
Tart…
HP jam 12
“Halo… Investasi apa lagi?“ taya Lin Tian.
“Masih sama, investasi untuk ku. Aku ingin memanfaatkan uang investasi darimu, dan keluarga Su untuk membuka perusahaan baru,“ ujar Su Xueqing dalam telepon nya.
“Bukankah keluarga kalian termasuk dalam 10 besar. Pengusaha besar di kota ini. Mana perlu investasi dari ku lagi?“ kata Lin Tian sembari menguap. Dia nampaknya masih sangat mengantuk. Karena kemarin rapat besar-besaran yang memerlukan energi lebih. Serta sangat menguras tenaga dalam mengeluarkan ide-ide gila tersebut.
‘Huh, kalau sampai mendapatkan laba, siapa yang akan memberi ku ganti rugi. Eh salah, wuih, puh, siapa akan aku beri ganti rugi.’ Gumam Lin Tian diantara menggumam nya karena penuh kumuran air pasta, sedang gosok gigi.
“Meskipun memalukan, tapi aku harus mengatakan, kalau perusahaan baru ini kemungkinan besar akan mengalami kerugian,” ujar Su Xueqing yang sedikit malu dalam menerangkan kalau keluarga Su tengah berada dalam kesulitan.
“Kalau kamu bicara seperti ini, aku tidak mengantuk lagi,“ ujar Lin Tian yang langsung bersemangat demi mendengar kata tengah merugi.
“Apa! Kamu adalah seorang direktur. Kenapa kamu masih tidur?” ujar Su yang terkejut melihat direktur demikian siang bangun nya.
“Siapa bilang, aku sudah tiba dari tadi, begitu aku mendengar mu, aku sudah tahu kalau kita akan bekerja sama lagi,” kata Lin Tian yang sudah ada di hadapan Su. “Katakanlah. Bagaimana kita akan merugi dalam investasi kali ini.”
“Apa ada yang tidak beres pada otak nya? Untuk apa investasi kalau merugi?” ujar orang yang mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
“Belum tentu. Ada orang yang memiliki banyak uang dan gemar menghamburkan uang sia-sia,“ ujar teman nya yang sedikit bijak dalam memahami si Lin Tian yang belum ganti baju. Sama seperti kemarin. Ini juga yang jadi pengenal nya. Dan bagi si pendengar tersebut kayak nya sudah barang tentu uang demikian banyak ini yang kemudian bakal dia pergunakan untuk berbagi. Serta berinvestasi di berbagai produk agar semakin terkenal. Serta bisa mendatangkan rejeki bukan hanya bagi dirinya yang sudah kelebihan uang, namun juga buat semua saja, yang membutuhkan sehingga nanti nya rejeki itu akan merata pada semua lapisan.
“Aih, masalah ini harus diceritakan dari beberapa bulan yang lalu,“ kata Su mengingat kenangan dulu.
#
“Mulai sekarang, keluarga Su resmi memiliki bisnis e-commerce,“ kata Ayah Su Xueqing, Su Zhentian. “Bersamaan dengan itu, kita juga akan mengembangkan produk. Dari kue snack, menjadi makanan matang.“
“Baik,“ ujar para karyawan yang setuju akan usul Su Zhentian dengan ide cemerlang nya yang ingin mengembangkan bisnis di bidang lain.
“Benar Su Zhentian sudah bergerak,“ ucap mata-mata yang selalu saja mendapat info dari berbagai sumber serta bisa disusupkan oleh para bos agar ketahuan apa yang tengah di percakapan dalam rapat penting tersebut. “Akun palsu yang akan bersandiwara sebagai korban sudah siap. “
“Saudara – saudara, benar sekali yang akan aku perkenalkan pada kalian, hari ini. Adalah modifikasi kue tradisional China Lao Gansu. Silakan dibeli,” ujar pembaca berita dengan iklan yang sudah membayar nya.
Pada komentar:
‘Hoek. ini sangat tidak enak, aku muntah’
‘wAktu itu aku memakannya, kemudian terbaring 3 hari di rumah sakit, mencuci lambung’
‘Jangan beli, Lao Gansu sangat menjijikkan.’
