Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 6


__ADS_3

“Aku traktir kalian di kantin,“ kata Lin Tian. Bangga. Yakin. Kalau dia sanggup melakukan itu. Tentu karena uang yang bisa dihabiskan sangat banyak. Jadi kalau untuk sekedar membayar tak masalah. Yang masalah justru kalau tidak bisa menghabiskan uang sesuai target di hari itu.


“Apa? Apa kamu bilang? Kantin…“ Hao terkejut.


“Aku tidak salah kan? Dia bilang kantin?“ ujar temannya memegangi perut karena mules.


“Melihat dia seperti ini sepertinya hanya mampu makan di kantin saja ya?“ Mereka meremehkan sekaligus merupakan tantangan agar dia tak berani macam-macam hanya untuk melawan orang yang super kaya itu.


“Aku yang traktir tentu saja aku yang menentukan tempatnya.“


Lin Tian melambaikan tangan.


“Semuanya segera kumpul di kantin. Panggil teman-teman kalian.“


“Kantin juga lumayan aku sudah dari dulu ingin mencoba tumis kulit semangka dan beli mangga itu,“ kata Cewek Baju Kuning. Senang-senang saja. Di traktir. Semua orang juga mau. Hanya karena gengsi saja menjadi malu. Dan enggan makan makanan yang diberi orang lain. Apalagi kalau itu saingannya. Itu yang membuat enggan. Bahkan ada saja keliru nya. Misalkan makan daging yang besar, katanya membuat ke seretan di tenggorokan. Kalau kekecilan katanya uma se upil. Itulah yang serba sulit. Manusia. Apa saja bisa dikomentari. Seakan mendeskripsikan sebuah kenyataan menjadi bahan yang asik buat di bahas.


Walaupun rasa makanan di kantin tidak seberapa tapi tetap mengenyangkan. Cewek-cewek pada suka.


Kapan lagi. Apalagi kali ini si miskin Lin Tian yang tengah mendapat rejeki besar. Mesti diterima dengan penuh rasa syukur. Tidak di setiap harinya demikian. Juga pada pegawai kantin yang mestinya bisa siap. Sebab kalau enggan, karena melihat si miskin yang mentraktir, dan tentunya banyak pikiran macam-macam. Apakah nanti terbayar, atau Cuma menyuruh makan, lalu teman-temannya yang suruh bayar sendiri-sendiri. Lalu dia nya ngacir pergi. Itu yang mencemaskan si pelik kantin. Juga nanti akan bahaya, kalau kemudian mesti menagih satu demi satu yang sudah makan, tapi si ngajak kemudian ngacir. Mereka akan saling menyalahkan. Dan ujung-ujungnya yang kesulitan tentu saja yang sudah mengeluarkan banyak makanan yang berarti modal dagangannya, tapi tak kembali. Jangankan dapat untung, malahan buntung. Itu yang terpikirkan oleh sang pemilik.


“Kamu tidak sungkan mentraktir kita makanan kantin yang buruk itu? “ ujar Hao sinis. Tentu. Dia kan anak orang kaya. Makanan demikian dianggap tak bagus. Karena murah. Tentu saja hanya untuk para siswa. Yang uang sakunya tak mesti sama. Ada kalanya hanya cukup untuk membeli es teh sama kue bolong tengah. Sudah itu, sudah. Tinggal menunggu jemputan. Atau pulang jalan kaki. Dan yang jauh naik angkot yang bercampur peluh semua penumpang.


“Jangan omong saja, kalau mau, traktir juga dong!“


Kosong .


Ruangan itu sudah sepi.


“Jiang Hao siapa yang tidak bisa mentraktir di kantin, aku juga bisa.“

__ADS_1


“Apa aku menyuruhmu omong kosong?“ ujar Hao sembari menyepak temannya.


