Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 68


__ADS_3

“Tuan besar Li!“ Qian Pinzhu memanggil Tuan Besar Li yang tengah diseret oleh anak buah Lin Tian.


“Sekarang sudah tidak ada keluarga Li lagi,“ ujar Qian Pinru yang tengah menatap Pinzhu yang khawatir.


“Pembangkangan di mulai,“ kata Lin Tian.


$#% &%$


Para anggota keluarga Qian yang lain saling berencana.


Sementara Qian Pinzhu sangat panik.


“Kalian dengan rencana kecil seperti ini, kalian mau membangkang? Siapa yang tidak bisa jadi idola? Standarnya begitu rendah. Lagi pula kami memiliki banyak kandidat. Dengan dukungan dari keluarga Li, bukannya kita pasti akan jauh lebih baik darimu,“ ujar Qian Pinzhu yang yakin kalau dia masih akan mampu mengatasi lawannya dengan bantuan keluarga Li.


“Aku sudah menunggu perkataan ini. Kalau begitu ayo kita bertaruh posisi kepala keluarga kita lihat idola siapa yang lebih popular,“ kata Lin Tian.


“Bawa kemari daftar acara pemilihan idola bulan ini. Kita pilih acara yang ini. Idola siapa yang mendapatkan posisi center maka orang itu akan menjadi penerus usaha keluarga Qian,“ ujar Qian Pinzhu memilih pertandingan yang dia yakin mempunyai kandidat yang sangat kuat. Sembari menekan Video bajak laut lelaki idola 110.

__ADS_1


“Kebetulan besok adalah penyisihan. Sampai bertemu besok dengan idola masing-masing,“ kata Lin Tian dan segera berlalu.


“Segera beritahu keluarga Li minta rekomendasi idola paling popular untuk kita,“ ucap Pinzhu setelah kelompok Lin tian berlalu. Meskipun masih Nampak ketiga orang itu, namun dia telah bersiap sedia, agar kalau benar-benar melawan bakalan bisa lebih cepat tanggap untuk dapat dihancurkan dengan saksama. Untuk kemudian bisa segera menguasai keadaan.


“Baik.“


“Kemudian siapkan pelatih untuk segala bidang mulai dari yang tadi disebutkan oleh Lin Tian,“ kata Qian Pinzhu lagi. “Pelatih musik, Pelatih tari, Pelatih rap, dan lagi pelatih basket.”


“Saya masih tidak mengerti apa gunanya bermain basket,“ tanya anak buahnya. Kalau Golf mungkin lebih masuk akal, sehingga kalau semua kalah, dan marah bisa langsung memukul bola keras itu mengenai mata lawan, serta jika tak mengena, tongkat pemukul itu akan sanggup menghajar kepala lawan hingga peang. Atau main catur, barangkali bisa membikin pusing, bagaimana bisa mengangkat raja, benteng, gajah, yang semua terdengar mengerikan. Ini basket… apa yang aneh dengan keranjangnya itu?


Pada kendaraan Day Ice, mereka saling berbincang.


“Lin Tian apa tidak masalah seperti ini? Kita tidak punya idola yang bisa semua ini,“ ujar Kepala Sekolah Qian. Sedikit khawatir dia dengan rencana gila Lin Tian. Sebab dia sudah sangat paham akan kekuatan orang tua Qian itu. Makanya dia meskipun berani melawan namun sejauh ini belum sanggup menguasai keluarga Qian. Dan berhasil di kuasai terus oleh si tua Pinzhu itu. Sehingga dia masih sedikit khawatir tatkala meninggalkan kantor keluarga Qian meskipun naik bus mewah yang sangat besar.


“Aku kenal seseorang. Dia pasti akan sangat sesuai,“ ujar Lin Tian dengan ide nya. Sangat mengenal berbagai karakter orang-orang yang sudah lama dia kenal. Dan akan bisa membantu dengan segala kemampuannya itu. Dia yakin, karena beberapa kali telah berhadapan, dan dia paham akan kekuatan serta segala kelebihannya yang pantas menghadapi keluarga Qian yang dipimpin Qian Pinzhu serta mendapat suntikan dana dari Keluarga Li.


