
Su Xueqing. Dia adalah idola semua mahasiswa di sekolah. Memiliki latar belakang keluarga yang baik wajahnya juga rupawan. Tubuhnya juga indah. Rajin belajar. Unggul dalam olahraga. Dia juga memliki andalan. Yaitu senyuman manis yang sangat hangat. Tak disangka dia ikut balap mobil.
“Lihat apa kamu bodoh!“
Lin Tian langsung berpaling. Dia menyadari kali ini tengah diperhatikan si Dewi. Dia jadi kikuk. “Huh tak disangka sang Dewi juga bisa sok seperti itu.“
Siap!
Terdengar aba-aba tanda akan dimulainya pertandingan balap dengan hadiah yang sangat besar itu.
3… 2… 1.
Go!!!!
__ADS_1
“Mengendarai bus butut apa otakmu bermasalah?“ ujar Jiang Hao yang mengejek Lin Tian dengan kendaraan barunya yang salah memilih akibat banyak faktor penyebabnya. “Lin tian! Kali ini aku akan menginjak mu dibawah kakiku! “
“Gadis cantik kenapa masih belum jalan?“ tanya Lin Tian keheranan dengan orang yang sudah cantik, bahenol, ternyata lamban sekali untuk mendengarkan kata juri agar mulai jalan tadi.
“Aku sudah berjanji pada wasit akan memulai lima menit lebih lambat. Kalau tidak dia akan menyebutku menyiksa mereka,“ ujar Su Xueqing yang sebenarnya masih sangat yakin akan kemampuan mobilnya yang penuh dengan akselerasi balap dengan berbagai perhitungan demi lancarnya laju kendaraan baik ini.
“Kalau begitu aku akan menunggumu,“ ujar Lin Tian seakan menjadi seorang gentleman saja apa-apa seakan mengorbankan diri supaya si gadis tak bermasalah. Padahal dia juga berpikiran, kalau menang pada si gadis yang sudah terlambat start maka akan menjadi pemenang kurang seimbang.
“Kecil cuma lima ratus ribu saja,“ ujar Lin Tian. Namun dia ingat, “Kita harus merendah… Harus merendah…“
“Lagi pula uang ini adalah uang sistem aku tak bisa menghamburkannya di tempat lain. Dan lagi 500 ribu ini tidak sia-sia. Karena belum tentu siapa yang menang dan kalah,“ ujar Lin Tian lagi. Kalaupun habis tak mengapa. Dan akan menjadi pengalaman lain kalau ternyata sekarang juga berhasil memenangkan pertandingan besar kali ini. Itu akan membuatnya semakin percaya diri, dikenal orang dan juga bangga. Lihat saja sebelumnya bagaimana dia sudah berhasil menangkan beberapa pertarungan sengit dengan lawan yang notabene jauh lebih segalanya akan dirinya. Tapi sistem itu telah berhasil membuatnya menang. Dan membuatnya semakin terkenal saja. Maka tidak heran jika kali ni tentu sistem akan membantunya dalam memenangkan pertandingan yang banyak disorot oleh umum itu.
“Sebuah bus yang tidak dimodifikasi apa kamu benar-benar serius ingin menang?“ tanya Su lagi. Sama seperti yang lain, dia juga pesimis, bahkan cenderung meremehkan si pemuda miskin yang hanya punya mobil seadanya itu. Bagaimana bisa kendaraan besar tanpa kemampuan balap sama sekali. Belum lagi jika pada tiap tikungannya yang pasti akan kesulitan manuver kendaraan besar, serta titik belok yang tentunya akan sangat kurang dibandingkan dengan si kecil yang mudah melaju di jalan serta kala membelok sudah pasti lebih ringan. Ini sangat mengkhawatirkan. Tentu akan slip kalau terlampau cepat. Itu jika titik belok nya sesuai dengan rencana. Terkadang meleset yang membuat bakalan terseok-seok walau sejenak, sebelum akhirnya bisa menentukan posisi lagi ke arah yang jelas. Bahkan ada kalanya si kendaraan akan slip sejenak meski bukan kecelakaan, yang mengakibatkan tiap rodanya tak mampu mencengkeram aspal, untuk berhenti di titik yang dimaksud, akibat dorongan kecepatan pada tiap roda untuk terus meluncur cepat walau roda sudah terdiam.