“Beritahu semua orang agar berkumpul di kantin hari ini. “


“Aku mengerti, tuan muda Jiang akan membuat Lin Tian jatuh miskin kan?“ kata temannya sudah yakin. Karena tuan ini demikian kaya. Tak mau melihat si miskin senang. Dia bakalan membuat perhitungan sama Lin Tian yang terkenal dadakan itu.


“Bodoh yang mau kita makan bukanlah milik si miskin itu!“ ujar Jian.


Di kantin siswa sudah sangat ramai anak-anak semua angkatan. Mereka telah memenuhi ruangan. Tempat duduk penuh. Yang tidak kebagian sampai rela berdiri. Ini demi menghormati yang mengundang.


“Lin Tian yang terkenal pelit itu yang mentraktir semua angkatan. “


“Semua angkatan? “


“Aku dengar seluruh sekolah. “


Teman-temannya saling membicarakan. Sembari menunggu pesanan datang.


“Minggir semua!“


Anak-anak saling berdesakan.


Semua terkejut.


Jiang Hao dan kawan-kawan menerobos masuk, menyibak kerumunan anak yang sudah mengantri sejak awal. Bahkan yang lemah tentu saja bertambah tertindas.


“Hari ini suasana hatiku sedang bagus aku akan mentraktir semuanya makan. “


Mobil berhenti.

__ADS_1


Restoran siap dengan juru masak dan pramusaji nya.


Mobil itu ternyata sebuah restoran berjalan yang bisa diminta kemana saja sesuai pesanan dari para pelanggan yang ingin mengadakan pesta meriah. Tidak hanya pesta ulang tahun saja. Peresmian rumah, syukuran perkawinan atau sunatan masal, juga bisa diundang tuh restoran mobil. Ini hanya bagian dari sebuah restoran ternama yang dikhususkan untuk pelanggan jarak jauh yang akan kesulitan pihak restoran, jika mesti memasak pada rumah makan itu lalu membawa secara matang pesanan ke lokasi pesta. Juga repot mempersiapkan alat kalau mesti memasak di rumah pelanggan, dengan membawa alat masak. Maka, solusi paling asik adalah dengan mobil dengan pelengkapan memasak yang sudah sangat lengkap serta modern. Sehingga apa-apa sudah tersedia, tinggal masak. Bahkan untuk masakan matang yang awet, bisa langsung dinikmati.


“Yang tidak suka makanan kantin silahkan datang kemari. Koki hotel Jiang Hao bintang lima milik keluarga tuan muda Jiang Hao turun tangan dijamin enak. “


Promosi teman-temannya yang seakan senang saja untuk melakukan itu. Lagipula dia juga nanti kebagian. Sebab seperti rekan ini yang terlampau kaya, maka segalanya dengan mudah didapatkan.


“Wah mewah sekali. Jauh lebih enak dari pada makanan kantin. “


“Tuan muda Jiang sangat tulus ini semua tidak bisa kalian makan tiap hari. Tidak seperti seorang yang miskin tapi berpura-pura royal itu. Sebenarnya dia pelit sekali. “


Hao memberi tanda jempol terbalik. Tanda sangat meremehkan Lin Tian yang memang sudah terkenal sebelum terkenal hari ini, sebagai seorang yang miskin tak punya, makanya pelit. Mau mengasih apa kalau tak punya.


“Lin Tian kita masih belum boleh mulai makan? Lapar sekali. Bagaimana kalau kita keluar dulu untuk mengisi perut. Nanti kembali kemari untuk Lin Tian.“


“Sih... di usia ini mau mengeluarkan uang saja membuat orang khawatir,“ ujar Lin Tian.


RRR...


HP berdering.


“Maaf Tuan Lin Tian angin hari ini sedikit besar,“ ujar suara dari HP nya.


“Walaupun sedikit terlambat tapi yang penting sampai,“ ujar Lin Tian menanggapi suara telepon nya. Dia nampak tenang-tenang saja demi permainan kali ini melawan teman nya yang sok itu.


Huh!


Angin sangat kencang. Tiba-tiba.

__ADS_1


Nampak dari atas parasut turun.


__ADS_2