Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 290


__ADS_3

“Namaku Vidi seorang pria yang ditakdirkan akan sukses,“ ujar Vidi dengan pakaian perlente yang sangat keren dan balutan warna marun yang serasi antara atas dan bawah, belum lagi dengan dasi yang menambah keren-nya seorang lelaki. Semakin di puji juga dengan pakaian mewah itu. Walau tak mempunyai dana, tapi andai berpakaian necis, orang-orang akan sedikit menghargainya. Dibanding dengan orang yang berpakaian sekedarnya.


“Aku pasti akan sukses. Karena aku memiliki otak bisnis dari kecil,“ ujar Vidi lagi dengan penuh semangat. Seakan uang tiada arti. Sebab seringkali dia mandi uang. Dan itu sudah merupakan suatu hal yang lumrah bagi orang sukses semenjak lahir akibat otak prodigy yang dimilikinya.


“Saat SMP aku memanfaatkan jam pulang sekolah menjual barang.“ Demikian gigihnya dia menjual barang-barang dagangan. Walau hanya beralas seadanya di tepi jalan sembari jongkok seharian dan berteriak-teriak, itu adalah sebuah kerja yang nyata dalam menekuni bidang bisnis yang mulai dari kecil-kecilan hingga nanti kalau ada bisnis besar sudah tidak kaget lagi.


“Saat sekolah, aku menjual jawaban PR dan ulangan kepada murid yang tidak sempat belajar.“ Karena encer, itu juga membuat semua tugas dengan mudah di kerjakan, bahkan tak perlu berlama-lama. Asal ada waktu, maka bakalan langsung selesai kala itu juga. Pokoknya asal ada materi yang sudah di ajarkan, di saat itu juga akan langsung dia tuntaskan dengan sempurna. Ini berkat otak yang sangat brilian.


“Saat pulang sekolah aku menjual bola kartu game kepada murid yang mau main.“ Cukup dengan seratus saja sudah mampu membuat mereka yang punya uang ketagihan. Sehingga akan ada transaksi yang lumayan banyak untuk mengumpulkannya dalam waktu singkat. Bahkan jika menjelang habis namun kebutuhan mendesak, harganya bisa saja lebih dari itu. Pokoknya asal laku saja, sudah beres.


“Awalnya, aku mengira bisa kaya raya. Tak kusangka….“


Dengan menghela nafas sebentar, dia mengingat kejadian memilukan itu.


“Sekelompok orang yang membeli jawaban denganku malah mengeroyokku.” Macam-macam gaya para musuh itu dalam melakukan pengeroyokan. Ada yang pakai sepatu biru, ada yang pakai celana biru. Yang jelas keras kali saat kaki kena kepala sampai mengilap. Belum lagi si jaket merah, dia paling kuat menekan kaki, walau sudah menutup dengan tangan sampai bercucuran air mata, tetap saja mereka menindas.


“Karena, jawaban yang aku jual adalah hasil kerjaan ku sendiri. Hanya bisa mendapat nilai sekitar 20.“ Lebih paling tiga biji dengan bonus tanda silang merah yang melebihi jumlah poin.


“Lalu, sekelompok orang yang membeli bola juga mengeroyokku.“ Sama seperti tadi. Macam-macam gaya para musuh itu dalam melakukan pengeroyokan. Ada yang pakai sepatu biru, ada yang pakai celana biru. Yang jelas keras kali saat kaki kena kepala sampai mengilap. Belum lagi si jaket merah, dia paling kuat menekan kaki, walau sudah menutup dengan tangan sampai bercucuran air mata, tetap saja mereka menindas. Begitu.

__ADS_1


“Karena bola yang aku jual adalah hasil yang aku tambal sendiri.“ Sehingga saat di tendang langsung bisa hancur, bagaikan sebuah bintang yang meluncur ke lubang hitam. Langsung di mampatkan. Bagaimana mau nyaman kalau sesuatu yang saling di kejar serta di buru bisa hancur begitu.


“Oh iya, orang yang membeli kartu juga memukulku, karena aku yang menggambar sendiri kartu-kartu itu.“ Padahal gambarnya sangat keren. Dengan imajinasi tingkat tinggi dengan nilai abstrak yang begitu kental. Tapi mereka tak menyukai kreatifitas. Hingga begitulah hasilnya.


