
Pada menggarap soal. Baju biru asik. Di belakangnya, cewek juga tekun mengerjakan soal.
“Eh, sama dengan buku pelajaran sekolah menengah ku. Siapa yang menghabiskan uang seperti ini,“ ujar Lin Tian terus memperhatikan buku pelajaran yang gambar-gambar nya sangat menarik. “Haha, Su Xueqing sampai melamun, benar-benar tidak seru. Kami ini aku pasti merugi.“
Sedangkan Su Xueqing tengah melamun akan hayalan nya yang mengasikkan. “Ah... Ini adalah hidup yang selalu aku impikan. Ternyata, begitu masuk sekolah, aku selalu di ganggu oleh banyak siswa penggemarku. Aku tidak pernah merasakan kehidupan sekolah yang begini tenang.“
“Untungnya aku menyembunyikan handphone, hahaha... Aku benar - benar cerdas,“ ujar Lin Tian sembari mengeluarkan HP yang dia simpan untuk di fungsikan secara tak jelas kala tengah pusing memikirkan pelajaran. Disini dia bisa membuka satu hiburan yang sangat asik. Tapi mesti rahasia supaya tidak ketahuan, lalu bakalan di marahi sama guru nya. Malu kan di marahin sama karyawan sendiri.
Namun pada layar HP itu nampak ada yang aneh. Sebuah bayangan menyeramkan tampak di sana. Tengah mendekat dan menjadi suatu monster di rumah hantu yang sangat menyeramkan.
“Eh...“ Lin Tian menoleh ke bayangan yang semakin lama semakin besar di belakang nya. Begitu menyadari nampak wajah pucat ketakutan terbayang dari si pemberani Lin Tian. Bayangan tersebut begitu nyata dan semakin jelas. Guru nya...
Lin Tian bertambah panik saja.
“Gawat!“
Dengan Cepat dia berusaha menyembunyikan HP favorit nya itu.
Namun terlambat. Bu guru sudah dekat. Tak ada waktu untuk menyimpan nya kini.
__ADS_1
“Keluarkan!“
“Tidak ada bu guru,“ kata Lin Tian berkilah. “Aku tadi....“
“Belajar mandiri disediakan, agar siswa dapat belajar sendiri. Kamu malah main handphone, kamu kira ibu tidak tahu. Ibu hanya tidak menegur mu saja, keluarkan!“ ujar Bu Guru dengan galak nya.
“Tapi saya masih ingin memakai nya,“ kata Lin Tian.
“Tenang saja, nanti akan ibu kembalikan,“ ujar bu Guru.
“Baiklah...“ Lin Tian menyerahkan HP nya.
“Aku terjebak...“ Lin Tian tambah panik. Jangankan ranking lima, 6 saja sulit nya minta ampun. Kini dia harus berjuang dengan sesuatu yang tidak mungkin. Ini bakalan gawat. Kapan lagi dia akan bisa mengambil Handphone nya itu. Lalu kapan juga dia bisa mengikuti sosmed yang sudah banyak memiliki subscribe serta konten nya yang sudah banyak view yang berhasil dia kumpulkan akibat rasa penasaran akan apa yang dia buat. Tentu hal ini akan jadi suatu kesulitan tersendiri kala tak bisa memegang alat komunikasi yang untuk masa kini demikian penting serta jadi satu hal yang bisa menumbuhkan rasa percaya diri akibat bisa berkomunikasi dengan rekan nya di lokasi yang terbentang jarak serta waktu.
“Bagaimana aku bisa hidup tanpa handphone?“ ujar Lin Tian yang merasa sedih kalau tanpa alat itu. Sebab bagaimana bicara kalau tak ada alat. Bagaimana meng-upload naskah jika HP tak ada. Juga untuk melihat rekening keuangan, jelas akan kesulitan. Pokok nya jaman sekarang, tanpa HP adalah suatu hal yang sangat sulit.
