
“Ini… ini mana mungkin. Jelas-jelas aku…“ Keheranan Su Wumei. Tak menduga, tak mengira demikian cepat si pemuda ini berhasil mendapatkan apa yang dijaga secara rapat, juga oleh para anak buah yang sudah demikian pandai melakukan hal demikian.
Ada yang menyentuh pundak nya. Lembut, namun meyakinkan.
“Ada… Huhu!“
Lin Tian menangis termehek mehek.
“Lin Tian! Kamu…. apa yang kamu tangis kan?“ Keheranan Su. Ada yang lebih sedih dari kegagalannya kali ini, ternyata. Namun taka da hujan, taka da badai, kenapa anak ini justru lebih parah dalam menangis dibandingkan dengan segala orang yang ada disitu.
“Apa pertemuan kembali antara ayah dan anak itu tidak membuatmu terharu?“ ujar Lin Tian sembari mengusap air mata buayanya. Sungguh baik Lin Tian ini yang sudi mempertemukan dua ayah anak yang terpisah jauh. Serta lama, tiga kali lebaran tiga kali puasa?
“Beraninya kamu mentertawakan ku disaat begini!“ ujar Su yang marah besar, sehingga tangis dikira tertawa. Walau hati tertawa kali.
“Katakan bagaimana caramu menyelamatkan mereka!“
“Bisa apa lagi aku. Aku ini selain uang tidak punya apa-apa lagi,“ ujar Lin Tian yang merasa paling miskin. Tas tak punya, sepatu tiada, hanya uang dan uang kepunyaannya. Sungguh tragis hidupnya kali ini.
“Uang? Apa kamu menyuap mereka semua?“ ujar Su Wumei yang mulai paham dengan pemuda kaya serba duit itu. Termasuk matanya kali.
“Kenapa kamu bertanya padaku? Aku tidak tahu apapun,“ ujar Lin Tian bergetar seolah hendak menghindari masalah namun tanpa ada masalah lain.
Su melihat HP nya. Dia tengah menghubungi seseorang. Dan jauh di ujung teleponnya itu, ada telepon masuk pada anak buah yang mesti menjaga si terculik supaya aman tenteram.
__ADS_1
“Bos Su ada perintah apa?“
Anak buahnya bertanya setelah mengangkat HP canggihnya itu.
“Perintah? Dasar kalian tidak tahu diuntung, kacang lupa kulitnya, apa kalian pernah mendengar perintahku?“ ujar bos Su marah, marah, dan marah dalam telepon, sehingga anak buahnya sampai menutup telinga, membuka mulut dan mata kaca.
“Bos Su perkataan anda ini tidak benar!“ ujar anak buahnya yang sedih. Sudah sekian lama mereka bekerja sama. Namun sama sekali tak dihargai, bahkan dituduh yang tidak-tidak. Ini semua membuat sakit hati tentunya. Sehingga bisa saja akan menjadi pertanda kurang baik hubungan mereka nantinya. “Sejak kapan kita tidak tahu diuntung dan tidak mendengarkan perintah anda? “
“Kalian masih berani bertanya padaku? Kalian sudah menerima uang dari Lin Tian. Dan melepaskan orang tua itu. Apa aku salah?“
Anak buahnya menoleh ke arah sesuatu. Melihat orang tua yang masih demikian sakit di pembaringannya.
“Ini tidak benar, orang tua itu masih ada disini!“ jelas anak buahnya yang mulai marah dengan sang bos yang kurang menghargai pekerjaan mereka. Sudah capek-capek bekerja, bahkan taruhan nyawa, tapi masih juga kena damprat, maka akan beresiko kalau mendapat tugas lagi. Mungkin nanti kalau suruh menculik, maka yang diculik hanya sendalnya saja, atau bahkan kalau anak kecil akan di taruh di kandang ayam biar lari-lari. Karena tak ingin kena damprat lagi selagi masih mau melakukan pekerjaan berbahaya tersebut. Bagaimana tak berbahaya, kalau ditangkap bukankah nanti akan berada dalam kurungan seperti ayam saja.
