Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 122


__ADS_3

“Aku sudah jadi guru selama 20 tahun bagaimana mungkin aku tidak tahu bagaimana cara kalan mencontek,“ ujar pak guru dengan gemas. Karena ada saja kelakuan anak jaman now yang suka menari cara guna mendapat keuntungan sendiri. Termasuk berhasil mendapatkan jawaban tanpa berpikir.


“Walaupun aku belum pernah melihat yang menggunakan drone. Tapi kamu telah membocorkan soal ujian, pasti kamu memiliki mata-mata,“ tuduh pak guru. Itu yang langsung tertangkap dalam pikiran nya.


“Sejak awal aku sudah mengawasi Lin Tian. Pasti bukan kamu yang menyebarkan nya sendiri. Siapa itu. Siapa yang menyembunyikan handphone dan menyebarkan soal.“ Pak guru terus meneliti semua-semua yang ada di situ. Sampai ada yang bersedia mengaku untuk bisa menyudutkan Lin Tian yang sama sekali tak bersedia memberi sedikit uangnya yang 5 ribu itu.


“Kalau kalian tidak mengaku jangan salahkan aku tidak sungkan. Peralatan rahasia tongkat keamanan.“ Dengan alat itu semua murid diperiksa. Semacam alat deteksi kejujuran. Namun semua bersumber pada alat yang di temukan. Kalau yang dituju tampak dalam alat itu, maka dia akan memberi kode tertentu. Makanya disebut alat deteksi kejujuran. Atau kalau tak mengaku bisa digetok kan ke kepala si di tanya, pasti bakalan mengaku.


“Menyebalkan... Masa bukan mahasiswa yang menyebarkan,“ kata Pak Guru semakin kacau melihat anomali ini. Biasanya kalau siswa ketahuan, maka si penyebar juga ikut terlihat. Tapi kali ini sulit di deteksi. Darimana anak miskin itu bisa menggandakan perangkat yang demikian banyak, sehingga semuanya pada tahu.


“Lin Tian cepat katakan. Sebenarnya apa yang kamu lakukan? Bagaimana caramu menyebarkan soal ujian?“ Bentak pak guru yang tak suka ada anak yang main-main membocorkan soal ujian. Apakah karena ada soal berikut jawaban yang disertakan. Atau soal itu disebar oleh satu orang lalu di gandakan oleh sebuah sistem yang demikian canggih, sampai-sampai seluruh siswa pada tahu.

__ADS_1


“Lihat ke atas sana,“ tunjuk Lin Tian pada peralatan yang sudah dia persiapan demi mendapat nilai bagus atas orang yang terbiasa berlaku demikian namun dia tak menyadari kalau tengah dijebak akibat kebiasaan tak benar tadi.


Pak guru menatap ke atas. Meneliti pada baling-baling, pada atap. Dimana sudah banyak terpasang beberapa titik alat yang tak kentara.


“Aku mengerti, ini dia...“


“Ini adalah... kamera.“


“Ada kamera di seluruh kelas ini,“ kata Lin Tian yang sudah bersusah payah memasang kamera canggih. Sehingga ada saja gerak gerik siswa yang di dalam jangkauan benda tersebut yang masuk ke perekaman nya. Sehingga kegiatan buruk juga terekam jelas. Karena demikian banyak. Tersembunyi. Baik kamera yang sangat canggih, maupun yang suka mati hidup di layar monitor akibat terlalu tinggi di pasangnya. Sehingga kalaupun ada kegiatan sangat buruk akan bisa dipakai buat senjata menjatuhkan lawan.


“Tapi walaupun kamu memberitahuku. Kamu juga mencelakai dirimu sendiri Lin Tian,“ ujar Pak Guru yang pastinya tidak serta merta menyerah pada murid yang terkenal miskin itu.

__ADS_1


“Namun dengan memberiku sedikit uang aku tidak akan melaporkanmu pada atasan...“ terdengar suara.


