
Bus Tianlin melaju dengan kencang bus kuning besar dan biaya pemeliharaannya benar-benar terjangkau.
“Hari ini adalah hari pertamaku bekerja di lembaga pendidikan Tianlin.“ Sangat senang bapak guru ini. Jadi mesti merapikan diri sebaik mungkin. “Aku harus menjaga penampilanku.“
“Terminal toko Sanweishu sudah tiba mohon turun satu per satu dari pintu belakang,“ ujar petugas yang mengkonfirmasi kedatangan kendaraan yang sudah mulai banyak di tinggalkan. Karena kendaraan pribadi sudah banyak yang malang melintang di jalanan ibu kota.
“Lembaga pendidikan ada di sini. Mendidik generasi selanjutnya hanya bisa mengandalkan guru sepertiku,“ ujar Pak guru penuh dengan percaya diri. Makanya sangat senang mendidik anak-anak yang penuh semangat. Serta jika nanti waktunya tiba, saat berkumpul reunion kembali, mereka akan sangat terkenal mengenai materi apa yang sudah ia ajarkan, dan sebagai titik tolak untuk menyukai suatu pelajaran tersebut yang benar-benar sangat mengena di pikiran sehingga apa yang sebelumnya tak di sukai menjadi sebuah kebanggan tersendiri. Dan itu karena pak guru tua ini yang sudah mengajarkannya. Makanya dia sangat senang dan bergembira ria untuk mendidik anak-anak muda generasi Z yang memang sangat-sangat berkompeten dengan pembelajaran ini.
Namun apa yang terjadi, manisnya dirasa sekejap saja. Dia tercengang. Pada sebuah jalan masuk itu Nampak berkerumun banyak orang yang tengah antusias.
“Apa yang terjadi kenapa semua orang berdesakan di tempat ini?“ Membuat pak guru hanya bisa menyeka keringat akibat tak bisa masuk ke dalam.
Segera di pandang maps yang jangan –jangan keliru alamat.
“Aku tidak salah lihat peta menunjukkan tempat ini adalah lembaga pendidikan Tianlin, tak kusangka begitu ramai. Jangan sampai mengganggu belajar. “
“Maaf numpang lewat, aku guru di sini,“ ujar pak guru sembari menyelinap di sela-sela para murid yang tengah antri mengejar sesuatu.
“Kamu lihat baik-baik, bukan hanya kamu. Kami semua juga guru,“ ujar para guru yang lain yang tengah ikut mengantri.
Akhirnya hanya bisa pasrah.
“Semuanya tidak bisa masuk jangan-jangan. Lembaga pendidikan Tianlin sudah ditutup,“ ujar pak guru sembari bergetar. Dia tak menyangka akan demikian. Bila segalanya itu telah tutup, maka bisa saja akan berakhir segala impian yang mesti dia lakukan hanya supaya bisa memberikan ilmunya yang sangat banyak tersebut kepada generasi anak bangsa yang mesti mempunyai pengetahuan sangat luas itu.
“Kamu lihat sendiri,“ yang lain memperingatkan sembari menunjuk ke atas. Dimana Nampak secara mengerikan sebuah gedung dengan gambar yang juga menyeramkan dengan naga merah serta gedung merah yang Nampak angker. Menandakan kalau gedung Tianlin itu jelas-jelas masih eksis karena seram begitu.
__ADS_1
Waktu gerbang sekolah di buka setelah 15 Menit 52 detik.
“Apa maksudmu! Belum sampai jam mengajar tidak ada orang yang boleh masuk?“ tanya pak guru. Biasanya waktu masuk paling hanya beberapa menit sebelumnya. Supaya ada masa untuk mempersiapkan diri. Atau setidaknya para guru akan di ijinkan berada di dalam setidaknya bakalan membuat nyaman para pembuat jadwal yang menandakan kesiapan dari pengisi materi untuk melakukan pembelajaran tersebut.
