Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 230


__ADS_3

“Kali ini aku pasti akan merugi besar,” kata Zombie Lin Tian yang merasa yakin kalau usaha besarnya itu lagi-lagi akan menuai kesuksesan.


“Sebenarnya, bangunan live action ini dan lokasinya adalah separuh sewa dan separuh beli. Walaupun harga tanahnya tidak tinggi, tapi luasnya sangat besar,” Nampak dalam maket begitu nyata. Juga dari satelit map. Dimana Nampak bangunan-bangunan yang sudah banyak memenuhi area yang sangat luas. Sehingga petak-petak rumah Nampak hanya atapnya saja kemerahan yang memenuhi kanan kiri jalan, selain lokasi danau serta air yang membaginya secara alami. Meskipun begitu lahan hijau Nampak masih tersedia sebagai paru-paru kota dan selebihnya area taman bermain yang masih segar.


“Setidaknya ada 1500 NPC Zombie. Biaya tenaga kerja yang besar. Selain itu, juga bisa memberikan kesempatan kerja dan lowongan untuk masyarakat sekitar.”


“Dengan lokasi sebesar ini, hanya terbatas 10 orang pemain saja, ini sangat membatasi efektifitas penggunaan lokasi, benar-benar merugikan,” ujar Lintian sembari membayangkan kalau para pemain tengah pucat pasi dengan di kejar-kejar mahluk hidup dari mati yang benar-benar menakutkan serta sangat-sangat thriller itu.


“Aku benar-benar berbakat dalam merugi,” katanya lagi sembari tertawa lebar yang sungguh-sungguh menakutkan. “Mengenai Ma Feng dan Ma Keji yang ingin bekerja sama mencari keuntungan denganku. Aku harus memberi pelajaran pada mereka,” ancamnya tidak main-main pada rekan sejawat yang ingin mencari untung semata.


#


Di suatu lokasi yang penuh dengan kendaraan mewah roda empat.


Nampak Ma Keji dan Ma Feng tengah berbincang.


“Anakku, kita masih belum tahu, ini adalah akal-akalan orang jahat atau bukan jadi….“


“Ayah dengan skala sebesar ini, mana mungkin ada orang yang mau mengeluarkan uang sebanyak ini, hanya untuk mencelakai kita berdua,” ujar Ma Keji yang yakin jika perbuatan keji ini bukan akal-akalan, serta dalam kondisi nyata senyata dia meyakini kalau zombie itu benar-benar ada di muka bumi ini.


“Betul juga, tapi kenapa aku selalu merasa ada yang tidak beres,“ ujar Ma Feng yang selalu curiga dan penuh syakwa sangka terhadap sesamanya yang seakan begitu membenci mereka sehingga tampak nyata jika semua itu hanya gurauan yang ingin menakut-nakuti mereka sampai celaka, sehingga kerjasama tersebut akan di buat batal. Sehingga tak ada keuntungan buat perusahaan mereka.


“Tolong!”


Belum juga usai percakapan mereka, belum sempat tumbuh daun rasanya dalam usaha curiga mencurigai, sudah terlihat ada orang yang dalam kondisi panic serta terus berlari sembari teriak-teriak.


“Tolong!”


Mereka memperhatikan orang yang tengah lari ketakutan itu.


“Eh, dia orangnya,“ ujar Ma Keji.

__ADS_1


Arg…


Lin Tian terus saja berlari. Seolah tengah menghindari zombie Lin Tian yang sangat menakutkan di belakang sana.


“Kalian jangan kemari, argh…” teriaknya sembari memperingatkan.


“Direktur Lin,” ujar Ma Keji sangat khawatir. Dia hendak membantunya.


“Tunggu, bahaya,” ujar Ma Feng memperingatkan. Supaya anaknya jangan gegabah dan membuat mereka sendiri yang akan celaka akibat mahluk haus darah itu tengah melakukan kegiatan psikopatnya terhadap sesama yang tak bersalah itu.


“Arg… aku akan melawan kalian mati-matian,” ujar Lin Tian sembari meraih apa saja sebagai alat pukul yang akan dia lakukan terhadap mahluk pemburu itu. Untung ada semacam pipa dari paralon yang lumayan keras. Serta bakalan sanggup membuat mereka luka parah atau sampai mongering darahnya akibat tulang belulang itu sudah sangat rapuh.


