Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 235


__ADS_3

THE DRAMA OF CHINA.


Nampak sebuah plakat dengan judul besar.


When Zhao Guan, Hip hop versi diperkuat.


Lin Tian tengah menyendiri, sembari mengkhayalkan kalau dirinya penyanyi hip hop terkenal.


Yo.. yeah.. Rembulan menyinari, Hati yang sedih seperti tertusuk panah.


Dia sembari melagukan tembang terkenal sembari menggunakan botol minuman sebagai mik, layaknya seorang artis terkenal yang penuh dengan Kharisma.


Berharap negara wu akan meminjam pasukan untuk berbalik.


Siapa sangka dihalangi Zhao Guan.


Dan ya


Dan ya


Dan ya


Punchline


Beberapa hari kerutan alisku tidak terbuka bagaimana caranya aku tidur tenang.


Drop the mic.

__ADS_1


Nampak seseorang yang tengah memandangnya dengan keheranan. Dia tak menyangka mempunyai boss yang sudah terlanjur goyang otaknya. Sehingga menari-nari sendiri, teriak-teriak dengan tanpa mik. Dan mengkhayalkan sesuatu yang tidak-tidak.


Eh…


Lin Tian menoleh ke belakang. Dia merasa ada sesuatu yang aneh di sana. Dan itu bayangan seorang karyawannya.


“Ada apa?“ tanya Lin Tian sedikit bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


Tatapan menghindar.


“Asalkan aku tidak malu, orang lain yang akan malu,“ ujar Lin Tian tak tahu malu serta berusaha membuang rasa malu dengan harapan toh dia hanya karyawannya yang pasti tak akan cerita macam-macam pada orang guna menunjukkan rasa malu tadi.


“Polisi Zhou Weiwei datang mengunjungi perusahaan, cepat temui dia,“ ujar Qian Duomei sembari membuang muka. Dia tak ingin memperpanjang urusan dengan bos yang tak tahu malu itu.


“Zhou Weiwei sudah lama tidak bertemu dengannya,“ ujar Lin Tian hendak menemui tentu saja dengan perasaan antara rindu bercampur dengan ngeri, karena polisi, sementara dia tadi dengan berjingkrak-jingkrak barangkali aka nada pertanyaan tentang penggunaan obat atau sejenisnya yang membuat pikirannya goyah tersebut.


#


Zhou Weiwei sembari kipas-kipas dengan tangan. Walau kursi empuk dan dalam ruangan kaca yang sangat teduh. Tetapi suasana benar-benar tak sedang bersahabat. Sehingga dia merasa kegerahan. Sehingga mesti mengenakan pakaian yang membuatnya adem.


Dia datang dengan sederhana. Pakaian pink, sepatu pink, dan ikat rambut kepang dua. Lenggak-lenggok aduh manisnya.


Untung duduknya sedikit sopan, sehingga lutut di tekuk sebagaimana wanita anggun.


Jika tidak maka Lin Tian yang sudah panik dan hanya bisa mengelus-elus paha, bakalan semakin tak karuan.


“Hei, lihat apa!“ Bentak Zhou Weiwei yang merasa risih dengan tatapan buaya lelaki sok gemetaran itu. Apa-apaan, mandang-mandang saja. Jangan suka pakai sikap gemetaran dan tangan memegang lutut begitu, seakan tengah menahan sesuatu yang membuat panik. Atau kalau memang demikian, kan bisa ngomong terus terang, sehingga dia akan membiarkan untuk sejenak pergi ke belakang atau kemana sesuka dia.

__ADS_1


“Aku, aku hari ini cuti, aku ke sini bukan untuk mencari masalah denganmu. Jangan bengong!“ ujarnya sembari mengangkat tangan, tanda bersahabat. Tak enak rasanya kalau bertamu, tetapi yang punya rumah hanya bengong dengan memikirkan sesuatu yang aneh dengan kehadirannya yang sangat seksi tersebut.


Lin Tian menatap dengan sungguh-sungguh wanita berpakaian tak lengkap itu. Tentu saja dengan tatapan tembus pandang supaya bisa mengukur seberapa besar potensi yang dimiliki wanita ayu di depannya tersebut. Sehingga nanti langkah tepa tapa yang pantas dikenakan padanya.


Nilai potensi 7.


Dengan potensi mendesain baju.


