
Episode 3
“Uang yang kau ikat di paha mu jatuh,“ jelas Lin Tian. Uang keluar dari celana bawah sesuai dengan apa yang diucapkan Lin Tian.
“Sialan kamu!“ ujar pimpinan penjahat yang geram menyaksikan ada anggotanya yang berbuat demikian. Sama sekali tak menyangka. Sebelum mereka berangkat sudah dia kasih tahu, bahwa nanti hasilnya akan dibagi, namun tidak demikian, bukan maksudnya untuk mengambil apa yang sudah diperoleh sendiri - sendiri. Tapi dikumpulkan, baru dibagi rata sesuai dengan posisi dalam kelompok itu. Jadi tidak ada yang mendapat lebih banyak dari yang lain hanya demi kepentingan pribadi semata.
“Aku rasa walaupun kalian punya kantung untuk tempat uang tapi kakak ini kasihan sekali dia hanya bisa memakai celananya untuk... “
Namun kata - katanya di cegat. Lin Tian tak selesai mengucapkan kata – kata yang bernada pemecahan, agar para perampok itu mengerti akan ucapannya itu.
“Tidak! Darimana uang ini? Sama sekali tidak ada hubungannya denganku!“ ujar perampok gendut keriting dan berbaju pink itu mengelak kalau dia sebelumnya bahkan tak tahu menahu adanya uang tersebut. Tahu-tahu saja uang itu sudah ada di celananya.
“Kakak ini walaupun memenuhi celananya paling banyak hanya bisa membawa beberapa puluh ribu saja benar-benar tidak lebih bagus dari kantong. Bagaimana kalau aku carikan kantong untuk kamu,“ kata Lin Tian terus berusaha bermain kata, agar terus timbul perselisihan diantara mereka sendiri.
“Tidak benar! Ini pasti adalah jebakan dari bocah sialan ini!“ kata Perampok gendut tetap saja tak mengakui pada sesuatu yang bukan pekerjaannya.
“Aku hanya seorang yang baik hati saja,” kata Lin Tian seakan semua itu hanya untuk membantu satu kesulitan yang tengah dialami oleh para perampok tersebut.
“Tapi kakak yang satu lagi tidak bodoh. Dia mencari orang untuk membantunya menyembunyikan uang tersebut,“ ujarnya seraya menyindir pada perampok lainnya yang juga masih tak paham pada apa yang diperbuat oleh rekan-rekan perampok nya.
Lin tian membantu menarik tangan bu guru Chen Zhilin agar bangun. Dia berusaha mencari dukungan kata-kata agar semua perampok tetap mempercayai apa yang dia ucapkan.
“Gadis cantik inilah,“ Lin tian menunjuk bu guru yang juga masih kebingungan, karena tak mengerti apa-apa. Tapi langsung saja ditunjuk sebagai rekan dari sang perampok guna membawa kantong agar bisa menyembunyikan uang hasil rampokan itu.
“Lin tian, kamu?“ ujar Chen Zelin keheranan pada apa yang tidak dia perbuat juga. Matanya sampai hendak melompat keluar saja di balik kaca mata indah yang demikian mahal dan dibayar dengan beberapa cicilan itu.
“Stt… menurut saja,“ bisik Lin Tian. Agar semua rencananya berjalan lancar, dan segalanya akan bisa menyelamatkan yang ada disitu dengan korban yang tak seberapa.
Dia lalu mengeluarkan duit.
__ADS_1
“Gadis ini dipaksa sampai tak berdaya, untuk membantu kakak ini menyembunyikan uang.“
Lin Tian menunjuk pada perampok berbaju biru dan bertopi serta memakai cadar.
[Lempar dollar]
Peraturan penggunaan 1: uang akan muncul di lokasi pengguna. Jumlahnya ditentukan oleh pengguna.
Itu peraturan penggunaan yang dilakukan Lin Tian.
“Aku?“ Yang dituduh bingung. Badannya sampai bergetar. Tak menyangka kini tuduhannya mengarah ke dirinya. Jangankan untuk mengambil, melihat uang itu saja baru kali ini. Jadi tidak benar tuduhan itu. Namun mengapa uang itu ada. Dan jelas-jelas mengarah pada dirinya?
