Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 111


__ADS_3

“Aku mau studio ini“ Ujar lin tian pada petugas


“Berapa harga sewa per bulan nya? “


“Imax tidak hanya mencari untung, tapi lebih untuk menarik perhatian gedung bioskop kita. Tidak untuk disewa,“ ujar petugas bertopi putih itu seraya menggeleng-geleng kan kepala.


“Kalau begitu aku masih memiliki satu usulan,“ ujar Lin Tian. Lalu menuju ke suatu tempat. Dia akan bicara penting dengan si pemilik lokasi tersebut, agar semua bisa di atur dan rencana akan sukses. Dan karyawan yang di pasrah tugas mengelola juga tidak kebingungan dalam menentukan sikap nantinya. Akibat rencana berikut bakalan sedikit menyimpang dari kebiasaan yang telah berjalan. Setidaknya agar segalanya lancar itulah dia mesti bicara pada pemilik tempat tersebut.


Kedua rekannya, si Panda dan topi putih hanya penuh tanda tanya.


Lin Tian masuk. Membicarakan sesuatu dengan pimpinan Imax itu. Dan kemudian jabat tangan.


“Beres,“ kata Lin Tian kembali ke Xiongma Jun dan petugas bertopi itu. Dia telah membuat kesepakatan sama sang pemilik. Yang artinya segala urusan untuk melaksanakan kegiatan tersebut bakalan bisa berjalan lancar.

__ADS_1


“Aku sudah menyewa restoran besar di sebelah itu. Yang di atasnya dan di atasnya lagi total 3 lantai Aku juga telah menyewanya. Berikan aku satu set imax yang paling mewah. Aku mau main game. Kursi tim tidak perlu banyak - banyak cukup lima saja. Di belakangnya adalah ahli analisis data, ahli gizi. Pemain garis atas, tengah, jungler, dan pendukung ada masing-masing akan didampingi seorang pelatih. Dan ada satu ketua pelatih,“ ujar Lin Tian terus berstrategi. Uang tidak masalah. Yang penting keinginannya tercapai. Dengan semboyan, biar rugi asal dapat kembalian dari sistem.


“Tapi, apa restauran besar itu bersedia menyerahkan tempatnya. Mereka sangat mementingkan laba?“ kata Xiong yang tak habis pikir jika restauran sebesar itu akan merugi kalau tidak beroperasi. Padahal semua itu butuh dana besar supaya tetap berdiri tanpa merugi dan untuk urusan semua karyawan yang tentunya butuh makan serta menghidupi keluarga nya.


“Menyerahkan tempat. Tidak, tidak. Kamu salah paham. Jajaran koki dan pelayan mereka tidak berubah. Setiap hari tetap memasak dan melayani. Hanya saja ke depannya mereka hanya akan melayani tim,“ kata Lin Tian. Kembali dia menjelaskan untuk aturan yang sudah berjalan baik dan tak membiarkan orang-orang yang terlatih itu tanpa pekerjaan. Dia mesti memanfaatkan tenaga itu dengan sebaik-baik nya. Sehingga tetap ada pekerjaan tetapi restoran juga bisa di pakai untuk lebih mencerdaskan tim.


“Apa kita masih akan tinggal di sekolah. Cukup jauh jaraknya kalau dari sini,“ ujar Xiang Ma Jun memperhitungkan jarak antara sekolah dengan Imax latihan tersebut yang membutuhkan waktu karena jarak yang demikian jauh. Berbeda dengan dahulu kala dia ke warnet yang bisa dengan jalan kaki. Walau pulang malam dan sempoyongan akibat mata lelah karena terlampau lama menatap cahaya layar monitor. Kini harus jauh dan mesti menang jika bantuan dia pada Lin Tian bisa berhasil.


”Keren sekali tim kalian masih membutuhkan orang tidak?” ada yang iri. Memang tak banyak perusahaan yang demikian. Menyediakan asrama sekaligus kendaraan. Yang penting semua bisa nyaman. Dan untuk tujuan utama melakukan tim game itu berhasil dengan kuat. Hingga kemenangan dapat di raih nantinya. Sementara yang lain, tentu akan di suruh bayar kos sendiri, lalu lokasi Imax juga biaya dengan bensin sendiri, dan yang pasti mesti tepat waktu. Itu bagi kebanyakan perusahaan. Dimana tak boleh melanggar aturan yang berat, akan kena SP nanti. Dan berikutnya akan di suruh mundur.


”Eh…”


”Sudah ku putuskan kamu adalah pelatih. Tentukan sendiri gaji mu sesukamu jangan sungkan-sungkan,” kata Lin Tian senang dengan tawaran itu. Dia berharap, tim nya akan maju sekaligus berhasil mencapai kemenangan yang gemilang sehingga bisa dipertahankan untuk permainan tim berikutnya yang membutuhkan kekompakan. Semakin lama sebuah tim itu bergabung, maka akan semakin kuat mereka dalam melakukan kewajiban nya serta lebih kompak.

__ADS_1


”Kenapa aku? Aku merasa terjebak,“ ujar si Xiongma Jun yang merasa terjebak, dalam lingkaran membius. Namun dorongan jiwa tak sanggup di tahan untuk membantu Lin Tian.


“Capek sekali menghamburkan uang,” ujar Lin Tian yang merasa capek melakukan kegiatan yang tak biasa tersebut. Mestinya kan sedikit sedikit uang itu di tabung, di masukkan ke bank saja supaya nanti bisa berbunga dan dapat di pakai untuk masa depan, atau masa di mana tengah kesulitan sesuatu, maka akan bisa di fungsikan. Tak seperti ini, selalu dan selalu begitu. Uang yang banyak malah akan di sebar begitu saja pada orang-orang aneh, semacam panda dan si jago basket itu. Yang natabene tak memerlukan uang, dia hanya butuh untuk main game saja. Uang sekolah itu bahkan dia pakai untuk kesenangan pribadi. Yang bagi Lin Tian sifat itu yang seperti nya bisa membantu dia meraih sukses dalam mendapatkan dana kembalian dari sistem. Yang tak ada harapan untuk sukses. Hanya kalau merasa saja bahwa semua itu bisa membuat dia sadar diri. Bahwa tak selamanya main game baik. Terutama untuk keuangan dan mata.


“Siapa yang bisa membantuku menghamburkan uang…“ Lin Tian mengeluh. Tak banyak yang bisa. Dalam artian kalau Cuma menyebar di jalanan mungkin banyak, tapi yang menghamburkan uang, tapi oleh sistem di anggap, maka kemungkinan nanti akan dapat kembalian dari sistem tersebut bisa cair. Cuma sistem juga membutuhkan berbagai pertimbangan dalam menghabiskan dana tersebut, agar bisa bermanfaat buat orang banyak, atau sukses sesuai peraturan. Sehingga pengembalian dana itu juga berjalan mulus.


Klang!


“Lin Tian!“ ujar Cao Biluo.


“Cao…“ ujar Lin Tian malu. Seakan baru kepergok melakukan apa, habis mandi atau tak siap. Dia segera menutup diri. Supaya auratnya tak nampak pun.


“Aku mendengar kamu sedang membangun tim ya? apa masih membutuhkan orang? Kami bertiga Mau bergabung,” kata Cao Biluo dengan membawa dua rekan cantiknya. Mereka ingin sekali bergabung dengan Lin Tian yang sudah biasa menjadi bos mereka. Dan kali ini taka da alasan untuk membiarkan si bos itu kebingungan menghamburkan uang nya. Maka dengan suka rela mereka membantu hal tersebut.

__ADS_1


__ADS_2