Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 105


__ADS_3

“50 juta apa yang harus aku lakukan untuk bisa merugi sebanyak itu?“ kata Lin Tian sembari memegang dada seakan sesak akibat penyakit berat dan begitu berat beban yang mesti dia tanggung.


“Tidak bisa aku tidak bisa menerima uang ini,“ kata Lin Tian yang menolak untuk menerima uang segitu.


“Tidak mau? Kenapa?“ ujar BOS4. “Jangan-jangan, kamu ingin agar aku berhutang budi padamu.“


“Eh bisa begitu juga. Asalkan kamu tidak memberiku uang. Semua aku terima,“ kata Lin Tian. Bukankah hutang budi di bayar mati. Hutang harus dilunasi. Maka tak akan lunas itu budi. Atau mungkin Lin Tian mengambil seperti prinsip dukun yang enggan menerima uang. Tapi kalau gula teh mau dia.


“Kamu ingin bilang kalau kamu tidak memperdulikan uang?“ ujar BOS4. Dia heran. Bukankah semua kegiatan itu hanya untuk mengumpulkan uang. Baik itu mulai dari dia minta jin penyelenggaraan, mencari orang-orang untuk ikut festival, hingga mendatangkan para penonton yang bersedia mengeluarkan dana demi bisa masuk ke situ. Tapi kali ini malahan menolak uang. Tentu membuat keheranan bagi yang memiliki perusahaan saingan. Dan itu terjadi pada Bos4 yang kesulitan membuat Lin Tian senang.


“Aku Lin Tian. Selama hidup, yang paling tidak aku sukai adalah uang,“ jelas Lin Tian. Sangat tidak suka dia. Kalaupun ingin jajan cilok juga enggan pakai uang. Inginnya Cuma makan saja. Biar orang lain yang memberi uang. Apalagi uang yang tak jelas di dapatnya. Itu sangat menyiksa pikiran. Mau di buang saying, tapi kalau di manfaatkan takut salah. Makanya lebih baik menjadi orang sederhana saja.


“Maksudmu levelku lebih rendah darimu. Hanya memikirkan uang. Aku mengerti maksudmu. Kamu hanya ingin barang yang level nya lebih tinggi dari uang kan?“ ujar pimpinan Bos4 sangat paham dengan pemikiran remaja cerdas itu dalam menolak pemberiannya yang sangat menggiurkan ini.


“Oh. Asalkan bukan uang. Semuanya tidak apa-apa,“ kata Lin Tian. Takutnya jika itu uang, maka sistem tak akan menggantinya berkali lipat. Makanya uang bakalan di tolaknya. Mendingan uang itu dibagi ke orang jalanan untuk di belikan nasi bungkus atau rokok sebungkus akan bisa dinikmati orang tersebut.


“Kamu menginginkan Perusahaan ku kan. Ini aku berikan,“ ujar Bos4 semakin mangkel, sehingga perusahaan akhirnya dia serahkan pada Lin Tian. Biar akhirnya ada yang dia berikan. Karena uang tidak mau.


“Perusahaan. Perusahaan apa?“ tanya Lin Tian belum paham. Dia semakin gagal paham akan kata-kata musuh nya itu. Kalau perusahaan makanan enak, jika bangkrut masih ada yang dimakan, ini perusahaan apa. Tentunya banyak urusan yang mesti dibereskan jika menerima perusahaan demikian yang belum paham tata cara mengelolanya.

__ADS_1


“Tuan. Selamat,“ ujar Xiaoqian memberi selamat atas kata-kata yang baru saja di ucapkan oleh Bos4 tadi. Ini sebuah anugerah terindah yang dimiliki Lin tian.


“Selamat. Siapa lagi yang memberiku uang?“ tanya Lin Tian masih belum maksud pernyataan keduanya.


“Kamu baru saja mendapatkan jabatan direktur di perusahaan BOS4,“ jelas Xiaoqian. Bukankah jabatan tertinggi dalam perusahaan yang sangat di idam-idamkan banyak orang baik dalam perusahaan out maupun orang luar, sehingga beberapa diantaranya berusaha mati-matian guna mendapatkannya. Sebab kalau sudah di sana dia bisa menyetir perusahaan itu. Mau di bawa kemana tujuannya juga dia yang memegangnya. Jadi segalanya bisa dia kelola. Hitam dan putih dari perusahaan itu adalah hasil dari pemikirannya juga. Walaupun untuk lebih berkembang, maka orang disekelilingnya juga mesti turut membantu terlaksananya kemajuan di perusahaan tersebut.


