
“Bagus sekali! Bagus sekali! Kemampuan bicaraku aman,” ujar Lin Tian sembari mengangguk-angguk senang. “Sedangkan mulai sekarang aku memiliki bus sendiri.” Lin tian senang. Dia memiliki bus yang besar. “Seterusnya aku tidak perlu berhimpitan lagi.”
MISI TAHAP PERTAMA SELESAI.
TARGET MISI TAHAP KEDUA MENGGUNAKAN MOBIL YANG SUDAH DIBELI DAN MENANGKAN PERTANDINGAN BALAP MOBIL BAWAH TANAH DI GUNUNG LUOJIA.
WAKTU MEMULAI MISI PUKUL 12 TEPAT.
‘Balap mobil dengan bus, mati aku.’
Lin tian panik. Bagaimana tidak. Semewah-mewahnya bus, hanya untuk alat angkut penumpang. Meskipun berbagai kelas dengan nilai yang berbeda-beda. nAmun kali ini diperlukan untuk balapan. Sekelas F1 atau relly. Tentu akan enak jika menggunakan kendaraan yang sesuai. Bukannya bus besar begitu. Bagamana nanti perjalanannya. Yang mesti menguras tenaga. Bahakn bakar yang juga besar. Serta kemampuan maneuver yang dipertanyakan. Terus daya tangkap angina yang super besar tengah menghadang bagian depan dari bus yang jelas sangat menghambat untuk lajunya. Juga gaya aerodinamis yang hamper taka da untuk bentukan kotak begitu. Dan angina terang tak tertembus sempurna dalam pergerakannya. Sudah pasti sangat menyulitkan kinerja kali ini.
Selain itu,
“Aku juga tidak punya SIM.“
Bertambah panik saja pemuda yang belu cukup umur dan sebelumnya hamper tak punya apa-apa untuk digunakan membayar surat perijinan itu. Mobil juga baru punya, bagaimana kepikiran membuat surat, yang punya lama juga belum tentu punya surat ijin itu. Selain masih sayanguangnya, juga keperluannya yang kurang diperhtungkan. Maka akan membuat kalau jelas-jelas butuh serta dipergunakan untuk apa surat itu nantinya. Untuk ikut balapan yang lumayan besar, tentu surat ijin mengemudi harus memiliki. Apalagi ini bus besar, tentu butuh SIM B untuk kendaraan besar seerti bus angkutan dan truk barang. Karena mengendarai semacam itu butuh ijin khusus yang semestinya pengemudi mempunyai keterampilan yang tidak ringan dan diimbangi dengan kemampuannya mengendarai kendaraan tersebut yang dibuktikan dengansurat yang dalam mendapatkannya sudah melewati berbegai tahapan, diantaranya telah mahir dalam praktek menggunakan kendaraan yang diinginkan tersebut.
“Aku punya,” ujar cewek cantik yang tiba-tiba sudah tiba di dekat Lin Tian tanpa ketahuan dari mana dia tadi.
Lin Tian terkejut. Memperhatikan yang bicara. Lalu tertawa lebar, saat mendengar ucapan rekan team nya itu benar-benar akan membantunya. Itu sudah pasti. Dari berbagai kejadian, dia selalu membantu, serta meraih sukses karenanya. Ini tentu tidak man-main. Dan akan menjadi team yang sama lagi guna menaklukan rintangan yang mesti dihadapi di depan nanti.
__ADS_1
“Xiaoli kamu baik sekali. Kamu harus membantuku menang ya!“ kata Lin Tian dengan senang hati. Dan langsung berusaha meraih gadis itu untuk sekedar berterima kasih.
“Itu, tuan muda Lin Tian….“ ujar Xiaoli dengan suara sedikit bergetar. “Bisa tidak jangan menyentuh pantatku….“
Lin Tian sadar. Begitu bersemangat dan bersuka hati dia sampai segala gerakan hamper tanpa control dan sangat merugikan gadis manis di depannya kali itu. Untung dia segera bisa menguasai keadaan.
“Xiaoli waktu sudah larut. Jangan omong kosong lagi. Ayo kita berangkat. “
Dengan serius Lin Tian mengajak bergegas. Dia tak ingin waktu yang memaksa mereka akan kalah bahkan diskualifikasi, hanya garena terlampau larut dalam suka sesaat bahkan belum juga melaksanakan tugas.
