
“Semua orang mencelakai aku. Kalau usaha ku tidak merugi, apa yang akan aku gunakan untuk melanjutkan hidupku. Aku harus makan apa dan memakai pakaian apa?“ ujar Lin tian sedih. Kini sebagai orang miskin dia mesti berpikir ‘makan apa’. Tak seperti orang kaya lain yang memikirkan ‘makan siapa’. Itulah yang kini mesti jadi ganjalan dalam mempertahankan hidup.
‘Lin Tian ini, apa yang ada dalam otaknya setiap hari.’ Ujar nya seraya bertanya, “Hei, kamu mau membawaku ke mana sebenarnya?“
“Berhenti. Disini tempat nya. Ini adalah proyek yang aku taruh harapan besar,“ kata Lin Tian pada suatu rumah yang sangat menyeramkan.
Rumah hantu yang menyeramkan. Dari namanya terbayang bagaimana nanti jika berada di dalam. Pasti bakalan ada hal-hal yang begitu menyeramkan, kegelapan, dan tanpa ada sinar sama sekali. Bahkan kalau perlu benar-benar berkabut yang dingin dan lembab. Itu yang seakan jelas nyata Nampak dari gambaran akan nama yang demikian menyeramkan tersemat dari padanya. Selain pocong, tentu bakalan ada suster ngesot, kuyang dengan segala kengerian nya, leak yang berkuku dan bertaring panjang yang suka mencakar-cakar musuh yang penuh dengan dosa, juga ada hantu jeruk purut kepala buntung. Ini bakalan menjadi hantu-hantu tradisional yang selain mencengangkan juga menumbuhkan bulu roma merinding setiap saat. Sangat-sangat tak sedap nanti nya. Juga ada kuntilanak yang suka menculik anak, sundel bolong dengan punggung bolong yang buat keluar anak. Atau hantu pocong yang belum sempat di lepas tali pocong nya sudah keburu di tinggal pergi. Tentunya selain hantu daerah, masih ada banyak hantu luar negeri yang sengaja di impor guna menakut-nakuti para penakut agar takut untuk berbuat jahat dan setelah keluar dari rumah penuh keseraman itu tak akan berbuat dosa lagi.
“Ini adalah rumah hantu.“
“Dari luar sama sekali tidak mirip rumah hantu.“ Dari luar Nampak biasa-biasa saja. Hanya sebentuk rumah ala kadar nya dengan tingkat keseraman yang demikian rendah. Siapa nanti yang bakalan mau masuk. Kalau semua menginginkan bahwa rumah hantu itu mesti seram dan tak bersahaja. Bahkan kalau peru bagian luar nya mesti di beri pewarna cat darah, agar begitu berkesan. Ini sebaliknya. Tak ada gambaran itu sama sekali.
“Ayo masuk, kamu akan merasakan. Di dalam nya sangat berbeda dari penampilan luar,“ kata Lin Tian sekaligus promosi. Supaya yang takut tak perlu terlampau ngeri, namun yang terbiasa dengan jiwa petualangan yang mengikuti uji nyali saja sudah terlampau biasa, bakal terkesan.
“Hah… Tunggu dulu. Bagaimana kalau aku tidak masuk saja,“ ujar si cewek sedikit enggan untuk bertemu dengan para hantu yang jangan-jangan nanti suka memindahkan otak ke perut, atau mereka bakalan memakan otak mereka. Jadi bisa menjadi zombie yang menyebabkan mereka terus bergentayangan.
“Eh, jangan-jangan kamu takut ya,“ ejek Lin Tian sembari muka nya demikian menjijikan. “Bukan nya kamu suka olahraga ekstrim.“ Es Krim ya suka, kalau ekstrim belum tentu. Kan berbahaya.
“Mana mungkin aku aku tidak takut. Olahraga ekstrim berbeda dengan ini,“ kata si cewek mengakui nya. Semua nya biar jelas. Jadi jika nanti dia menjerit, Lin Tian langsung akan paham dan tak usah bicara hal banyak lagi.
“Jangan takut, tidak ada hantu di dalam rumah hantu ku,“ ujar Lin Tian kalau rumah hantunya tak akan ada hantu. Barangkali hanya ada pocong gabus atau tahu pocong saja yang demikian enak nanti.