“Ada satu saudaraku bekerja di grup Tianlin. Dengar-dengar pintu besar kantor mereka juga dibuka tepat waktu,“ ujar karyawan lain yang tengah berbincang tentang ketepatan waktu membuka di grup Tianlin yang memang ketat. Jadi mereka mendingan pada menunggu dengan tertib seperti tengah mengantri KTP atau mau menonton film saja, sehingga semuanya Nampak senang dengan tanpa memperdulikan yang menunggu bakalan kecapekan. Nyatanya kalau sudah berhasil, juga senang saja tanpa rasa sakit juga.
“Aku tahu itu. Dengar-dengar mereka boleh terlambat tapi tidak boleh tiba lebih awal,“ kata yang lainnya.
Semua keanehan itu di dengar dengan oleh guru yang juga baru sadar kalau segalanya mesti sesuai dengan peraturan demikian.
“Hah, tak kusangka ada hal seperti ini. Aku paling benci melihat orang yang datang terlambat. Segalanya harus dikerjakan lebih awal ini, Adalah hukum alam yang tidak boleh dilanggar,“ ujar Pak Guru sembari membuka dadanya pertanda kalau dia sama sekali tanpa menyukai hal yang berbau terlambat, sehingga semua mesti tepat waktu bahkan kalau perlu datang lebih awal sehingga akan siap untuk waktu yang sudah di tentukan dengan tidak ada kata melesetnya, serta mestinya lembaga sudah paham jika semua itu sudah siap untuk melakukan pembelajaran.
#
“Lembaga kursusku sudah tutup dan rugi besar. Kenapa kamu masih bisa buka,“ ujarnya dendam. Mengapa dirinya tak di izinkan, sementara perusahaan aneh itu masih terus beroperasi di kala masih saja ada orang yang tengah menderita kekurangan dengan keinginan memberi pengajaran tetapi di hambat keinginannya itu.
“Lin Tian tidak peduli kamu miliarder atau bukan. Sekarang aku akan melapor hal ini ke polisi kamu akan menerima hukuman yang sama denganku, hahaha…“ ujarnya sembari terus menelepon orang yang berkompeten dengan urusan lembaga yang menurutnya sangat nekad dengan membukanya tanpa menghiraukan siapapun, layaknya dia yang mesti berhadapan dengan pihak berwajib karena semuanya itu telah membuat dirinya mesti berurusan dengan ruang terali besi yang dingin. Inilah makanya dia mesti melaporkan pada pihak terkait, supaya jangan sampai orang-orang itu terus melanggar haknya dan membuat dirinya yang sudah di rugikan itu akan semakin muak sehingga kegiatannya menjadi kacau demikian.
“Halo, apa yang bisa aku bantu halo apakah kamu masih mendengar. Haha huh maaf aku ingin melapor ada lembaga yang masih membuka les. “
#
“Pintu sudah terbuka.“
“Cepat masuk aku masih mau mempersiapkan materi. “
__ADS_1
“Cek murid juga sudah datang setengah jam kemudian polisi akan dating dan menangkap kalian semua. “
“Stt kebab ini pedas sekali tapi sangat enak. “
#
Setengah jam kemudian.
“Pak polisi, sekolah lembaga pendidikan Tianlin masih membuka les yang melanggar peraturan,“ ujarnya sembari memberikan sebuah pengaduan akan sebuah kekurangan yang tengah dilakukan oleh pihak lawan yang bertentangan dengan apa yang sudah di perlakukan kepada dirinya yang sudah di tangkap paksa dahulu. Makanya dia memberi pengaduan.
#
“Sekarang sudah zamannya mengurangi beban murid. Kami pasti akan menyelidikinya baik-baik,“ ujar petugas.
Berikutnya,
“Bersiaplah untuk menyerang.“ Nampak suatu pergerakan.
“Semuanya jangan bergerak kalian sudah membuka les diam-diam dan itu sudah melanggar hukum.“
“Hah!“
“Apa apa ini?“ semua terkejut.
“Aku yang sudah mengajar belasan tahun juga tidak pernah melihat kondisi seperti ini.“
__ADS_1