
Yida shopping mall. Disini semua kumpul. Mereka siap kembali bertanding. Lin Tian terus membuntuti keberadaan mereka.
“Walaupun menang, Tapi rencana yang aku siapkan sebelumnya masih bisa digunakan,“ ujarnya untuk melanjutkan rencana.
“Hai kakak!“ Hadang Lin Tian. “Apa kamu tertarik mengetahui lebih lanjut tentang tim TTL?“
“Apa itu? Aku tidak mau. Tidak ada uang,“ jawab wang yang tak tahu apa-apa tahu-tahu ada orang yang menghadangnya untuk mengatakan hal aneh.
“Kamu tidak punya uang. Tapi aku ada. Aku punya banyak uang. Sangat, sangat banyak!“ terang Lin Tian berusaha mengungkapkan kalau kini dia telah menjadi orang kaya setidaknya untuk hari ini.
“Gila! cepat pergi sana! aku tidak mau membuat kartu,“ ujarnya tak menyukai kartu tersebut. Dia lebih suka main game. Tak perduli kalau ada kartu apapun. Walau isinya uang sekalipun, dia tak perduli. Bahkan kalau punya bakalan dia jual jika laku. Sebab dia hanya suka game.
Prok!
“Semuanya.“ Panggil Lin Tian untuk memanggil anggota Tim agar bersedia mendengarkan akan ucapannya kini.
“Hadir…“ Semuanya sudah berkumpul. Menghadap pada panggilan sang Bos. Kemudian mengurung wang yang pucat pasi apalagi posisi badan besar mereka dengan gerakan tangan saling bertumpu tinju. Seakan tengah mengancam saja. Bagaimana hal itu tak membuat takut. Belum lagi kepungan mereka demikian rapat. Jika ingin bebas tentu akan sulit. Untuk lepas tak bisa.
“Kalian tidak boleh begini. Ini adalah transaksi yang dipaksakan,“ ujar Wang yang sedikit panik karena di kepung orang besar-besar dan menyeramkan. Semua anak buah Lin Tian. Dia yang tak biasa berkelahi tentu saja panik. Kalau Cuma satu orang tentu bakalan dia hadapi. Dengan mengandalkan jurus-jurus andalan yang dia punya, tentu menghadapi satu orang saja bukan hal yang sangat menakutkan. Beda dengan sekarang di kepung orang berbadan besar-besar dan tampang nya menyeramkan begitu, pasti siapa saja bakalan mengkerut ketakutan. Apalagi untuk suatu urusan yang belum jelas dan masih bisa dibicarakan baik-baik, tentunya ada keinginan supaya bisa menyelesaikan masalah tanpa masalah. Jangan seperti ini, apa-apa main kepung, apa-apa menunjukkan otot, kan menjadi panik saja di buat nya. Belum lagi kalau mereka sampai melotot, suasana akan terasa semakin tegang dan membuat gemetaran rasa di dada. Tentu saja dalam kondisi yang demikian, ingin nya lari menjauh.
“Transaksi? Bukan Ini adalah pemberian yang dipaksakan,“ kata Lin Tian dengan memaksa menyerahkan sesuatu pada Wang. Yang semakin tak paham saja akan maksud baik pemuda itu.
“Lin Tian ada apa?” tanya Cao Biluo kepo. Mukanya sampai menjulurkan ke hadapan Lin tian agar pemuda itu bersedia menjelaskan apa-apa yang menjadi rencananya. Sehingga dia yang saat ni tengah gemar membantu hendak meluangkan banyak waktu demi kemenangan pemuda ini.
__ADS_1
“Aku sedang melakukan ini demi kebaikan Tim,“ jelas Lin tian. Dia kemudian mengeluarkan dari sakunya. Banyak sekali kartu TTL. Semua telah dia persiapkan demi memenangkan pertandingan dengan sistem.
“Kartu ini adalah kartu fans TTL. Setiap fans akan mendapatkan satu kartu. “
“Aku mengerti. Kamu yakin kita bisa menang sehingga sekarang kamu mulai menjual kartu fans,“ ujar Cao Biluo seakan paham saja akan rencana hebat pemuda itu.