__ADS_1
“Orang gunung memiliki perhitungan sendiri. Aku Lin Tian bukan orang yang lemah,“ kata Lin Tian yang masih percaya diri. Dia memang masih mengandalkan keberuntungan. Bagaimana tidak. Apa yang dilakukan kali ini sudah pasti di bawah standar. Kalau untuk mengangkut orang banyak, bus memang jagonya dan sudah pasti menang. Tapi kali ini balap mobil yang mengandalkan kecepatan dan ketepatan hingga garis finis yang menandakan berakhirnya perjalanan. Sudah itu, kalau hanya mobil-mobil keren saja belum tentu akan sanggup memenangi balapan liar yang taka da ijin ini. Masih perlu berbagai variasi lain agar mobil cepat serta mudah dikendarai oleh orang yang punya skill tinggi juga. Sebab semua pembalap yang berani main di ajang ini pasti mempunyai kemampuan diatas rata-rata para pembalap lain.
“Lin tian apakah dia yang akhir-akhir ini sering dibicarakan di sekolah itu? Aku ingin lihat bagaimana caramu menang,“ kata Su yang kurang yakin akan kemampuan anak yang baru mau ikut permainan ini. Sementara yang sudah biasa ikut, juga banyak yang belum berhasil naik podium. Sehingga kecil kemungkinannya anak yang hanya coba-coba untuk berhasil meraih kemenangan. Sebab acara kali ini bukan main-main. Dengan diikuti para jawara di bidang balap, yang sudah kesohor oleh seluruh daerah untuk kemampuan masing-masing personilnya. Belum lagi didukung oleh kendaraan yang menjadi kebanggaan tiap-tiap produsen pabriknya. Dimana sudah menjadi incaran para pengemudi untuk memakai kendaraan yang sangat nyaman di pakai dalam segala pertandingan yang memerlukan skill serta kemampuan mengendalikan mobil cepat itu.
Shark…
“Jalankan rencana sampai menang. Langkah pertama adalah langkah kunci,“ ujar Lin Tian. Dia duduk santai saja di dekat pengemudi. Karena tak punya SIM, tak punya keterampilan, dan yang jelas tak punya malu… dikit. Dia asik saja menyuruh Xiaoli supaya yang canggih dalam menyetir. Tidak banyak meleng, juga mesti fokus dalam melihat suasana jalan. Karena mesti menang. Sebab kalau kalah bakalan malu. Apalagi mobilnya kecil-kecil. Mobil besar kalah sama yang kecil kan malu. Untuk itulah, bagaimanapun harus menang. Kali ini mesti ada kemampuan untuk dapat memenangkan semua pertandingan yang di inginkan sistem. Agar bisa melanjutkan permainan dengan lebih nyaman.
Kring kring.
Halo…
“Baik rencana akan segera berhasil.“ Lin Tian menghirup udara dalam-dalam. Sangat yakin dia untuk acara dan rencana yang bakal dia lakukan kali ini. Walau kemungkinan gagal juga ada, minimal itu persentase kecil saja dari perhitungannya. Asal ada keberanian untuk melaksanakannya, apa yang tak mungkin, maka kemudian akan bicara lain. Sebab segala sesuatu tentu berasal dari keberanian. Dan tinggal menunggu hasil. Itulah yang mesti dikembangkan, juga segala yang harus dilaksanakan, tinggal menunggu waktu supaya bisa menyesuaikan rencana yang tersusun dengan hasil yang berikutnya akan tercapai. Kemudian pelan-pelan dalam telepon itu dia bicara, “Paman polisi ada keramaian di gunung Luojia.“
__ADS_1