“Kalian satu persatu tidak jujur sekarang kita bertugas malah ingin korupsi lebih banyak uang untuk diri sendiri,“ ujar pemimpin perampokan itu sangat marak akan kelakuan anak buahnya yang meskipun perampok tapi terlalu berbuat yang diluar rencana.
“Kami tidak pernah melakukan kesalahan padamu. Kamu tidak percaya pada kami. Kita sudah bilang bukan kita yang melakukannya,“ kata perampok kriting berusaha membela diri. Dia tak ingin selalu disalahkan terus. Barangkali ada sesuatu yang nantinya bisa membenarkan kalau mereka-mereka ini sama sekali tak mengerti akan masalah pelik ini.
“Kalau bukan kamu apa ada orang lain yang tiba-tiba muncul disini?“ ujar pemimpin perampok sembari menodongkan pistolnya. Sudah jelas-jelas bukti ada pada mereka, namun tetap saja mengelak. Ini sama sekali tidak dibenarkan. Dan itu mesti mendapat hukuman.
“Kakak kamu tidak boleh begitu,“ ujar Lin Tian lagi. “Bukankah kamu juga mengambil sedikit uang dan menaruhnya disana?“ kata Lin Tian. Dia menunjuk pada pimpinan perampok.
Dan apa yang Lin Tian sebut benar adanya. Disana ada segepok uang.
“Lu Haoping kamu juga tidak jujur,“ ujar perampok kribo marah. Kali ini bukan hanya para anak buah yang melakukan kecurangan, ternyata pemimpin kelompok itu juga melakukan hal yang sama.
“Sialan. Beraninya kamu menyebut nama asliku!“ kata Lu Haoping, si pemimpin perampokan yang tak suka namanya diucapkan di depan umum. Sehingga membuat semua kini tahu.
Dor!
Pistol menyalak dari tangan Lu Haoping. Kini dia tidak main-main. Anak buahnya kali ini sudah sangat keterlaluan. Menyembunyikan uang, korupsi, kali ini malah menyebut nama dengan sembarangan. Ini tak bisa di tolerir, dan hukuman mati mesti dilakukan bagi anak buah yang kurang ajar.
__ADS_1
Peluru itu langsung menyasar ke teman-temannya. Pada jarak yang demikian dekat, membuat Lu Haoping tak mungkin salah dalam menemukan titik bidiknya.
Bruk bruk.
Perampok - perampok itupun jatuh. Mereka tak menyangka, kemarahan bos mereka benar-benar tak terkendali. Semula yang sudah sesuai rencana untuk sama-sama senasib dan bisa mendapatkan harta jarahan tak sedikit, kali ini mesti berakhir dengan tragis. Karena satu lain hal yang sulit dijelaskan. Atau ini memang sudah menjadi resiko dari para petualang yang memakai kekerasan, maka akan berakhir dengan kekerasan juga. Walau yang kini berbuat adalah rekan sendiri. Sebab biasanya lawan mereka adalah pihak berwajib, keamanan atau justru para tawanan yang melawan.
Ah!
Jerit pilu dari para perampok yang terjungkal berlumuran darah. Peluru itu langsung mengarah ke bagian vital mereka.
Soo… Soo….
Desing peluru terus keluar dari pistol Lu Haoping.
Lin tian berusaha melindungi Chen Zhilin, bu gurunya agar tak ikut kena peluru nyasar yang dilakukan oleh para perampok itu.
Perampok - perampok itupun terkapar.
“Gawat rupanya aku belum menghabiskan uangnya masih ada 100000 yuan,“ ujar Lin tian tengah merenung memikirkan langkah apa yang mesti diambil untuk menghabiskan uangnya.
Disekelilingnya para perampok pada bertumbangan.
Tik tak….
Jam 3:55
Klik!
Tahu-tahu ada pistol yang mengarah ke kepalanya. Dekat, sangat dekat. Dan sekali pelatuknya di tekan, maka akan mengakhiri segalanya.
__ADS_1
“Semuanya adalah ulah mu! Mati kamu!“
Lin tian terkejut. Lu Haoping masih hidup. Dan kali ini tengah mengincar nyawanya. Dia sudah paham akan kelakuan Lin Tian.