
Pada suatu apartemen mewah dengan beberapa lantai termasuk ada lantai empatnya yang sangat mengerikan, dengan cat warna hijau yang menambah keseramannya, di situlah beberapa pelanggan saling berdiskusi.
“Cek cek aku tetap mau menyewa apartemen lama grup Lin Tian ini, tetap sewa saja mana tahu nanti ada gunanya,“ ujar Lin tian dengan bangganya yang berusaha mendapatkan apartemen dengan banyak lantai sehingga ada lantai #A atau berapa saja yang nanti akan dia manfaatkan untuk berbagai keperluan.
“Karena kita sudah bekerja sama begitu lama, aku memutuskan memberi potongan 20 % untukmu,“ ujar sang pemilik dengan sangat santainya kepada pelanggan yang sudah sangat baik hubungannya itu. Walau di luar itu mungkin ada yang memberi potongan 30 atau sekedar 22 tapi di sini sudah begitu peraturannya. Jadi mesti sama-sama senang hati.
Lin Tian hanya tertawa saja. Antara senang atau menggigil.
“Potongan kamu meremehkan ku ya! Hati-hati, aku tidak mau menyewa lagi!“ ujar Lin Tian dengan berang. Dan berujar sembari menggebrak meja kayu.
“Baiklah tidak jadi ada potongan,“ ujar pemilik apartemen sedikit gemetaran. Walau itu sudah dia ucapkan terpaksa dia cabut.
“Tidak, karena kita sudah kerja sama cukup lama, aku memutuskan untuk membayar lebih mahal 20%,“ ujar Lin Tian memaksakan diri untuk membantu si pemilik apartemen itu, supaya penghasilannya sedikit meningkat. Sehingga dengan menambah demikian saja, maka akan bisa juga memberi pemasukan yang sangat layak untuk mengurangi kerugian yang akan di timbulkan nanti, oleh berbagai faktor yang mempengaruhi itu.
“Hah, dia sudah gila ya!“ ujar pemilik apartemen itu. Termasuk juga Xiaoli yang ikut mendengarkan pembicaraan dua mata tersebut, nyatanya benar-benar sangat mengherankan. Diberi yang sangat mantap malah tidak mau, namun inginnya sesuatu yang sedikit merugikan, akan tetapi bagi sia bisa membuat tersenyum, itu sudah.
“Jangan. Aku menyadari, apartemen baru grup Lin Tian banyak yang kosong, lalu apartemen tua ini sudah tidak layak di gunakan,“ ujar Xiaoli berpendapat, alangkah bijaknya jika berpikir barang sejenak, sebelum bertindak lebih lanjut dalam urusan apartemen yang mengerikan tersebut, supaya tidak menyesal akhirnya atau barangkali saja nanti kepalanya bisa menggelinding di lift kan nanti akan mengecewakan.
“Hah?“ Lin Tian hanya tercengang.
“Aku mendadak menyadari kamu sepertinya mengatas namakan memberi bonus kepada karyawan untuk menghabiskan uang ya?“ ujar system mulai paham dengan semua akal yang tengah di lancarkan oleh pemuda tersebut, yang segala sesuatunya nampaknya memang tengah menghamburkan banyak dana hanya supaya nanti akan mendapat pengembalian yang lebih besar lagi.
“Hah… Tidak, aku bukan orang seperti itu. Aku akan segera meminta karyawan untuk pindah rumah,“ ujar Lin Tian.
__ADS_1
#
Dalam ruang apartemen itu.
“Ya ampun.“
Berderap para karyawan yang bakalan masuk ke dan dari apartemen tadi.
“Ke depannya, ini adalah apartemen baru grup Lin Tian. Selamat datang semuanya,“ ujar Lin Tian sembari membuka tangan lebar-lebar untuk menyongsong kedatangan mereka semua.
“Nah, aku bukan sengaja menghasilkan uang. Aku melakukan semua ini demi karyawan,“ ujar Lin Tian sembari tersenyum dengan nada panik dari rekannya itu. “Tidak perduli, kalian baru masuk atau sudah kama masuk, tidak peduli prestasi kerja, kalian semuanya boleh tinggal di sini.“
Dan disambut dengan meriah oleh para karyawan yang gegap gempita menyambut semua itu dengan nada riang dan penuh antusias. Bayangkan, dapat kerja saja semestinya sudah senang, ini ketambahan memperoleh apartemen yang sangat indah juga.