“Pak guru, ini adalah kamera yang sangat canggih, tidak hanya kualitas gambarnya bagus. Tapi suaranya juga sangat jernih, apapun yang kamu katakan terdengar sangat jelas. Perkataan tentang merubah nilai yang tadi anda katakan. Juga sudah direkam,“ ujar Lin Tian. Merubah nilai tentu saja bukan hal yang bagus. Walau banyak faktor yang membuat demikian. Ada kalanya orang yang tak ikut ujian berhasil. Ada yang nilainya buruk namun berubah di hasilnya. Itu semua bisa saja dibuat. Karena faktor tadi. Bagaimana orang yang rajin namun nilainya buruk. Atau nilainya bagus tap perangainya jelek, semua akan di rubah dengan berbagai penilaian yang tidak saja berdasar atas angka yang tertera di akhir. Namun perjalanan sepanjang dia menuntut ilmu itulah yang kemudian menjadi patokan seorang pendidik untuk bisa menghasilkan nilai akhir yang kemudian tertera di kertas laporan. Sehingga buat yang asal merubah tanpa suatu patokan akan dianggap merugikan. Buat dirinya juga yang lainnya. Karena bisa saja yang nilainya bagus jadi jelek, tanpa tahu penyebabnya.


“Ini....“


Pak guru gembrobyos. Bagaimana tidak. Itu sesuatu yang membahayakan karier nya. Bahkan termasuk rasa nya. Dia bisa di kacau oleh anak didik nya, yang mestinya menjadi bagian dari alat pendulang untuk dirinya mendapat sedikit hasil. Tapi sekarang kacau. Selama 20 tahun lancar, kini harus terhenti. Ada kalanya kelakuan tak semestinya dari orang lemah begitu mampu merubah niatan kurang terpuji menjadi satu hal pembelajaran yang tak harus tertulis. Namun berjalan sesuai dengan waktu yang menggulir.


“Tapi... Aku juga bisa memilih untuk tidak menyampaikannya pada atasan,“ ujar Lin Tian mencoba bersikap sedikit bijak. Bagaimanapun dia adalah gurunya. Meskipun berbuat kekeliruan, namun segalanya bisa di rubah untuk sekedar menjalani hidup yang lebih baik lagi. Apalagi dia juga salah. Mencontek itu salah. Berbuat urang. Tidak jujur. Walau dapat nilai bagus tentunya tak akan baik di belakangnya nanti. Sehingga kebiasaan baik mesti di lakukan dalam perubahan itu.


“Aku... kamu kira aku takut akan ancaman mu?“ ujar Pak Guru. Meskipun begitu dia paham resikonya. Kalau ketahuan pada atasan, pastinya akan ada sanksi. Bisa saja dia tak mengajar lagi. Tidak mengawasi untuk ujian selanjutnya. Bahkan bisa saja di copot dari jabatannya menjadi guru teladan yang tanpa tanda jasa.

__ADS_1


“Bagaimana kalau kamu mencobanya?“


“Lin Tian selamat, kamu telah menyelesaikan ujian. Kamu boleh meninggalkan ruangan,“ ujar Pak Guru pasrah. Ujian akhirnya lulus. Ujian kali ini memang sedikit kacau. Atau dikacaukan oleh anak itu. Memang tak selamanya ujian tertulis mampu merubah seseorang. Angka-angka itu terkadang dimaksudkan untuk tujuan tertentu. Yang semestinya anka yang tertera di laporan sebagai hasil dari kegiatan belajar selama masa tertentu pada kenyataannya ada yang tidak sesuai. Terutama untuk tujuan akhirnya. Dimana mereka yang pintar dengan hasil terbaik, akan terkalahkan oleh orang bodoh dengan nilai rendah yang punya darah dari orang keturunan hebat. Orang pendiam terkadang hidupnya lebih sengsara dari yang terkenal nakal, suka main Jetak pada anak miskin, juga kalau main, kasar. Mungkin memang lebih indah mengatakan jika nilai itu sebagai akhir dari perjuangannya mencari pendidikan demi perjalanan hidup kelak. Dan kesengsaraan yang di dapat oleh seorang dengan nilai baik merupakan awal dari kebahagiaan di masa berikutnya. Sebab bahagia tak harus kaya. Bahagia adalah masalah hati. Dan itu bisa didapat hanya untuk rasa di suatu waktu tertentu dimana situasi juga dirasa nyaman pada batin nya.


__ADS_2