Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 121


__ADS_3

Dalam gedung ruang kelas yang sunyi dan senyap meskipun para siswa sudah berada di dalamnya.


“Semuanya barang yang tidak ada hubungannya dengan ujian, harap dikeluarkan dari ruangan kelas,“ ujar pengawas ruang sembari membawa berkas ujian yang mesti dikerjakan siswa. Jelas yang taka da hubungannya bisa jadi perangkat yang dipakai untuk mencontek siswa. Makanya lebih baik taka da dalam ruang. Baik itu di titipkan sama petugas penitipan helm, atau dibawa ke tukang loak. Akan lebih aman.


Brak!


Satu buku di gebrak kan di atas meja. Tentu saja membuat kaget seisi ruang. Bahkan cicak juga akan binasa jika kena pukulan demikian saja.


“Jangan harap kalian bisa mencontek. Yang tertangkap, siapapun akan langsung gagal,“ ujar pak guru dengan galak nya. Tak ingin dia ada anak yang macam-macam.


Ujian resmi di mulai.


Brook….


Lin Tin tertidur. Untung cuma ngorok. Jadi masih terdengar sedikit.


“Gawat…. Untung hanya mimpi kalau tidak, aku benar-benar mengira sedang ujian,“ kata Lin Tian sembari mengusap bibir yang penuh air. Serta muka akibat keringatan. Kalau benar terjadi benar-benar mimpi yang sangat buruk, dimana dia belum belajar serta materi yang diujikan benar-benar tak dia pahami.


“Lin Tian sedang ujian jangan bicara!“ ujar Pak Guru pengawas tak suka dengan apa yang dilakukan anak terlanjur kaya itu. Sehingga untuk belajar sedikit saja tak mau. Dan ingin nya hanya tidur saja, padahal kelas lagi ramai oleh anak-anak yang tengah menginginkan mendapat nilai bagus.


“Ternyata aku benar-benar sedang ujian,“ kata Lin Tian, Diantara mahasiswa lain yang tengah berpikir keras. Untungnya lagi dia baru saja terbangun, jadi belum sempat berpikir, apalagi dengan keras.


“Aih… Sulit sekali,“ ujarnya saat mencoba menggarap beberapa nomor. Dan itu sungguh tak bisa. Akibat tak membuka buku sama sekali. Jangankan membuka main HP juga bukan untuk mendeteksi materi yang sekiranya bakal keluar serta bertanya pada mbah google, namun hanya untuk persiapan permainan belaka.

__ADS_1


“Aku tahu latar belakang keluargamu sangat bagus. Tapi tidak bisa kalau tidak belajar,“ ujar pak guru yang sangat paham akan watak para anak didiknya yang begitu-begitu saja dari tahun ke tahun. Kalau tidak pusing ya migrain. Semua Nampak di depan mata untuk berbagai kegiatan yang dilakukan oleh orang yang serba tidak tahu. “Jadi, Kamu harus bisa memanfaatkan keunggulan mu baik-baik.“


“Menggunakan keunggulan maksud pak guru?“


“Kamu mengerti kan asalkan ada ini,“ Pak guru menjentikkan jari. “Apapun bukan masalah.“


“Maksud pak guru anda menjual jawaban padaku?“ tanya Lin Tian. Tak disangka akan ada seperti itu. Untung kali ini dia sedang miskin. Mulai dari uang yang di blokir sistem, sampai uang saku yang demikian mepet, maka mesti ada berbagai taktik supaya hal yang berjalan tiap tahun nya itu kali ini juga bisa dilampaui dengan mudah nya.


Pak guru celingukan sebentar. Takut ada suket daun yang mendengar. Apalagi yang lain tengah asik memandang huruf-huruf yang bikin kepala pusing dalam lembar soal tersebut.


“Lebih dari sekedar jawaban. Aku akan menggunakan akun guruku, dan akan membantumu merubah nilai. Asalkan kamu memberiku jumlah ini, 5… 5 ribu yuan, maka aku akan membereskannya,“ ujar Pak Guru sembari menunjukkan lima jari tangan terbuka nya. Tentu bukan hal yang sulit buat si pemilik perusahan Tian Tianlin, dulu. Namun sekarang berbeda. Sejumlah itu sepertinya sangat besar. Buat beli kerupuk saja sudah dapat berapa itu. Kali ini benar-benar situasi yang gawat.