“Hei, ini adalah rumah hantu bukan kenyataan,“ ujar cewek di samping nya menegur. Mengira jika Lin Tian tengah ketakutan karena banyak hantu dalam rumah hantu tersebut. Kalaupun di ceritakan, pastinya tak akan nyampai. Sebab sejauh ini bahaya sendiri jika menceritakan keburukan diri sendiri buat orang lain. Dan tentu berbuntut panjang nantinya. Makanya sejauh masih bisa di redam, akan dia simpan sendiri sesuatu itu nanti nya. Sebab lambat laun juga pasti bakalan tersibak sesuatu yang busuk dalam simpanan meskipun sangat rapi.
“Eh benar juga, tapi ini terlalu nyata,“ ujar Lin Tian. Teringat jika dia berada dalam rumah hantu rancangan nya. Agar tak ada yang suka dengan rumah tersebut karena terlalu biasa serta tak menyeramkan sama sekali. Benar-benar berbeda dengan yang lain nya kalau membuat rumah hantu, pasti bakalan menyeramkan. Sebab namanya saja hantu, pasti yang diburu hal mengerikan. Supaya adrenalin mereka bisa naik, serta rasa berani nya tumbuh. Bukan nya berada dalam rumah yang terang benderang dengan situasi sekolah yang sangat mengasyikkan. “Menakutkan sekali. Membuat aku teringat betapa menyeramkan nya guru sekolah menengah ku,“ ujar Lin Tian menggigil ketakutan. Teringat saat-saat dia tengah kehilangan HP yang tentu nya lebih membuat menggigil dari pada berada dalam rumah hantu yang tak seram ini.
__ADS_1
“Tapi ngomong – ngomong, seharusnya tidak akan ada yang menyukai guru yang seperti kenyataan begini kan?“ gumam Lin Tian lagi. “Hehe, bagus sekali, sepertinya aku akan tetap merugi.“ Tapi rugi sekali jika HP kesayangan yang dia butuhkan di bawa orang lain. Apalagi kalau sampai mengendap dan keluar nanti sudah mati. Itu sangat berbahaya. Karena daya tahan baterai nya tentu tak akan lama. Bakalan habis dengan sendiri nya kalau berada dalam kondisi silent yang tak di fungsikan oleh siapapun dan hanya teronggok di laci meja guru killer saja.
“Aduh waktunya sudah habis. Cepat sekali. Ayo kita pergi. Rumah hantu ini sangat hangat,“ kata Su. “Eh kemana dia?“ menyadari kalau Lin Tian yang di ajak bicara sudah tak ada.
Ternyata dia tengah mengejar-ngejar Bu Guru untuk meminta handphone nya. “Hei... Bu guru. Handphone ku... kembalikan handphone saya.“
Lin Tian terus memburu. Namun bu guru tetap saja menyita, “Bu guru. Aku adalah bos mu!“
#
“Reaksi dari Bos Lin tadi benar-benar adalah reaksi ketakutan, tapi bukan seperti ketakutan akan hantu,“ kata karyawan rapi.
“Benar, ini adalah kecerdasan beliau. Dia sudah berpesan, tidak mau rasa takut yang sama dengan rumah hantu lain nya. Melainkan ketakutan yang terjadi di dalam kehidupan biasa.“
“Aku tidak ingat Direktur Lin pernah berpesan seperti itu,“ ujar karyawan paling belakang.
“Beliau tidak pernah mengatakan secara langsung apa kamu tidak melihat kalau direktur Lin selalu memiliki maksud tersembunyi dalam setiap proyek nya.“
“Benar, banyak hal yang hanya disampaikan setengah saja. Sisanya dia ingin agar kita memahaminya sendiri,“ ujar karyawan bertopi menjelaskan yang sangat jelas. Sembari menatap layar monitor dimana Lin tian tengah ketakutan akibat HP yang dia sayangi di rampas sama guru nya itu. Benar-benar rumah hantu yang sangat menakut kan.
__ADS_1
“Direktur Lin benar - benar hebat. Kita harus mendapatkan untung untuknya.“ Pikir nya kalau mendapat untung, perusahaan, pasti semua akan senang. Tentu saja tak terkecuali dengan Bos Lin yang aneh itu. Dia pasti nya akan senang kalau perusahaan untung besar. Tapi....