Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 280


__ADS_3

Temat pertemuan dahulu… Domestic arrival.


Dandanan yang familiar. Dengan kaca mata hitam, BH biru yang pas, serta celana ketat, sungguh sangat nyaman untuk berpesiar dengan mengunjungi sesuatu yang indah dan Nampak alami. Serta sepatu yang juga nyaman untuk ke diskotik. Belum lagi tas besar yang penuh dengan bawaan dan perlengkapan serba lengkap. Tentu saja tidak Nampak jika tengah menyelidiki suatu kasus yang sangat membuat hatinya risau.


“Luo Ningning sudah dua hari tidak membalas pesanku,“ ujarnya terus berusaha memainkan HP dengan hati gelisah dan memantau terus dengan aplikasi paling canggih yang bisa di akses.


“Handphone-nya pasti di rampas, lalu dia di sekap dan di cuci otaknya untuk membantu penjualan,“ ujarnya semakin panic dan membayangkan bahaya yang tengah mengancam Luo Ningning dengan penggambaran yang sangat jelas. Tangan di ikat ke belakang, lalu pakaian compang-camping dengan menonjolkan lekuk liku yang tak senonoh. Serta bibir yang tanpa senyum sama sekali. Sungguh sesuatu yang sangat menyiksa. Makanya perlu dilakukan monitoring secara langsung ke lokasi praktek menyeramkan tadi, agar tidak terjadi sesuai apa yang dia pikirkan itu.


“Untungnya ada pelacak yang sudah aku pasang di kopernya. Aku bisa melacak posisinya,“ ujarnya merasa masih beruntung. Dengan kecanggihan teknologi yang dia miliki dan berada dalam hp spesialnya, dia terus memantau titik gerak dari alat pelacak yang sudah dia pasang serta tinggal mengikuti sinyal misteriusnya itu. Memang sekarang jaman serba canggih, sehingga tak perlu anjing pelacak atau intel canggih untuk memantau pergerakan seseorang. Tinggal memasang alat, lalu di hubungkan dengan aplikasi dalam HP, maka semuanya sudah bisa terwakili. Dan tinggal mengikuti petunjuknya saja, maka langsung bakalan bisa mengikutinya.


Hingga sudah sampai di suatu tempat.


“Ya Tuhan, kenapa tempatnya terpencil sekali. Jangan-jangan Luo Ningning di jual di dalam gunung ini,“ ujarnya terus curiga dan selalu memantau petunjuk sinyal di hutan yang ternyata mengarah ke suatu gunung yang sunyi dan sangat terpencil. Persis gambaran seorang psikopat yang suka darah dan membawa ke sarang penyamun di gunung-gunung sepi begitu. Bahkan untuk melintasinya sangat sulit. Apalagi dengan sepatu yang bukan sneaker, serta hak tinggi yang semestinya cocok dalam sebuah ruangan untuk pamer peragaan busana. Dan sangat tak masuk akal andai di pergunakan di gunung yang lembek tersebut. Apalagi dengan tas bawaan yang berat akibat segala perlengkapan sudah penuh sehingga dengan berat hati kesulitan membawanya akibat memang sangat berat bawaan itu. Juga sisi kemiringan yang menambah tarikan gravitasinya sulit di atasi. Inilah yang menjadikan dia sangat payah.


Namun tiba-tiba. Nampak sepatu di kakinya. Yang menggantikan sepatu hak tinggi itu.


“Hah, benda apa ini?“ dia terkejut serta memandangi sepatu yang tiba-tiba melekat ini. Begitu bagus dan sangat nyaman. Dengan warna pink yang sangat keren. Cocok di pakai untuk lintas alam, serta di daerah yang tidak rata begitu. Jadi dengan demikian memudahkan untuk mencapai lokasi tujuan dengan perjalanan yang melewati jalan tak rata.


Hingga merasa sangat enjoy meskipun lokasi terpencil dengan jarak yang sangat jauh, serta berada di lading terbuka yang sangat menyengat, tapi dengan mudahnya di lewati berkat bantuan dari sepatu nyaman yang secara ajaib datang tiba-tiba begitu.


#


Sementara di suatu pantai yang indah dan nyaman, dengan gelombang membiru yang terus saja datang seakan berkejar-kejaran di pasir luas begitu.

__ADS_1


“Senang sekali ketika tidak ada gangguan duniawi,“ ujar Luo Ningning yang tengah menikmati pemandangan alam yang sangat memukau. Dengan suasana teduh akibat payung teduh yang memayunginya, dan kaki yang senantiasa di dinginkan oleh lembutnya ombak pantai.


