Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 94


__ADS_3

Sepatu bersayap…


“Eh…“


“Melalui orang dalam aku mendapatkan produk baru Lin Tian. Ingin sekali aku berkata. Hanya ini saja…“


Dibantingnya model sandal bersayap itu. Sangat keras. Sampai bunyi suaranya sangat keras. Dan memercik cahaya aneh. Itu karena demikian geram dia mendapat sebuah pesanan yang aneh begitu. Jangankan ada yang mau membeli, membuat saja sudah tak nyaman. Masa sandal ada sayapnya. Seperti anak kecil saja yang suka mode-mode lucu-lucu dengan maksud supaya bisa dipakai main terbang terbangan seperti burung dengan meloncat dari sebuah ketinggian, misalkan kursi yang tersusun, atau pada rak yang rapuh dan tak bisa di panjat. Mereka akan suka lompat-lompat. Berikutnya menari-nari. Melayang-melayang. Asik sekali. Itu jika anak-anak. Lah ini untuk basket. Mana bisa buat terbang. Nanti hanya akan dimarahi wasit kalau masuk kan bola sembari terbang begitu.


“Apa yang dipikirkan Lin Tian ini? Apa dia memiliki maksud tersembunyi?“


Sampai kelelahan. Membuang sandal. Dan tak hendak membuatnya. Dia kebingungan sendiri. Bukan maksud ingin menolak karena sulit membuat. Tapi karena bentuk aneh yang hanya membuat perusahaan terkenal Mike itu akan malu. Membuat bentuk aneh yang gagal pasarannya. Tentu akan di cemooh sama perusahaan sejenis yang menjadi saingan nya atau pada home industry yang tengah naik daun, karena pabrik keren tersebut membuat asal-asalan.


Sementara pada suatu tempat sampah, Nampak seseorang yang hendak memulung, mencari-cari botol plastik, koran bekas, atau balon tak mengembang warna hitam, supaya bisa di jual kiloan sama pengepul.


“Eh, kenapa sandal baru ini dibuang begitu saja? Dasar orang kaya benar - benar suka menyia- nyiakan. Aku akan membawanya pulang untuk putriku,” ujarnya senang. Jangankan barang baru, sandal sudah putus jepitnya saja sudah sangat senang kalau Cuma memungut begitu saja. Nanti akan dia pasangi paku atau peniti, kan masih bisa dipakai. Ini baru. Tentu putri nya yang tak pernah mempunyai barang baru nanti bakalan sangat senang mendapat sandal dari merek terkenal, masih baru, dan mengkilap. Hanya sedikit bau sampah saja. Nanti di semprot pakai pengharum atau pilok juga baunya hilang.


Dipungut di sampah sandal unik tersebut.


Pada kantor guru.


“Lin Tian besok adalah batas waktunya,“ ujar Guru Chen.


“Batas waktu?“ tanya Lin Tian.

__ADS_1


“Sebelumnya aku pernah memberitahumu. Poin ekstrakurikuler mu tidak cukup. Kalau besok kamu tidak membuat laporan, maka kamu akan tinggal kelas,” jelas Guru Chen.


“Tapi saat aku dulu magang di perusahaan Tian Tianlin aku sudah memberi cap,“ kata Lin Tian beralasan.


“Kamu melewatkan satu poin.“ Sembari menunjukkan kertas ber- cap.


“Ah, pantas saja…“


Lin Tian menjerit.


“Segel resmi perusahaan Tian Tianlin tidak valid. Guru Chen aku akan segera pergi kerja, “ ujar Lin Tian sembari menubruk – nubruk.


“Baiklah hati hati jangan sampai ada orang yang melihat,“ pesan Guru Chen yang panik. Takut kalau rekan se kantor atau guru-guru yang lain sampai melihat perbuatan mereka. Nanti bakalan dikira yang tidak-tidak.


“Siapa yang janji denganmu, dasar!” ujar Guru Chen. Dia heran dengan murid yang satu ini. Janji tidak, namun dengan PD nya bicara demikian. Kalau dia janji baru boleh PD. Itu saja mesti kira-kira. Masa sama guru nya begitu. Kan nggak boleh.dasar Lin tian ada-ada saja. Biar ekskulnya tetap di kasih jelek kalau begitu.


