
“Apa? Mahal sekali!“ ujar Lin Tian. “Tak disangka tiket pesawat internasional begitu mahal....“ Tiket pesawat memang mahal, kecuali pesawat telepon sedikit murah. Tapi dia ingin pergi jauh. Menghendaki alat transportasi itu bisa membawanya e tempat yang dituju. Dan kini semua seakan tak terukur. Dana yang tak seberapa yang dia dapatkan dari meminta kebijaksanaan sistem seakan terasa tipis jika mesti untuk membeli tiket tersebut.
“Biaya transpor ini apa tidak bisa ditanggung perusahaan?“ tanya Lin Tian yang berusaha mencari celah mana tahu masih bisa mendapatkan sedikit keuntungan dari perusahaan yang bisa ditarik seberapapun usaha untuk membantu mengganti kerugian tersebut. Kalau pun bisa. Kalau tak bisa semestinya ad acara lain untuk mendapatkannya. Yang sekarang seakan buntu saja. Hanya dari situ rejekinya bagi Lin Tian.
“Tidak bisa harus ada invoice dulu untuk klaim. Uang makan dan tempat tinggal bisa diberikan setiap hari,“ kata Xiao Qian.
“Kalau begitu, asalkan aku bisa menumpang orang lain dalam penerbangan internasional semuanya beres,“ kata Lin Tian berusaha mencari tumpangan pada pesawat yang sedikit murah yang penting sampai ke tujuan dengan biaya terjangkau. Entah itu digabung dengan barang atau pada kursi cadangan, yang jelas bisa terbang saja.
#
“Libur musim panas sudah tiba seharusnya di sekolah ada banyak program persahabatan internasional,“ ujar nya mencari-cari.
“Ada. Program pertukaran sepak bola internasional piala dunia 2090 untuk mahasiswa universitas di kota,“ jelas rekan nya.
“Halo pak kepala sekolah. Saya memiliki sebuah permohonan.“
“Semangat!“
“Tim institut olahraga“
“Tim universitas“
“Maju!“
Tim universitas vs tim institut olahraga hasilnya 0 : 3
Bola di giring.
__ADS_1
“Aku si ahli menyelinap, setelah berhasil melewatinya. Dan memotong bola dengan kakiku“
Duk!
Jatuh terkapar.
“Keterlaluan sudah ada 3 orang terluka,“ geram Lin Tian. Orang-orang itu benar-benar main kasar. Dia membuat rusuh walau tak di tempatnya. Apalagi pada rumah sendiri. Tentu bakalan kacau permainannya. Mana kakinya kuat-kuat. Seperti kayu balok kering saja kekerasannya. Sehingga kalau kena hantam tentunya bakalan membuat cedera yang parah.
“Tidak ada orang yang bisa bertanding lagi. “
“Institut olah raga hanya mengandalkan tubuh, sudah bisa menumbangkan kita.“
“Kita sudah pasti kalah.“
“Sepertinya tahun ini tidak ada harapan untuk mengikuti program pertandingan persahabatan internasional. “
“Biarkan aku membawa kalian menuju kemenangan.“
1:10 tidak ada masalah.
“Siapa orang ini badannya kecil seperti ayam begini?“
“Mungkin lagi-lagi si miskin yang ingin ke luar negeri,“ tebak yang lain yang menduga demikian berdasarkan pengalaman selama ini. Namun sedikit keterlaluan memang, masa mengira pemuda kaya raya itu hanya dianggap ingin nebeng saja. Itu tak wajar. Walau kenyataannya memang demikian. Akibat sistem yang sedang pelit mengeluarkan dana lebih tersebut.
“Adik.“
“Silakan.“
__ADS_1
“Teman-teman,“ ujar Lin Tian. “Ikuti aku!“
Bola sementara digiring dengan bebasnya. Lin Tian lari dikuti teman-temannya serta menghindarkan diri dari sergapan lawan dan… jebret, ah sayang sekali.
Saling kejar. Satu tim mestinya saling dukung. Sehingga bola bisa terus di giring ke garis pertahanan lawan, sehingga untuk kemudian bisa berbagi dengan saling umpan dan terus menggiring bola tersebut sampai pada gawang lawan dan bisa membuahkan hasil.