“Karyawan punya rumah, tapi aku tidak punya apa-apa,“ ujar Xiaoli yang Nampak sedih sesenggukan oleh perilaku menyimpang dari Lin Tian untuk menghidupi para karyawan, tapi sama sekali taka da keuntungan untuk system. Ini yang membuatnya terenyuh.
#
“Ini bukan mimpi kan?“ kata karyawan yang lain dan menganggap seakan semua itu hanyalah mimpi. Saying tadi banyak minum kopi sehingga terlanjur ata masih membelalak. Juga kalau di cubit pipinya, bakalan pedih rasanya.
“Tapi tempat ini sangat jauh dari perusahaan, tidaklah praktis,“ ujar karyawan lain yang merasa zonasi dalam mereka bekerja nantinya tidak sesuai, sehingga kalau mungkin bakalan memilih yang praktis saja, serta tidak perlu berjauhan dari lokasi.
“Oh, ternyata masih ada masalah ini,“ ujar Lin Tian yang berhasil menemukan masalah tanpa masalah dari berbagai kebijakan yang sudah dia putuskan kala itu.
__ADS_1
“Keraguan rekan kerja ini aku sudah menemukan cara penyelesaiannya,“ kata Lin Tian kemudian. Yang tentunya bisa saja dia cari sudut baiknya dalam usaha mendapatkan banyak pengembalian dari system nantinya.
“Iya, iya… Pasti akan ada bus, lalu kamu bisa menggunakan dry ice mu lagi. Memang hemat uang dan masalah terselesaikan,“ ujar Xiauli yang yakin akan banyak akal dari pemuda tersebut guna mendapatkan keuntungan pribadi.
“Berdasarkan aturan perusahaan yang terbaru, bagi karyawan masih tidak puas dengan lingkungan kerjanya,“ ujar Lin Tian memberi solusi. “Semuanya boleh libur.“
Lin Tian membuat semuanya senang, demi satu masalah yang dengan mudah bisa teratasi. Sehingga dengan demikian sudah tak ada yang komentar mengenai jauhnya lokasi perusahaan dari rumah yang setahun itu.
“Libur, tinggal di sini langsung libur? Kami akan libur sampai kapan?“ ujar para karyawan yang masih kebingungan hendak sampai kapan mereka boleh libur.
“Lihat sana. Kapan gedung ini selesai bangun. Kita baru akan mulai kerja,“ ujar Lin Tian sembari menunjuk kea rah gedung yang lagi di bangun. Jawaban ini membuat Xiaoli sendiri bingung.
“Direktur Lin, bagian pembuatan game tidak bisa libur. Lalu mereka juga tidak tinggal di sini dan tidak bisa kembali ke gedung grup Lin Tian yang lama, jadi kami harus bagaimana?“ tanya karyawati.
“Betul, betul. Semuanya tidak datang kerja, kalau gedung grup Lin Tian lama sudah tidak bisa disewakan lagi. Aku harus mulai mengurangi pengeluaran,“ ujar Xiaoli.
“Hmm.. Masalah ini pasti ada cara penyelesaiannya,“ Lin Tian berpikir keras. “Oh iya. Bagian pembuatan game tetap kerja.“
Asrama, ada di lantai tertinggi. Kemudian Bagian pembuatan game di bawahnya.
Dan di bawahnya lagi ada Asrama.
“Lantai atas dan bawah bagian pembuatan game langsung di rombak menjadi asrama untuk mereka tinggal,“ jelas Lin Tian.
__ADS_1
“Mau rombak juga perlu uang. Sialan. Lalu lantai lainnya juga tidak ada orang. Harus disewakan keluar,“ ujar Sistem.
“Tidak masalah, biaya sewa kantor harus paling mahal,“ ujar Lin Tian. Sembari memperhitungkan semua isi dalam ruangan itu yang penuh dengan banyak peralatan. “Aku yakin tidak ada orang yang akan menyewa kantor dengan biaya sewa yang semahal ini.“