“Selain itu, sama sekali tidak menyeramkan, terang benderang,“ kata nya lagi kalau rumah itu benar-benar penuh dengan bala lampu yang bertegangan tinggi dan bisa membuat kepanasan kalau hantu berani berani nya masuk ke rumah hantu itu.
__ADS_1
“Aku tidak begitu percaya perkataan mu,“ ujar rekan Lin Tian yang sama sekali tak mempercayai kata-kata sahabat nya itu. Sebab sudah seringkali terjadi. Apalagi namanya sudah demikian. Masa rumah hantu taka da hantunya. Lalu bagaimana nanti kalau casper akan mencari rumah hantu itu jika sangat berbeda.
“Bos, kita baru saja selesai inovasi. Kita belum melatih NPC,“ lapor para karyawan sebagai bagian dari tanggung jawab kerja. Dimana selalu mesti melapor akan kejadian yang terjadi hari itu. Atau sejauh mana kerja yang sudah berjalan. Supaya bisa ditindak lanjuti mesti bagaimana dalam melanjutkan pekerjaan mencari solusi kalau ada tersendat nya kinerja yang tengah berjalan itu. “Entah hasil nya bagus atau tidak. Bagaimana kalau lain kali…“
“Apa yang perlu di latih, andalkan akting seadanya saja,“ ujar Lin Tian sama sekali tak menginginkan semua langsung bisa tanpa mendapat rugi yang membuat diri nya tak bisa jajan nanti. “Ke depan nya, NPC yang di panggil kemari, tidak perlu di latih.“
“Mari saya perkenalkan. Kali ini saya menggunakan bahan baru.“
“Aku tidak mau dengar mantra – mantra mu.“
“Ke depan nya, kalau ada pengunjung, tidak usah mengatakan apapun, bawa mereka bermain langsung.“
“Ayo kita masuk,“ ajak Lin Tian.
Lin Tian keburu ingin memamerkan bagian dalam nya.
Gadis menutup muka. Seakan tak sanggup melihat. Kalau-kalau langsung ada darah di dalam nya, atau ada kepala yang memantul kian ke mari. Semua tentu tak akan bisa dia tahan.
Di kelas…
“Eh, ruang kelas.“ Namun hal itu membuat terkejut.
“Jangan-jangan scenario nya melarikan diri dari pembantaian besar.“
__ADS_1
“Ah, monster.“
“Eh…“
“Kenapa kalian terlambat?“
“Eh ada scenario ya.“
“Kalian berdua. Kenapa kalian terlambat,“ tanya bu Guru. “Selain itu, kenapa kalian…“
“Jangan-jangan guru yang makan orang,“ bergidig juga si cewek demi mengkhayalkan yang menyeramkan begitu.
“Kenapa kalian tidak memakai seragam. Lupa ya?“ ujar Ibu Guru. “Mari ibu akan membawa kalian ganti seragam.“
#
“Wah bagus sekali.“
“Eh, sekmen ganti pakaian ini, sepertinya akan disukai, bagaimana kalau dihilangkan,“ ujar Lin Tian yang tak suka terlalu terbuka. Selain bikin malu, juga akan membuat trauma buat mereka yang sangat disukai nanti nya.
“Satu set seragam JK ini, harga nya 5000 yuan. Kamu harus menyayanginya,“ ujar bu Guru sembari memberi peringatan kalau tak semudah dan semurah yang dibayangkan untuk mendapat seragam demikian saja. Semua kini mesti rapi. Seragam boleh saja. Yang jelas harus selalu ganti tiap harinya. Tak seperti jaman dulu. Kalau ganti dua hari sekali. Senin selasa putih biru, rabu kamis, batik, dan jumat sabtu kojarsena. Ini beda tentunya dari masa lampau. Yang mesti ganti setiap hari. Walau belum luntur benar, namun sudah harus di ganti. Biaya cuci laundry sekarang lebih mahal dari harga satu pakaian. Itu yang mesti diperhatikan. Makanya sebisa mungkin harga pakaian seragam harus mahal, supaya bisa mengimbangi mencuci nya.
“Wah, mahal sekali. Bagian ini boleh dipertahankan,“ ujar Lin Tian sudah mulai paham akan para karyawan yang sudah mulai paham akan kebutuhan nya. Sejauh sistem bisa memahami, maka semua akan berjalan lancer, dan tak perlu sungkan-sungkan lagi.
__ADS_1
“Selanjut nya kita akan mulai bagian yang menakutkan.“