“Ha… Chiu! Kenapa tiba tiba perasaanku tidak enak,“ ujar Jiang Hao yang tengah main perasaan. Tidak biasanya demikian. Selain kena flu berat begini, jangan-jangan semua kembali pada mengepungnya. Untung minta di traktir, lalu balapan dengan taruhan yang sangat berat karena akan kehilangan benda yang sangat berharga. Atau justru akan dimarahi sang ayah karena meminta uang jajan terus sementara tidak jelas jajan apa. Apa takoyaki, sushi, sashimi atau kamikaze. Benar-benar tidak jelas. Makanya semua mesti dipertanyakan. Hanya saja ayahnya sangat baik. Sehingga sejauh ini diam saja.

__ADS_1


Telepon berdering. Ayahnya menelepon. Lalu diangkatnya HP itu. Ada yang penting kelihatannya. Sehingga dia menghubungi. Biasanya dia yang telepon karena ingin meminta uang jajan, jatah bulanan yang tak pasti tiap bulan. Asal dia butuh maka minta. Dan semua itu diberikan langsung. Sebab orang tuanya sangat kaya dengan kepemilikan hotel yang demikian baik untuk kwalitasnya yang bintang lima. Makanya tidak heran kalau dia mesti sedikit bingung, kenapa ayahnya mau-maunya menelepon dikala dia tengah demikian sibuk nya.


“Ayah, apa ayah ingin memberiku uang jajan lagi?“ ujar Jiang Hao mencoba basa-basi. Kali saja benar. Jadi dia nanti bisa main balapan liar lagi, atau makan enak dengan ahli masak bintang lima yang tentunya sangat lezat.


Diseberang sana ayahnya bicara.


“Eh, apa… perusahaan akan membuka 10 cabang lagi. Ingin aku menjadi manajer? Tentu saja aku bersedia. Tapi kenapa tiba-tiba kita memiliki modal sebanyak ini?“ ujar Jiang Hao yang sangat senang dengan tawaran ayahnya yang sangat mengharapkan dia bersedia menduduki posisi penting itu.


“Karena ada orang yang berinvestasi pada kita. Baru saja menandatangani kontrak. Hutang sebelumnya sudah tidak ada,“ ujar ayahnya. Dia sangat senang. Tiba-tiba saja ada yang berbaik hati. Pada waktu sebelumnya dia telah dipusingkan dengan urusan perusahaan yang terus memburuk. Hutang-hutang yang demikian banyak, sehingga dia sangat khawatir dengan itu semua. Apalagi anaknya demikian boros, menghambur-hamburkan uang jajan yang tidak sedikit. Dan itu semua menambah beban pikirannya. Bagaimanapun sebagai anak, dia mesti berbuat hal yang terbaik. Memberi apa yang diminta adalah kewajiban orang tua terhadap anak. Namun kalau boros, sebagai orang tua juga akan berpikir semua itu bukan demi kebaikan, namun memupuk anak menjadi semakin tak bagus. Sehingga mesti di kaji ulang. Dan kali ini sungguh sebuah keberuntungan buat dirinya yang mendapat rejeki mendadak.


Dia lalu menutup telepon sembari tertawa, “Haha… putraku sudah setuju.“


Dia kemudian menuangkan the sembari mengantar pada tuan yang baik hati tersebut. “Kalau begitu bisa kita lanjutkan ke tahap selanjutnya…“


“Tentu saja,“ kata Lin Tian dengan santainya.


“Pakailah uang ini untuk perusahaan,“ ujarnya seraya menyerahkan segepok uang dalam tas yang sangat banyak. “Aku tidak peduli bagaimana caranya, rugi juga tidak apa-apa. Aku akan membantumu menjaga Jiang Hao.“

__ADS_1


__ADS_2