“Kenapa kamu memperlakukan fansmu seperti itu?“
Lalu Lin Tian menjelaskan kartu-kartu tersebut.
“Asalkan kamu bergabung dengan fans TTL, kamu bisa mendapatkan kartu ini. Tidak hanya gratis tapi juga ada hadiah uang. “
“Hadiah uang? Penipuan jaman sekarang sudah sehebat ini?“ ujar wang tak percaya pada semua itu. Sebab memang selama ini dia tak pernah mendapatkannya. Jangankan uang, sepatu saja kalau ingin dapat gratis Cuma di Tarik ulur dengan hadiah bersyarat KTP yang paling jauh. Namun kalau sudah hampir mendekati kena, maka bakalan di lempar ke yang lebih jauh lagi. Jadi semua semacam akal-akalan saja menarik perhatian banyak orang. Termasuk kali ini. Uang. Yang demikian di buru. Karena tak punya uang sama saja tak bisa apa-apa. Uang menjadi transaksi utama. Sehingga banyak yang memerlukan alat tukar tersebut. Karena sudah menjadi kepentingan bersama. Sehingga tak jarang akan timbul perselisihan gara-gara itu. Jadi tak mungkin kalau alat bernilai tersebut bakalan di bagi Cuma-Cuma. Apalagi pemuda tersebut tak dia kenal. Sangat jarang terjadi.
Tapi tak semudah itu. Orang-orang tak banyak yang menggubrisnya. “Aku Wang Jingze, tidak percaya ada hal yang seenak ini. Walaupun aku keluar dari tempat ini, atau lompat dari lantai satu juga tidak akan tertipu menggunakan kartu ini.“
#
“Hei lezat sekali,“ ujar wang menghabiskan apa yang tersaji. Dia mulai percaya sekarang. Bahwa dengan kartu tersebut dia bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Sesuai dengan perkataan orang muda kaya itu
“Aku tidak menyangka bisa dipaksa menghamburkan uang. Enak sekali,“ ujar Wang sembari memperhatikan kartu yang sangat menarik itu.
“Dipaksa menghamburkan uang?“
__ADS_1
“Tidak enak.“
“Siapa yang bisa menolongku menghamburkan uang,“ keluh Lin Tian yang merasa kurang banyak orang-orang yang bersedia membantunya.
“Hei putri Cao. Apa maksud kakak Tian menghamburkan uang seperti ini?“ tanya Panda yang semakin gagal paham akan orang muda yang sangat berniat sekali hidup menghambur-hamburkan uang dan semakin mengeluh kalau tak banyak yang membantunya.
“Siapa yang tahu, aku sudah biasa,“ kata Cao berusaha bersikap tenang pada sikap Lin Tian yang tak bisa dia pahami.
#
Sementara di luar tepat itu, banyak orang dengan seragam kerem terus mengamati orang-orang yang menjadi anggota TTL.
“Bos aku sudah menemukan dua orang anggota Lady itu,“ ujar si baju keren sembari berbicara lewat Walkie talky nya.
Dua orang anggota Lady situ sedikit terperanjat kala menyadari ada orang yang tengah mencarinya.
Dan tak berapa lama keduanya sudah berada dalam kepungan orang-orang misterius itu.
“Bos kami mengundang kalian. Hei bos. Kalau tidak ingin terjadi masalah, jangan berkata apa-apa.“ Ancam orang-orang mengerikan itu.
Badannya tegap-tegap. Ada kalau Cuma Sembilan orang yang di hadapi lin Tian dengan penuh kewaspadaan. Dengan tenangnya Lin Tian menatap mereka. Tangannya sampai Kecak pinggang. Semua biar paham kalau dia sama sekali tak takut pada gertakan semacam itu.
Katanya kemudian supaya bisa terlihat tenang sembari mempromosikan apa yang tengah dia jual, di ulurkan kartu tersebut, “Mau memahami lebih lanjut tentang TTL?“
__ADS_1