“Pak guru, Aku harap Kamu memiliki dua hal. Pertama, walaupun perusahaan ku memiliki banyak uang, tapi aku tidak memiliki banyak uang,“ ujar Lin Tian mencoba menjelaskan dengan sangat bijaksana. Bagaimana keadaan keuangan yang demikian parah. Namun mesti mengeluarkan suatu hal yang kurang terencana ini.


“Kedua aku tidak suka bergantung pada orang untuk membantuku berbuat curang,“ kata Lin Tian yang sungkan sekali rasanya untuk berbicara tentang kata curang itu.


“Tapi, kalau kamu tidak berbuat curang, kamu tidak akan lulus dalam mata kuliah ini,“ ujar pak Guru bicara hal yang sangat logis dan bisa di pahami untuk seseorang semacam Lin Tian yang tak paham akan ilmu yang sudah dibagikan sebelumnya.


“Bagaimana kalau kamu mempertimbangkan nya lagi. Harga ku juga termasuk sangat murah,“ ujar pak guru. Meskipun sudah dia katakana, namun kelihatannya masih bisa nego, sedikit. Sebab kalau terlalu banyak juga mending di jual ke pihak lain yang lebih membutuhkan.


“Maksudku adalah aku tidak suka orang lan berbuat curang. Tapi aku suka kalau aku yang berbuat curang sendiri,“ kata Lin Tian seakan tengah berbuat suatu kebenaran. Kebenaran yang aneh tentunya. Dimana dia bakalan berbuat hal-hal yang meragukan. Seperti yang terjadi untuk kali ini.


Nampak di luar jendela kertas contekan.

__ADS_1


Set.


Lin Tian mengambil pulpen. Langsung menyalin apa yang terlihat. Disitu jawaban Nampak semua dengan gamblang. Tak mungkin salah lagi.


Wing….


Drone-drone beterbangan. Dengan alat tersebut contekan besar tadi di datangkan. Pesawat tanpa awak yang kali ini menjadi tren. Tidak hanya orang kaya, orang miskin juga sudah bisa memakainya. Kecuali pinjam, dan beli barang loak, bisa jadi diambil dari perusahaan untuk kegunaan tak jelas. Misalkan mendeteksi daerah terlarang, penuh dengan rahasia, atau untuk mendeteksi keberadaan mahluk astral yang jarang terlihat.


“Dengar, itu adalah suara teknologi canggih,“ kata Lin Tian. Suara yang terdengar merdu.


“Ini jelas - jelas adalah suara uang.“


Menusuk hati.


Dengan kesal.


“Aku tidak punya uang untuk membeli drone. Tapi proyektor drone milik perusahaan bisa aku manfaatkan,“ ujar Lin Tian yang dengan cerdik menggunakan segala cara demi lulus ujian mata pelajaran yang serumit kali ini.


Ujian beres.


Pak guru dengan suara dan sikap dingin, “Lin Tian berhenti. Kamu berbuat curang.“ Tak ada ucapan lain selain itu. Bukti-bukti jelas. Ini tak bisa dibiarkan. Bahkan pemasukan juga taka da. An itu berarti kekacauan sudah dia ciptakan. Yang artinya dia mesti diberlakukan dengan keras. Jelas kali ini tak ada jawaban lain selain menurut saja. Mesti keluar atau nilainya yang jeblok. Itu saja.


“Pak guru coba katakan. Bagaimana caraku berbuat curang. Jawabannya dibawakan oleh drone, tapi bagaimana cara dia memberikan pernyataan ujian pada drone tersebut? Kalau pak guru bisa menjelaskannya, apapun yang anda mau, akan aku berikan,“ kata Lin Tian berusaha adu argument agar nilainya tak bisa di bikin hancur. Serta setidaknya untuk sekali ini bisa berjalan lancar apa yang sudah dia usahakan dengan susah payah dan biaya besar meski di tanggung perusahaan karena mendatangkan pesawat tanpa awak itu.

__ADS_1


__ADS_2