Di suatu perusahaan. Lin Tian sudah sampai. Lalu saling menyapa antar karyawan itu.


“Hai, selamat dating…“ Bahasa antar pelayan.


“Direktur Lin, anda seharusnya tidak bekerja paruh waktu disini bukan?“ ujar kepala sembari menyapa keheranan sama bos nya itu. Sebagai direktur, biasanya cukup duduk saja di ruangan sembari menghitung laba yang akan dia dapatkan dari produk keren yang biasanya mahal sesuai dengan kualitas produk nya itu. Atau membuka-buka laptop sembari membanding kan dengan produk perusahaan lain, mengenai hasil penjualan, berapa pemasukan, sampai dengan kemungkinan akan membuat seberapa banyak lagi produk laku dari barang yang sama itu.


“Tidak apa-apa kebetulan sedang menjual sandal basket. Aku akan memasarkannya sendiri,“ ujar Lin Tian dengan kaos Mike biru kebanggaannya. Namun dalam benaknya, ‘Jangan harap bisa terjual satu pun.’

__ADS_1


Baru saja dia merenung dengan penuh harapan, tiba-tiba ada yang bicara, “Sepatu basket model terbaru 10 pasang.“


Keduanya tercengang.


“Lagi-lagi kamu!“ ujar Lin Tian mangkel. Bukannya senang. Marah. Ada pembeli yang menjengkelkan. Selalu mengganggu rencana. Itu yang membuat sebal dari diri Lin Tian.


“Budi yang begitu besar, aku harus cepat-cepat membalasnya. Cepat hitung,“ ujar pembeli itu. Dia tergolong orang yang sulit melupakan kebaikan orang lain. Makanya dia berusaha mengembalikan apa yang sudah di lakukan pemuda tersebut. Sehingga setidaknya, kalaupun tak bisa terbalas, akan memperingan beban nya supaya tak merasa berhutang terus. Jangankan hutang budi, hutang online saja mesti dibayar tepat waktu, supaya lancer, dan kreditnya kembali besar dan bisa mengambil benda bagus lainnya. Ini budi. Dibawa mati. Tak terbalaskan. Makanya untuk sedikit meringankan itu semua, mesti sedikit balas budi. Walau dalam bentuk yang berbeda.


“Kamu tidak boleh membelinya,“ ujar Lin Tian.


“Kenapa, kamu tidak mau aku memberimu uang?“ ujar Su nampak sedih. Uangnya yang banyak itu seakan tak laku. Bahkan jiwa baiknya yang hendak membantu orang sebaik Lin Tian seakan sia-sia. Apa mesti berlaku tak baik terus untuk mendapat simpati dari orang tersebut.


“Karena kamu terlalu cantik. sandal ini tidak layak untukmu,“ ujar Lin Tian sebisa mungkin berusaha membuat pembeli tak jadi mengambil benda tersebut. Biasanya kalau penjual akan merayu pembeli supaya melirik dagangannya. Ini sebaliknya. Dia malah kacau. Sudah mendesain asal-asalan, saat akan dibeli malahan melarang. Apalagi kalau bukan karena sistem yang akan memberi ganti rugi jika dagangannya tak laku. Makanya berusaha supaya sandal itu gagal produk.


“Aku rasa kamu memanfaatkan kesempatan untuk merayuku. Bungkus semua yang ada di toko kalian.“ Sembari melempar kartu kredit penuh uang.


“Maaf tidak bisa menjualnya,“ kata Kepala toko. Seakan demikian berat mengatakan hal tersebut karena tidak ada stok yang mengenai sepatu tersebut.


‘Hihi pahlawan akhirnya dating juga,’ ujar Lin Tian senang.


“Baru saja stok sandal basket terbaru di dalam kota terjual habis,“ kata Kepala Toko. “Semuanya sudah di pesan.“


Keduanya terkejut. Terutama Lin Tian. Terutama Su. Siapa yang berani beraninya memborong sepatu yang di desain oleh Lin tian supaya tidak laku itu, malah di borong. Benar-benar kurang kerjaan itu orang. Mana ada yang mau melirik sandal dengan sayap aneh begitu.

__ADS_1


__ADS_2