“Pelayan tolong tambah lagi cola nya,“ ujarnya merasa kehausan sehingga kering rasa tenggorokan karena tak minum.


Di tuangnya apa yang diminta.


Cup!


Lalu di tenggak.


Dan menyemburkannya dengan buas.


“Siapa yang malah memberiku cuka!“ ujarnya tak suka dengan rasa minuman yang sedikit aneh tersebut.


“Wah Shishi, kenapa kamu disini?“ ujar Luo Ningning yang merasa terganggu oleh kedatangan orang yang selalu memberitahunya supaya berhati-hati dalam bertindak. Disini dia tak mau di ganggu dan tak perlu saran lagi. Semua sudah terasa baikan. Dan hidup memang perlu di nikmati. Tak seperti hari ini, esok atau lusa mesti sama dengan hari ini yang bisa memanfaatkan liburan Cuma-Cuma yang Cuma tiga hari ini.


“Bagaimana menurutmu, aku sudah mengirimkan begitu banyak pesan tapi kamu tidak memperdulikannya,“ ujar Shishi mangkel.


“Yah ini, aku benar-benar lupa menggunakan handphone,“ ujar Luo Ningning merasa bersalah sekali.


“Lupa, zaman sekarang mana ada orang yang bisa lepas dari handphone, bagaimana caramu pesan makanan, main game bagaimana caramu mengetahui dunia luar?“ ujar shishi tak paham dengan pemikiran gadis ini yang mesti kehilangan haknya untuk tak memakai alat komunikasi canggih yang sangat riskan jika ditinggalkan.


“Ini, ayo aku ajak kamu berkeliling, nanti kamu akan mengerti,“ ujar Luo Ningning demi mengajak temannya yang lagi cemas.

__ADS_1


Dibawanya ke suatu ruangan.


“Ini adalah ruang makan, semuanya adalah koki kelas atas semua bahan-bahan didatangkan dengan pesawat dari seluruh dunia, tidak terbatas waktu dan jumlah,“ terang Luo Ningning di suatu ruang makan dengan para koki yang sangat sopan itu. “Order makanan tanpa handphone.“


Lalu ke ruang game. “Ini adalah ruangan game layar besar dan super canggih. Berbagai mesin dan pelayanan menyeluruh. Game yang sama sekali tidak membutuhkan handphone.“


Lalu ke supermarket. “Ini adalah supermarket staff, makanan, pakaian, dan lain-lain, sangat lengkap. Sama sekali tidak perlu handphone untuk membeli barang-barang kebutuhan.“


Dan ke lokasi tempat tinggal, “Ini adalah tempat tinggal ku masih belum sempat mengisinya dengan perabotan, nanti aku bisa langsung memberitahu penjaga mereka akan membelinya dengan Cuma-Cuma. Oh ya ada lagi kolam renang, ayo aku akan membawamu….“


“Cukup!“ ujar Shishi merasa ingin. “Cepat bilang, kenapa kamu bergabung di Perusahaan Tianlin. Aku juga mau.“


“Tapi aku sekarang belum memastikan lingkup pekerjaanku kalau sampai MLM…“


“Kamu pernah melihat MLM yang memberi setengah gaji dulu di depan, apa kamu pernah melihat MLM yang menyediakan antar jemput menggunakan mobil sport. Apa kamu pernah melihat MLM yang berada di lokasi seperti surga ini, apa kamu pernah melihat MLM dengan restoran shopping mall dan ruang game sendiri?“ ujar Shishi penuh tanya. “Kalau ada MLM seperti ini maka, aku juga bersedia di rekrut. Cepat bawa aku menemui Direktur Lin, aku juga ingin bergabung.“


Lalu Luo Ningning menelepon direkturnya. “Itu, Direktur Lin ada seorang teman sekolahku, yang ingin bergabung dengan perusahaan kita, keahliannya sama denganku, entah apa…“ jelas Luo Ningning yang keahliannya sangat di pertanyakan. Dan ini sama, tentunya sama-sama ahli dalam bidang yang sama kan.


“Boleh… Langsung datang bekerja saja,“ ujar Lin Tian tanpa melihat. “Oya… Keahliannya sama denganku bukankah orang-orang bertalenta ini sudah dating semua?“


“Aku ingin gaji yang sama dengan Ningning, apa bisa?“ tanya Shishi.


“Aku bisa gajinya diatur untuk sama dengan Ningning?“ jelas Lin Tian.

__ADS_1


“Aih baiklah… Aku selalu merasa, kamu tidak benar-benar baik hati,“ gumam Xiao Qian yang merasa kalau tindakan si Lin Tian ini selalu saja merugikan perusahaan yang merugikan system yang tengah ia kelola ini.


__ADS_2