
“Semuanya ulah mu bocah sialan!” ujar pemimpin perampok dengan geram. Dia benar-benar sangat marah pada kelakuan Lin Tian yang sudah dianggap melebihi kelewat batas. Sudah melebihi kelewat lagi, ini yang tentunya membuat siapa saja akan sangat murka, dan akan melampiaskan apa saja demi rasa yang satu itu. “Mati kau!“
Ancamnya seraya menodongkan pistol saktinya yang bisa menembus dada dalam sekali terjangan peluru di dalamnya itu.
“Lin Tian awas!“ ujar Ibu Guru dengan sangat khawatir seraya menghalangi supaya Lin Tian tidak terkena timah panas itu. Bagaimanapun dia kini yang jadi pahlawannya. Sudah beberapa kali dia menyelamatkan bukan hanya dirinya, tetapi orang-orang di dalam ruang itu sudah memahami akan arti perjuangan anak yang kebanyakan uang itu. Jadi apa-apa uang, apa - apa uang, uang kok apa-apa?
Klik!
Pelatuk ditarik dengan kuat oleh sang perampok. Dengan geregetan nya. Dan berharap untuk sekali itu, dia bisa melampiaskan segala amarah yang menggelegak di dada, supaya bisa menghabisi s pengacau itu.
Dor!
Mengenai bu guru. Tentu. Sedekat itu. Dan tak mungkin satu peluru dalam ledakan mesiu yang meluncur cepat tak akan mengelak kalau diarahkan tepat padanya.
‘Menghalangi peluru demi murid ku, aku sebagai guru terhitung mulia kan?’ ujar dalam hati bu guru yang dengan sikap ksatria nya mencoba melindungi selembar nyawa dari murid terkasihnya itu. Tangannya yang terkepal dia rentangkan untuk bersiap akan kemungkinan rasa sakit yang hendak dideritanya sampai meregang nyawa di waktu berikutnya.
Semua terkejut menyaksikan peluru menerjang bu guru. Penjahat juga terkejut. Bakalan gawat. Ada nyawa lain yang bakalan melayang. Dan itu bukan yang diharapkannya. Tentu setelah ini akan ada banyak ratap tangis dan penyesalan dari berbagai pihak karena si cantik yang juga pandai itu akhirnya menemui ajal oleh karena bidikan tak terarah dari si perampok. Atau akan banyak berita menyentuh karena ada wanita cantik, yang rela - relanya mengorbankan nyawa nya hanya demi menyelamatkan anak yang tak ketahuan harta kekayaannya itu.
“Eh apa perampok ini terharu dengan sikap pahlawanku? Kalau begitu aku akan mati tanpa penyesalan,’ ujar bu guru dengan mata yang melebar saja akan arti nya satu pengorbanan demi murid yang sudah menyelamatkan banyak nyawa sebelum ini. Tenteram sekali rasanya. Mungkin di sana nanti juga bakalan lebih nyaman lagi. Bahkan jika nanti banyak para pelayat yang berdoa demi keselamatan atau rejeki yang berlimpah, bakalan diberi dengan suasana menyenangkan. Itu harapan dari seorang yang bangga berkorban demi satu hal yang sangat menyentuh hatinya.
‘Eh, tidak benar. Kenapa sama sekali tidak sakit?’ Bu guru terkejut menyaksikan keadaan aneh ini. Memang sedari awal, semenjak para perampok datang sudah banyak keanehan. Kali ini bertambah lagi.
__ADS_1
Ada yang menghalangi. Uang-uang itu. Peluru mengenai uang yang Lin Tian pergunakan untuk di habiskan. Bu guru baru menyadari. Di depan tubuhnya sudah bertumpuk lembaran uang dalam susunan yang aneh. Membentuk piramida ke depan. Sehingga peluru yang sempat melesak, tak sampai menyentuh kulitnya. Dan terhenti di dalam tumpukan uang secara horizontal itu.
“Hari ini benar - benar bertemu setan. Apa ini juga perbuatan bocah sialan itu?” ujar perampok semakin geram saja. Dia semakin menduga-duga yang tak karuan. Ini pembuktian dari awal mula, dimana , “Aku tidak percaya ini tidak bisa menembus,“ ujar perampok kembali memuntahkan timah panasnya ke arah si bocah. Dia masih penasaran. Bertambah penasaran saja. Untuk kesekian kalinya dirasakan banyak kemalangan. Dan terakhir ini demikian parah kelihatannya. Dia tak boleh gagal mendapatkan apa yang diinginkannya. Yang sudah susah payah diperjuangkan bersama teman-teman. Dan kali ini, oleh si bocah, oang yang dianggapnya masih ingusan itu, kenapa mesti dikandaskan. Sungguh sangat kontras dengan keinginannya untuk hasil kali ini.
Klik!
Uang bertemu pistol.
"Ah mataku!"
Teriak perampok sembari menutup mata. Ledakan pistolnya justru mengenai dirinya. Biasanya setelah pelatuk di Tarik, maka ledakan mesiu itu ada di ujungnya. Lalu selongsong itu jatuh dengan otomatis. Dan digantikan peluru yang lain dalam magazine tersebut. Tapi kali ini aneh. Ledakan itu justru ada dalam senjata tersebut. Yang mau tidak mau mengenai si pemilik senjata sebagai tuannya, senjata makan tuan.
“Wah meledak benar-benar orang jahat akan mendapatkan balasannya. Ternyata benar aku bisa membuat uang muncul di dalam pistol dan membuatnya meledak.“
“Lin tian sebelum terkejut bisa tidak kamu memindahkan tanganmu? “
Tangan Lin Tian meremas gunung kembar bu guru tanpa menyadarinya. Makanya enak. Serasa ada yang empuk - empuk gimana gitu.
Lin Tian pura-pura gila, pura - pura bodoh.
“Tadi terlalu kaget sampai tak memperhatikan. Mohon maaf guru Chen,” ujar Lin Tian dengan tersipu malu , cengar cengir dan menganga lebar, seraya garuk garuk kepala. Walau asik. Seraya mengekeh, “Enak sekali pegangannya.”
__ADS_1
Duit banyak. Menghilang. Hilang begitu disentuh sepertinya benar yang dikatakan sistem ini. Uang ini tidak bisa kudapatkan.
Bruk!
Polisi datang. Dia masuk. Lima orang berseragam.
Di dalam banyak bertumbangan perampok diantara duit-duit.
“Eh kenapa sudah terselesaikan, “ ujar si polwan cantik. Selain terkejut juga bertambah cantik saja.
“Paman polisi. Oh bukan. Bibi polisi aku serahkan tempat ini padamu. Aku sudah hampir terlambat bekerja.“
Lin tian ngeloyor.
“Eh uang 200 yuan itu jangan-jangan hasil curian.“
Terselip di saku.
Polisi wanita terkejut.
“Tidak tunggu dulu. Yang di depan berhenti!“
__ADS_1
“Apanya yang bibi? Aku baru saja lulus tahu?“ ujar polisi dengan seragam keren. Pet birunya, Dasi panjangnya. Pokoknya seragam itu sangat serasi dikenakan oleh wanita secantik itu. Walau menjadi kontras dengan kemarahannya sama si Lin Tian yang sembarangan saja memanggilnya bibi. Sementara selisih usianya belum tentu berbeda banyak dengannya. Kakak, atau say mungkin lebih enak di dengar.