__ADS_1
Laporan penjualan bulanan, 10 bungkus.
“Rata penjualan harian kita di supermarket dan pasar mencapai ribuan,“ Su Zhentian terus berpikir tentang kurang lakunya produk itu. Lalu katanya, “Perbanyak budget iklan dan marketing! Tuntut mereka untuk pencemaran nama baik!“
“Aih, kemudian netizen malah menilai kami membuli pelanggan dan menggugat konsumen. Kami benar-benar di celakai akun-akun palsu itu. Sekejap mata, merek tua yang sudah kita bangun selama ini tidak bisa dikembalikan. Kami terpaksa bertahan dan membuat perusahaan baru yang akan merugi untuk menjadi penolong perusahaan lama.“
“Aku akan membantumu,“ kata Lin Tian tegas. Dia tak ingin keluarga Su terus berada dalam tekanan. Biar dia yang rugi tidak mengapa yang penting Su dan ayahnya kembali berjaya. Rasanya sudah senang kalau bisa membantu orang lain demi kembali kepada kesejahteraan keluarga itu. Yang nanti nya dia juga bisa mendapat keuntungan dari pertemanan baik tersebut. Kalaupun tak hari ini, maka untuk beberapa waktu berikutnya akan saling timbal balik. Dan kenyataan tersebut yang bisa berjalan lancar, demi hubungan sosial antar dua hati yang sama-sama tak bisa di tebak isi nya itu.
“Kalau begitu sudah diputuskan. Aku sudah memberitahukan dari awal ya. Kemungkinan kamu akan merugi,“ ujar su mengulangi nya lagi supaya nanti tidak kecewa kalau terus rugi. Dan dengan ini misalkan rugi yang hanya pusing sedikit tak sampai stress.
“Apa aku Lin Tian terlihat seperti orang yang suka mencari untung? Aku suka merugi,“ ujar Lin Tian mantap. “Tidak merugi (uang sistem) dari mana aku mendapat uang (uang sendiri).“
“Tapi aku juga tidak bisa menentukan alur perkembangan perusahaan baru,“ kata Su Kebingungan. Nampak nya ada yang salah dengan jalan pikiran nya. Kenapa, apa yang dibuat sedikit mengalami kegagalan. Itu yang membuat jalan pikiran nya buntu.
“Ini sederhana. Serahkan padaku,“ kata Lin Tian sembari menepuk dada. Dia sudah punya rencana. Dalam menghadapi akun-akun palsu yang sudah banyak mengecewakan para pelanggan.
“Pertama, kita akan menciptakan kue tradisional China baru. Kita akan melakukan nya dengan cara ekspor beralih ke penjualan domestik. Untuk membuka mata orang-orang mancanegara. Kita tidak akan menggunakan platform jual beli makanan. Kita akan langsung membuat aplikasi pengiriman makanan sendiri. Aku sendiri yang akan melakukan siaran langsung. Tentu saja biaya untuk mempekerjakan ku akan dibayar oleh perusahaan. Dan aku akan mengambilnya sendiri,“ ujar Lin Tian mengeluarkan apa yang jadi unek-unek dalam pikiran nya untuk bisa mereka jalankan berbarengan supaya bisa terwujud segala rencana demi mengatasi segala kesulitan keluarga tersebut.
“Tapi kalau begini, jumlah yang kamu keluarkan terlalu besar,” kata Su yang takut bakalan merugi serta capek nya bukan main, karena selain berpikir sendiri juga di jalankan sendiri pemikiran nya itu. Karena kebanyakan para pemikir akan menggunakan orang lain sebagai tenaga lapangan yang bersedia untuk melaksanakan apa yang dipikirnya tersebut., sebab kalau tidak rasanya bakalan dua kali kerja. Sebab berpikir juga memerlukan banyak tenaga. Walau tak Nampak, namun sangat menguras. Dan itu sudah banyak terjadi. Bagaimana sang pemikir juga akan lemas sebanding rata dengan yang melaksanakan pikirannya itu alias tenaga kasar.
“Hehe… Aku Lin Tian. Luar biasa.”
__ADS_1