“Kemudian, Aku mengeluarkan semua uangku untuk mengganti rugi.“ Bahkan sampai menjual baju celana demi ganti rugi tersebut. Untungnya tahan dingin walau sedikit menggigil, tidak mengapa, masih ada celana untuk menutup malu. Dan dinginnya udara tak sedingin hati yang beku.


“Hidupku sangatlah menderita. Aku menjadi orang baik yang tidak menjiplak hasil karya orang lain. Lalu kartu yang aku gambar juga begitu cantik.“ Walau tak menyadari, tidak semua hasil karya itu melegakan orang lain. Karena yang dibutuhkan adalah kartu yang sesuai dan laku di suatu permainan. Sementara bola juga mesti kuat, agar saat menendangnya, seperti menggambarkan itu kepala orang yang dibenci, jadi bukan begini, yang mudah pecah serta hancur lebur bagai debu. Mana ada puasnya saat menendang.


“Iya. Masih ada yang lain lagi? Kak aku semakin mengagumimu,“ ujar Lin Tian yang seperti posisi di awal yang selalu tertarik akan kerugian besar bagi perusahaan, tapi tetap percaya diri.


“Kenapa? Kamu ingin menjiplak hasil karyaku lagi?“ ujar Vidi sembari menyeruput the hangat yang penuh kekerabatan. Dia semakin curiga pada orang yang selalu menjilat dengan kata-kata manis itu. Lagi pula masih banyak karyanya yang belum dia jual sehingga bakalan di jiplak oleh manusia itu.


“Oh, serius?“ Jiwa bisnis Vidi langsung bergejolak. Apalagi sudah terpupuk semenjak kecil. Jadi demi mendengar ada uang masuk, sudah menghijau matanya.


“Aku tidak hanya membeli proposal perencanaan, ini aku juga akan menginvestasi mu untuk menjalankannya. Karena aku tidak percaya dengan yang lainnya,“ ujar Lin Tian seraya menyerahkan cek tunai dalam amplop putih yang besar dan tentu saja isinya begitu berharga.


“Cek cek, aku ada satu rencana, berharap direktur Lin bisa dengar baik-baik,“ ujarnya penuh dengan rencana, setelah mendapat kepastian.


“Toko milk tea yang tidak perlu antre.“

__ADS_1


“Oh, coba katakan,“ ujar Lin Tian berbinar, sangat menyukai usul itu.


“Toko milk tea sekarang antre, semakin panjang toko booming, yang baru buka antrenya bisa sampai tiga jam baru bisa minum. Aku merasa ini bukan hal yang baik. Agar pelanggan bisa merasakan pelayanan yang baik dan tidak ingin antre, kita bisa coba dua jalan ini. Pertama toko kita harus besar. Semakin besar, antre pun tidak terlihat panjang,“ ujarnya mengeluarkan unek-unek yang baru kali ini ada orang yang bersedia mendengarkan barang sedikit.


“Ya ampun. Dia memiliki persamaan yang sama dengan apartemen Tianlin baruku. Benar-benar genius.“ Puji Lin Tian.


“Kedua, pilihan lebih sedikit, asalkan pilihan sedikit maka waktu memilih akan berkurang banyak. Atau membuat milk tea secara acak-acakan. Pelanggan tidak boleh memilih topingnya. Masuk ke dalam toko langsung ambil dan pergi,“ ujar Vidi menjelaskan rencana selanjutnya.


“Mantap, mantap sekali. Pelanggan bukan lagi raja, mantap. Mari kita jalankan satu per satu proyeknya. Sekarang jalankan yang boros uang itu, huk… jalankan toko milk tea yang besar dan enak itu.“ Lin Tian sangat senang. Dia langsung saja menyerahkan uang satu koper agar terwujud sesuai dengan perencanaan besar tersebut.


“Sepertinya direktur Lin adalah orang yang bisa mengubah kesalahan. Bagus, bagus sekali. Tapi, Aku mau pergi ke mana menjadi lokasi yang luas itu.“ Sedikit kebingungan Vidi untuk menemukan lokasi seperti idenya. Mungkin butuh tempat penitipan yang lagi memerlukan tempat untuk minum. Disitu baru bisa tepat.


#


“Anakku, tempat penitipan anak baru kita, masih kurang satu toko minuman, kita mau pergi cari siapa?“ tanya ayah.


“Ayah, jangan panik. Direktur Lin pasti sudah mengaturnya dengan baik,“ ujar Ma Keji yang masih yakin akan kerjasama dengan bos boros itu.


Dia menekan HP untuk mulai pembicaraan.

__ADS_1


#


__ADS_2