Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 75


__ADS_3

Digunung tinggi, pada sebuah lembah, di suatu rumah, tujuh monster keluarga Xiong.


“Siapa yang menciptakan nama jelek ini?“ kata Cao.


“Hari ini kita mengintai mereka dulu. Lalu bunuh mereka semua sekaligus,“ ujar Lin Tian.


“Aku familiar sekali dengan dunia hitam seperti ini,“ ujar Cao Biluo yang sangat senang bertemu dengan dunia aneh seperti itu yang lumayan keras dan penuh teka-teki. Sehingga kalau tidak tahu atau salah dalam mengartikan kode bakalan langsung kena tebas golok setan yang mengerikan.


“Eh…“


Dua golok menebas. Saling menyilang.


“Jamur.“


“Kamu dari mana?“


Dua orang dengan senjata mengerikan itu.


“Begadang.“


“Berapa hargamu?“


“Eh jamur? Jamur apa? Aku hanya ada satu jamur, tidak bisa diberikan untukmu.“


Sat.

__ADS_1


Mengangkat pisau. Hendak main tebas pada siapa saja yang ada di depannya. Kali ini Lin Tian tentu saja sangat panik. Jangankan dirinya yang hanya daging berbalut kulit. Kelapa yang begitu keras saja bisa langsung terbelah pecah kalau sampai senjata itu mengenainya.


“Kenapa tiba-tiba kamu menyerang orang?“ ujar lin Tian dengan paniknya. Suaranya sampai gemetaran. Tangannya sampai dia pakai untuk melindungi kepala. Dan tak akan membiarkan si baju coklat ini main hakim sendiri dengan membacok kepala sewenang-wenang yang sangat disayangkan kalau hal itu terjadi.


“Tunggu dulu,“ ujar Cao. Padahal Lin Tian sudah mengangkat tangan di kepala. Untung dia dating mencegah. Bayangkan kalau tidak, dan terlanjur berayun senjata itu, bukankah jantungnya bisa berdebar kencang.


“Ini adalah bahasa dunia hitam, yang artinya: Siapa kamu? Darimana? Serahkan padaku saja,“ ujar Chao Biluo.


“Wah hebat sekali,“ kata Lin Tian yang mulai paham akan keberuntungannya membawa wanita cantik dan berpengalaman soal dunia hitam.


“Ha… Mau apa datang, apa mau minum susu, datang mama. Orang yang merindukan ibu, paman datang mencarinya (mencari orang yang sejalan dengannya)“ ujar Cao yang seakan bicara ngelantur, tapi hal demikian di dunia hitam sangat menyenangkan. Mereka begitu paham kode-kode demikian. Sehingga justru saling nyambung.


“Orang sendiri.“


Kedua penjaga mengangguk. Paham. Akan arti kode rahasia dunia hitam itu.


“Monster sungai kota pagoda (jika itu terjadi, suruh aku jatuh dari gunung dan tenggelam di sungai.)“ Cao terus bicara agar semakin paham orang-orang penjaga itu kalau dia sungguh-sungguh memahami apa yang tengah mereka perbincangkan. Bahkan dia menggunakan gerakan-gerakan yang mengikuti perkataan tak nyambung itu.


“Bor kepala boneka ayam liar. Bagaimana bisa pergi ke keluarga Xiong! (Kamu tidak asli)”


“Ada beras di tanah. Hei ada fondasi! (Lao Tzu adalah yang asli dan tua).“ Cao menunjukkan sebuah kemasan.


“Mm… Benar, benar, benar,“ ujar Lin Tian manggut – manggut. Dia bertambah paham saja pada pembicaraan yang dilakukan para bandit itu dalam melakukan transaksi dan komunikasi sehingga memudahkan pertemuan antar mereka yang saling berkebutuhan.


“Sudah memberi hormat pada Ah Ma (siapa gurumu dari kecil?)“ ujar si gelang melingkar sembari memberi tanda hormat pada para tamunya yang sangat sopan-sopan itu. Tak ada salahnya berlaku sopan diantara para bandit yang sudah mau memahami Bahasa mereka yang lumayan sulit itu.