“Peningkatan level klasifikasi teknologi. Orang lain masuk ke 500 besar dengan kemampuan dan usaha keras. Aku masuk ke 500 besar dengan mengandalkan pembagian hadiah. Tunggu dulu. Bagaimana cara menghitung uang dari perusahaan BOS4. Kamu tidak menganggapnya sebagai uangku kan?“ kata Lin Tian. Dia masih kebingungan dengan hitung-hitungan begitu, ada rumus, ada diagram, semua itu benar-benar sedikit memusingkan. Bahkan untuk sebuah hasil dari kerugian yang menyenangkan. Karena logikanya orang yang rugi mesti nelangsa, tapi ini kebalikannya, jika rugi, maka semua kerugian itu akan di ganti oleh sistem, untuk seterusnya dikali lipatkan dari kekurangan tersebut. Ini yang menjadi kebalikan atas dasar apa yang dikira sebelumnya oleh semua orang.


“Tentu saja bukan. Masuk ke dana perusahaan. Untung dan rugi akan dihitung mulai sekarang,“ kata Xiao Qian.


“Selalu ada jalan keluar. Tunggu dulu. Masih ada celah untuk mengembalikan. Kalau aku memisahkan festival bau busuk dan memberikannya ke orang lain. Kemudian dengan memanfaatkan perusahaan baru untuk merugi 50 juta, diberikan pada perusahaan baru yang itu. Ya tuhan kalau begitu aku akan mendapatkan untung 5 milyar.“


#


Kediaman guru chen.


Lin Tian di sana.


“Maksudmu kamu ingin memberikan perusahaan itu untukku?“ ujar Guru Chen yang tentunya gembira mendapat kepercayaan tersebut.

__ADS_1


“Benar sekali, ini adalah ketulusanku,“ kata Lin Tian. Padahal dia lagi berhitung tentang kemungkinan rugi, sehingga akan mendapat lima puluh miliar itu.


“Tapi… Aku tidak pernah mengelola perusahaan. Kalau sampai rugi,“ ujar Chen Zillin. Dia Nampak khawatir sekali, baik mengecewakan Lin Tian, maupun tentang kemungkinan lainnya tentang suatu perusahaan kalau sampai tak untung sehingga nanti nya tak berjalan seperti se wajar nya.


“Kalau sampai rugi bukannya lebih bagus,“ kata Lin Tian yang selalu, dan selalu begitu bicara tentang rugi.


“Tidak bisa. Tidak bisa. Aku tidak bisa menerimanya,“ kata Chen Zillin.


“Benar. Kalian belum menikah. perusahaan ini tidak bisa di terima,“ geram ayah. Masa sampai segitu nya. Belum menikah tapi sudah saling memberi dan meminta barang berharga kan tidak baik. Baru setelah menikah untuk selanjutnya di kelola bersama agar menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang mampu menopang kehidupan berumah tangga sehingga akan bahagia dan sejahtera nantinya jika telah mampu mendapatkan uang tersendiri. Bahkan akan bisa membantu orang lain untuk hidup yang saling memberi.


“Menikah. Ada apa ini?“


“Lin Tian kemari sebentar.“


Keduanya bisik – bisik.


“Maksudmu adalah ayahmu mengira aku adalah pacarmu?“ tanya Lin Tian. Memang sedikit keterlaluan, masa mau membuat rugi perusahaan sehingga nanti di ganti sistem dengan melibatkan guru chen, sampai sejauh itu dianggap sudah pacaran, itu kan kebangetan.


“Sebelum menikah tidak boleh memberikan barang berharga untukmu,“ ujar ayah sangat berpegang pada prinsip. Maklum anak gadis, seberapa lama dia membesarkannya, kalau tak menuruti prinsip, nanti akan kacau, bagaimana tanggung jawab dia sejauh ini yang tinggal memetik hasilnya, namun justru dibuat kacau oleh kelakuan anak muda seperti itu yang main memberi perusahaan biar merugi, apaan.

__ADS_1


“Paman. Tidak benar ayah. Aku sudah bertunangan dengan Chen Zillin. “


__ADS_2