Namun apa yang terjadi. Kaki saling gamprakan. Rupanya tak kuasa menghindari jegalan kaki lawan. Bahkan ada kawan yang berusaha menjegal dari belakang. Seakan menusuk dari belakang. Benar-benar sebuah pertandingan yang mengerikan. Benar-benar bertaruh nyawa. Kalau tak bisa mengelak, maka bakalan kena sliding kawan maupun lawan. Dan jika itu terjadi, bakalan fatal. Akhirnya tak bisa ikut nebeng ke pesawat team yang menuju kearah yang hendak di tuju itu.
“Ah, aku tidak punya uang beli sepatu sepak bola. Jadi, Aku mencari buruh bangunan dan meminjam sepatu keamanan yang memiliki lapisan baja. Lalu aku memodifikasinya sedikit,“ ujar Lin Tian yang merasa sedikit miskin itu. Tak mengapa tentang sepatu bangunan yang pasti nya kuat. Kalau kejatuhan palu tak sakit. Kena batu atau beton hanya terkejut saja. Bahkan jika kena roboh tiang listrik semua bisa melindungi kaki. Apalagi Cuma terkena bola. Hanya memang sedikit berat dan butuh perjuangan kala memakainya yang mesti diangkat dengan sepenuh kekuatan. Karena beda dengan sepatu ber merk yang lentur, kuat namun nyaman di kaki.
“Sialan, apa yang terjadi?“ ujar si pengacau yang semula ingin mematahkan kaki Lin Tian dengan arah sasaran pada bola, jadi tak kentara kalau di lihat wasit dan para suporter di kejauhan. Jadi hanya terlihat mengejar bola saja. Tapi ia dengan temannya yang saling memepet itu berusaha mengincar nya supaya sepatu itu bakalan terpatahkan oleh sepatu mereka yang sangat bagus kuat dan begitu berkualitas dengan merk pabrik ternama.
“Kenapa sepatu Lin Tian keras sekali,“ ujar pemain itu sembari mengerang-ngerang dan memegangi kakinya yang sangat sakit itu. Entah mengapa kali ini seakan bertarung dengan tembok saja. Sungguh sebuah kaki yang sangat keras. Tentunya kalau di pijit juga sulit. Namun menjadi hal yang mengerikan kalau kembali terkena kaki mereka yang rasanya langsung pating clekit, seperti kesemutan dengan bunyi keras dan seakan langsung lemas saja rasa nya.
“Kalian… Kenapa kalian malah ingin mencelakai ku? Apa maksud kalian?“ tanya Lin Tian yang lolos dari sergapan karena kecerdikannya dengan memodifikasi sepatu baja tukang bangunan menjadi sepatu olah raga yang demikian kuat. Sehingga untuk pertandingan adu tulang begitu bukan masalah. Layaknya sepatu robot yang terbuat dari besi, tentu jika hanya melawan sepatu keras para pesepakbola ternama bakalan sanggup mengatasinya. Karena untuk kali ini hanya terfokus pada kekuatan sepatu saja.
“Mereka yang memaksa kita. Kalau tidak, mereka akan memberi pelajaran pada kami,“ jelas para pemain bayaran itu mengakui kalau telah mendapat bujuk rayu dari pihak yang tak sportif itu demi keuntungan pribadi.
Kali ini bola berada di kaki Lin Tian, di timang-timang sebentar, dilihat siapa lawan, siapa kawan. Dimana posisi musuh dan gawang, di kotak-katik, lalu dibawa dengan kaki canggihnya, untuk kemudian,
“Tendangan proyek bangunan!“
Lin Tian menendang dengan ganas. Dengan sepatu biasa saja, kekuatannya sudah demikian besar, apalagi kali ini menggunakan sepatu khusus yang di modifikasi supaya bisa sesuai dengan tempat yang tengah dipakai tersebut. Makanya hasilnya sungguh dahsyat, dan sangat di luar akal manusia lumrah.
Shut…
Bola menuju ke gawang.
__ADS_1