Lin Tian nyengir.
“Gawat jebakan!“
Su sadar. Kursi roda kosong. Memang ada yang tak beres dengan lelaki tua yang tengah mereka culik namun kini bersama Lin Tian itu.
Soo…
Si ayah palsu terbang. Ternyata dia bisa terbang. Ini membuktikan kalau dia tak sakit, dia sehat, bahkan terlampau canggih untuk bisa bergerak secepat itu. Tentu sangat kontras dengan keterangan dokter yang menyatakan bahwa sang ayah demikian parah sakitnya. Jangankan untuk terbang, duduk saja sudah kerepotan.
__ADS_1
Plak!
Merebut HP yang tengah dia pakai untuk bicara. Sebenarnya tak baik berlaku demikian. Bukankah akan lebih baik kalau memintanya secara sopan, dan tak perlu main rebut rebutan begitu sehingga nanti akan marah. Jangankan HP istri saja kalau di rebut marah. Berikutnya si perebut itu mendarat dengan sempurna dan dapat poin Cepek.
“Apa yang kalian inginkan?“ ujar Su.
“Apa yang ingin kami lakukan tentu saja membereskan mu!“ dengan segera si Su Wumei dibereskan oleh Lin Tian.
Alat pendeteksi lokasi. Menyambungkan… dengan demikian, akan ada alat pelacak sinyal yang sudah sangat banyak dipergunakan. Sehingga orang berhubungan demikian bisa ditemukan.
“Orang di telepon itu, tidak jauh dari kota.“
Sinyal mendeteksi. Keberadaannya langsung tahu. Memang demikian canggih. Orang hanya dengan bicara saja sudah ketahuan. Apalagi pakai alamat lengkap. Karena dengan mereka saling berhubungan akan ada rambatan gelombang diantara dua ponsel itu. Dan inilah yang justru memberi tanda keberadaan yang tengah dihubungi.
“Bagus sekali, berangkat!“
Merobek masker muka. “Aku mau berangkat!“
“Xiaoli… Berangkatlah dulu aku akan segera menyusul,“ kata Lin Tian. Dia senang. Xiaoli yang sangat canggih itu sudah pasti sanggup menyelesaikan urusan tak besar tersebut. Yang tentunya akan segera tuntas apa yang mesti dilakukan. Sudah banyak kasus yang dia tangani dan berakhir dengan gemilang. Tak terkecuali kali ini. Dengan segala peralatan canggihnya, maka sang ayah Guru Chen Zillin dengan segera akan bisa diamankan. Xiaoli meluncur.
“Guru Chen semua ada dalam genggaman. Katakan bagaimana enaknya hukuman untuk Su Wumei.“
Terkejut guru. Bingung mau berbuat apa. Dengan teman, tentu tak tega. Apalagi sesame guru yang begitu di hormati. Namun melihat perbuatan tak baiknya serta ingin menang sendiri tadi, maka mesti ada konsekuensi dari kekeliruan yang dibuat. Sehingga tak lagi mengulang perbuatan yang sama. Namun juga bisa menjadi contoh buat lainnya yang mengerti akan permasalahan ini, untuk tidak mudah menghalalkan segala cara demi mendapatkan keuntungan pribadi. Mesti ada batasan-batasan dan norma yang tak bisa dilanggar. Sehingga untuk ke depannya sudah demikian berkurang orang-orang terhukum yang melakukan pelanggaran yang sama. Atau bahkan tak ada sama sekali.
__ADS_1
“Sekejam itu! Kalau begitu Su Wumei tidak akan punya muka untuk hidup lagi. Tapi aku suka idemu,“ ujar Lin Tian meradang. Cocok dengan ide tak baik itu.