begtu banyak orang yang senantiasa menginginkan wajahnya untuk di ambil sampai di mana-mana banyak kamera yang membidiknya. Namun kali ini ada cewek polos begini saja sudah enggan melihatnya. Bahkan secara sengaja menabrak nya walau dia yang menang dan tak sampai jatuh bergulingan.
“Bos Lin Tian, saya sudah memarkirkan kendaraan anda,“ kata karyawan parkir. Rupanya dia tak tahu sikon. Jadi asal masuk da nasal memanggil saja nama bos yang lagi kena sial berhadapan dengan cewek judes yang begitu kasar dan tega tak mengenali dirinya yang lagi tenar serta sedang kaya-kaya nya mulai hari ini.
“Terima kasih. Hari ini akan ku tambah satu paha ayam di makanan mu,“ ujar Lin Tian tanpa memberi tips. Dia sangat suka dengan kinerja karyawan nya yang begitu cekatan dan sangat baik untuk di andalkan. Sehingga apapun yang dia punya akan di berikan, termasuk paha ayam krispi yang sangat original untuk nanti bisa di nikmati kala makan siang ataupun di saat menyantap saat berbuka andai tengah melakukan nya.
“Kamu adalah Lin Tian? Lin Tian dari grup Tian Lin?“ ujar si cewek baru sadar. Ternyata dia berhadapan dengan orang yang bukan sembarangan. Alias pemilik perusahaan besar yang super tajir.
“Benar,“ jawab Lin Tian.
“Kamu adalah orang yang masuk ke jajaran konglomerat. Tapi masih rendah hati, si Tampan Lin Tian,“ kata si cewek teringat dalam majalah pria, dengan tulisan besar di cover muka raja berlian baru, lin tian. “Direktur Lin…“
“Benar, ada apa mencari ku?“ tanya Lin Tian.
“Tidak bilang dari awal,“ ujar si cewek.
“Aduh, aku sudah tidak punya kekuatan lagi. Tidak bisa bangun. Harus minta Direktur Lin untuk menggendongku,“ kata si cewek dengan manja.
“Ih menjijikkan,“ kata Lin Tian.
Akhirnya si cewek ditarik dua orang.
“Direktur lin, ini lagi-lagi adalah para wanita yang bermimpi bertemu dengan direktur sok. Entah sudah berapa orang yang kami cegat,“ lapor para karyawan.
“Oh, banyak yang menyukai direktur sok ya,“ ujar Lin Tian.
__ADS_1
“Benar, yang paling terkenal diantara perempuan adalah topik tentang direktur sok yang jatuh cinta, menyukai ku. Saingan nya banyak,“ ujarnya lagi. Memang kalau urusan demikian sangat banyak peminatnya. Termasuk dalam catatan kisah yang bakalan di baca sampai jutaan orang. Beda dengan yang menyeramkan, hanya di baca beberapa saja. Makanya banyak yang pada memilih genre itu jika mesti menulis kisah yang bisa meledak.
“Oh? Persaingannya mengejutkan? Kalau begitu ada ide,“ ujar Lin Tian yang terus saja mendapat ilham akan rencana yang mesti di jalankan.