“Makan pentungan Lin Tian ini!“ Lin Tian mengamuk. Pentungan dia pukulkan ke kepala zombie terdekat. Juga zombie terjauh. Setidaknya supaya paham. Jika Lin Tian bukanlah orang sembarangan yang siap melawan kejahatan dan membela yang lemah.


Namun sayang, pukulan itu seakan hanya alat mainan saja yang tak dirasakan apapun. Sehingga membuat salah satu zombie dari yang sangat banyak itu berhasil menggigit pergelangan tangannya yang tengah dipakai buat memegang pipa paralon yang sangat keras, serta banyak fungsinya sebagai pembuat air bisa mengalir sangat jauh, tersebut.


“Arg ini…”


Para zombie dengan ganas saling berebut untuk memangsa mangsa mereka yang kini sudah roboh tak berdaya.


Argh…


Ma keji menjerit ngeri. Melihat bosnya di keroyok dan di cabik-cabik sama zombie yang banyak sekali jumlahnya. Setidaknya ada kesebelasan zombie yang dating dan terus berdatangan untuk berpesta pora terhadap mangsa yang baru saja di dapatkan.


“Nyata sekali, kita harus bagaimana?” ujar Ma Feng sangat khawatir dengan kondisi mereka yang semula hanya mengira hal itu suatu permainan mahal, namun kali ini justru menimpa tukang modal mereka. Yang mesti bagaimana lagi kalau kondisinya sudah demikian. Tak ada lagi harapan untuk bisa berkerjasama mendapat untung dari hasil penjualan itu, jika orangnya malahan sudah di cabik-cabik secara mengerikan.


“Huh, ayah mereka tidak beres,“ ujar Ma Keji semakin curiga saja.


#


Kendaraan saling pergi. Meninggalkan situasi rumit.

__ADS_1


Lari…


Orang-orang pada menjerit dan melarikan diri. Dari kejaran para zombie pembantai lin tian yang berasal dari ruang rahasia perusahaan hiburan itu.


Hal ini membuat ayah anak semakin kebingungan.


Mereka juga hendak lari.


Namun belum juga di lakukan, Nampak sebuah bayangan besar tengah menghampiri mereka.


Kini di hadapan mereka Nampak satu sosok raksasa yang tinggi besar dengan muka sangat menyeramkan. Gigi yang meringis seram, serta mata melotot sebelah, serta muka yang rusak parah. Semua itu semakin menambah rasa seram saja. Belum lagi akan codet panjang di muka yang semakin membuat keduanya gemetaran.


“Jangan harap kamu bisa menyentuh, bahkan sehelai rambut putraku,“ ujar Ma Feng mencoba melindungi anaknya. Dan biarlah dia yang akan jadi korban persembahan buat jiwa-jiwa kelaparan di dunia zombie itu. Yang penting anaknya selamat.


“Ayah aku…“ Ma Keji mencoba berusaha gemetar lebih hebat demi rasa takut yang tak tertahankan itu.


Rasa itu sungguh tak wajar, yang membuat semakin ketakutan. Apalagi kala tangan besar mahluk rusak parah itu tengah mengacung ke angkasa dan bersiap menerkam mereka. Juga dengan memburunya sosok tersebut yang rupanya dikendalikan dari jarak yang lumayan jauh itu.


Namun berikutnya membuat keduanya heran.


Robot hantu itu seakan berhenti dengan sendirinya.


Dan benar, untuk selanjutnya Nampak perutnya terbuka. Serta dari dalam keluar satu sosok yang sudah taka sing lagi.


“Versi uji coba ternyata belum stabil, harus diuji lagi,“ ujar Lin Tian keluar dari robot yang bikin pengap itu.


Mereka kemudian hanya saling pandang saja.


“Lin Tian!“ keduanya dengan muak langsung berseru hendak baku hantam pada sosok menakutkan tersebut.


“Aku salah, aku salah,“ teriak zombie Lin Tian semakin ketakutan saja kini setelah sebelumnya berusaha menakut-nakuti lawan, tapi kini mesti merintih pedih.

__ADS_1


#


__ADS_2