__ADS_1


“Tidak ada ubin di rumahnya, tidak- tidak- tidak (aku tidak bisa mengatakannya sebelum mencapai aula utama)“ jawab Cao. Dia berusaha memberikan apa yang ada dalam koper nya itu kepada pimpinan tujuh Xiong yang tentu saja berada dalam rumah utama di gunung itu.


“Hebat sekali (apakah anda seorang ahli seorang veteran?)“ tanya mereka lagi. Yang terus berusaha mendapatkan info tentang isi dalam koper yang akan dijadikan barang tukar di dalam dunia bandit mereka.


“Dunia terkulai (bukan bualan)“ jawab Cao sembari menunjukkan koper berisi penuh benda-benda berharga. Dia berusaha sungguh-sungguh bahwa dia tak main-main kala menunjukkan koper itu jika memang isinya demikian banyak dan bukan hanya tipu-tipu.


“Hari apa ini kenapa ramai sekali?“ Nampak masuk seseorang dari arah pintu dimana mereka berdua dating tadi, namun mendapat hadangan dari para master yang kini ada di depan mereka.


“Halo aku adalah putra kedua keluarga Xiong. Kamu bisa memanggilku Xiong Er,“ dengan ramah orang itu memperkenalkan diri sebagai bagian dari tujuh bersaudara yang sangat mengerikan.


“Kalau ini aku mengerti,“ ujar Lin Tian yang sangat paham dalam bertutur kata. “Aku adalah bos keluarga Lin, kamu bisa memanggilku Lin Tian.“


“Saya Cao Biluo.“


“Panas panas (siapa yang menyuruhmu datang?)“ tanya Er. Dia membuat gerakan seolah sangat panas sehingga butuh kipas untuk mendinginkannya atau AC yang sangat dingin agar pas di cuaca gerah itu.


“Hahaha cuaca hari ini bagus sekali, tidak panas,“ ujar Lin Tian mengkoreksi keadaan. Bagaimana bisa, dikala cuaca demikian nikmat, pada puncak gunung yang teduh. Dan angina begitu sepoi-sepoi, tak bisa dianggap panas. Kecuali kalau dia penuh dengan lemak yang seakan membakar badan saja. Dia nampaknya tak sedemikian gemuk untuk mudah panas. Namun begitu kalau dia merasa panas, barangkali memang memiliki kelebihan di salah satu ilmu kedigdayaan yang dia miliki, makanya merasa demikian.


“Ini bahasa bandit,“ ujar Cao merevisi. “Tuan Xiong Er bercanda. Tuan muda Xiong ketujuh yang menyuruh kita kemari.“


“Ini adalah sertifikat ketenaran keluarga Lin, kami Shuangsha baru saja mendapatkan nya, kami dedikasikan untuk kalian,“ Lin Tian menunjukkan isi koper bawaannya. Agar mereka percaya dalam bertukar benda berharga dengan salah satu kepunyaan keluarga itu yang layak untuk diganti dengan isi koper besar tersebut.


“Silahkan naik gunung,“ ujar Xiong Er. Dia sudah merasa kalau taunya sudah bisa mendatangkan keberuntungan. Setidaknya alat tukar tersebut sesuai dengan yang bakal mereka berikan dalam rumah di atas gunung itu.


“Cao Biluo darimana kamu mempelajari bahasa bandit ini?“ kata Lin Tian berbisik-bisik. Mereka terus jalan menyusuri tangga naik gunung diantara semak lebat yang begitu asri kalau di pandang.

__ADS_1


“Menakuti harimau gunung dengan kepintaran,“ bisik Cao. Dia sudah paham akan dunia begituan dan merasa yakin kalau dirinya sudah bisa bertransaksi dengan para bandit mengerikan yang biasanya hanya memikirkan keuntungan semata. Namun dengan mereka kayaknya bisa berbisnis. Sehingga saling menguntungkan diantara kedua belah pihak.


Xiong Er menyeringai. Dia nampaknya mendengarkan pembicaraan kedua tamu itu meskipun sembari berbisik. Ada sesuatu dalam benar yang Nampak akan begitu menguntungkan bagi kelompoknya nanti disaat tengah menghadapi anak-anak kecil yang sok berani mendatangi sarang mereka yang penuh bandit itu.


__ADS_2