“Apa, dia juga salah satu ahli yang salah jalan?“ Lin Tian terkejut.


“Misi selanjutnya buat Zhou Weiwei masuk ke dunia fashion design, wujudkan potensinya,“ ujar Xiao Qian memberi misi.


“Hehe… Weiwei,“ Lin Tian senang dengan tugas tersebut.


“Apa yang akan kamu lakukan, aku hanya kemari untuk merasakan MR,“ ujar Zhao Weiwei panik dengan sikap Lin Tian yang terlanjur aneh itu.


“Tidak masalah. Aku bisa memberikannya secara gratis,“ ujar Lin Tian seraya meraih tangan Weiwei. “Tapi kamu harus membantuku. Kebetulan aku sedang membuat sebuah proyek baru dan kekurangan orang,“ kata Lin Tian serta mengingatkan kalau di tumpukan kertas itu banyak catatan tentang sebuah tugas yang sangat besar dalam merampungkan proposal tersebut.


“Bantu aku mendesain kostum untuk ‘The Drama Of China’,“ ujarnya lagi. Salah satunya adalah membuat kostum itu. Yang akan menambah daya Tarik sebuah pertunjukan. Dimana segalanya melayang pada sebuah masa dimana tema dan judul pementasan opera akan dimainkan. Untuk itulah kostum membuka ingatan penonton menuju ke era dimana tema pertunjukan tadi di lakukan.


“Mendesain kostum, aku sama sekali belum pernah melakukannya,“ ujar Zhou Weiwei panik. Jangankan mendesain baju, pakaian yang dia kenakan sekarang saja sangat sedikit, bagaimana mau mendesain baju. Dia merasa tak pantas untuk tugas besar tersebut. Dan akan lebih nyaman jika hanya mengenakan baju simple. Makanya suasana tubuh juga tidak gerah, dan mencucinya lagi juga simple.


“Kalau begitu, waktu kecil kamu pernah bermain boneka kan, apa kamu pernah mendesain baju mereka atau mencocokkan pakaian mereka?“ ujar Lin Tian terus berusaha memancing Zhou agar mau mengembangkan potensi nya. Dengan membandingkan dengan suatu boneka yang tentu saja banyak disukai anak-anak wanita. Makanya di dandani semacam anak gadis serta terlihat cantik menarik dengan bau harum serta warna-warni tubuh yang begitu beragam. Tentu saja dengan dipadu dengan baju mengkilap yang ukurannya sangat tepat di boneka kesayangan tersebut.


“Oh, semua teman-temanku sangat menyukai boneka kecilku,“ ujar Zhou Weiwei ingat masa kecilnya dulu yang suka boneka. Sebab ia wanita. Wanita suka boneka. Dan boneka itu indah. Dan keindahannya di sukai teman-teman. Makanya mereka pada suka, serta menyanjung apa yang sudah dia buat untuk dikenakan pada boneka kesayangan. Itulah suatu ingatan yang menggembirakan.


“Sama. Dengan kemampuan imajinasimu. Buatkan beberapa pakaian untuk The Drama Of China,“ ujar Lin Tian memberi semangat supaya dia bersedia menunjukkan talenta besar dengan potensi 7 yang tentunya tak main-main dengan nilai semacam itu. Sebab nilai potensi yang di berikan sistem, memang terkadang aneh, tetapi selebihnya merupakan bakat terpendam yang sejauh itu terkadang tak di ketahui oleh pemiliknya. Dan itu mesti di buka lebar, serta di keluarkan dari sebuah tempat terpendam. Ibarat emas, dia hanya seonggok pasir yang terbenam, tetapi kalau di buka dan di keluarkan serta di bentuk, maka menjadi suatu hiasan yang bernilai tinggi. Itu juga sebuah potensi, tak akan Nampak kalau hanya didiamkan saja. Perlu suatu usaha supaya bersedia menampakkannya.

__ADS_1


“Tapi…“ Weiwei tetap merasa belum yakin. Dia membuat baju saja tak pernah, hanya pakaian boneka, mengapa mesti di suruh membuat kostum opera yang demikian besar. Bisa-bisa akan kacau. Dan bukannya menjadi opera yang handal, malahan hanya semacam pentas badut saja dengan segala keanehan pakaian yang tak serasi.


“Kostum opera tidak mungkin disukai orang-orang kan, hehe…“ Lin Tian mengekeh.


__ADS_2