Dan berikutnya dimana bulan sudah mulai tinggi. Kala itu di gunung Luojia sudah banyak mobil balap dengan berbagai spesifikasi yang canggih dan modifikasi yang juga keren. Mereka tengah menunggu waktu ini untuk menunjukkan kemampuan serta kehebatannya supaya dapat memenangkan pertandingan menentukan kali ini.
“Kemarin aku baru saja memasang ulang akselerasi mobil ini dengan nitrogen cair. Hari ini aku tidak akan kalah pada kalian. Mobil butut milikmu itu bahkan tidak pantas menghisap asap mobilku,“ kata seorang anak muda yang sudah taka sing lagi bagi para pembalap, serta orang-orang disekitarnya yang sudah paham akan kepopulerannya itu.
“Kamu! “
Jiang Hao marah. Kata—kata itu benar-benar menyinggung perasaannya. Dia tak suka keburukan itu kembali diungkit. Bahkan dikabarkan pada semua orang di situ. Yang berarti sudah merendahka harga dirinya sebagai seorang yang sangat kaya dan terpandang di daerah itu. Bahkan hanya untuk balapan kali ini sudah beberapa kali dia ikuti untuk even yang serupa. Ini etah untuk yang keberapa kalinya dia mesti menghadapi orang-orang hanya untuk menunjukkan bahwa balapan di situ merupakan hal yang lumrah buatnya.
“Diam semua!“ Melihat aka nada pertumpahan darah dan keringat yang bakalan bercucuran, seseorang mengganggu dan tak menyukai hal sepee yang terlampau dibesar-besarkan itu. Itu merupakan suatu tindakan tak baik. Yang hanya anak-anak yang berhak melakukannya. Untuk orang dewasa, tentu sudah bukan jamannya lagi, adu puul, adu jotos yang merugikan sesamanya. Dimana balap yang menjadi tujuan utama kali ini justru terabaikan. Hal itu membuat akan gagalnya segala sesuatu tersebut. Dan sudah pasti bakalan mengacaukan rencana panitia yang sudah menganggarkan demikian besar demi acara yang memang sangat diminati kali ini.
“Dewi balap!“ Semua terkejut. Memandang yang melerai. Dan langsung tertegun saat mengetahui kalau si cantic yang sudah mereka kagumi itu, kini berada di dekat mereka. “Legenda gunung Luojia yang mengendarai mobil balap Piaoxue Ye Zhixuei.“ Mobil yang sudah terkenal sangat canggih. Jagoan. Selalu menang kala yang lain terkalahkan. Dengan bentukan futuristic yang demikian mengagumkan. Dan tentu saja harga yang tak main-main. Segalanya dipertaruhkan hanya demi memenangkan pertandingan menentukan di atas gunung Luojia yang sudah melegenda tersebut.
__ADS_1
“Jangan omong kosong! Ayo cepat bertanding!“ kata dewi Balap dengan keras namun nada mengajaknya demikian garang hanya untuk membuat yang lain bergegas tak banyak cing cong agar segera memulai pertandingan ini dan menyaksikan kehebatannnya dalam mengendarai kendaraan super mewah tak terkalahkan itu.
“Menurut kabar kalau bisa menang darinya maka berhak melepas masker wajahnya. Hari ini aku harus berhasil membereskannya.“
Jiang Hao yakin.
“Semua peserta sudah hadir kan? Kalau begitu mari kita mul…“
Hyatt…
“Arghhh mataku! “ Menutup mata. Kesakitan
“Masih ada aku,“ ujar Lin Tian. “Aku juga mau bertanding.“
Dengan bus besarnya dia datang dan mencari gara-gara.
Semua keheranan.
“Mengendarai bus dalam balapan ini adalah pertama kalinya aku merasa malu dalam hidup,“ ujar.
“Lin Tian! Lagi-lagi kamu!“ Jiang hao marah. Pucat. Dan mendnegus dengan geram untuk berbagai kekalahan yang mesti dia terima akibat ulah pemuda miskin satu itu.
__ADS_1
“Berlagak misterius seperti itu dan mengenakan masker wajah biar aku melihat sejenak.“ Lin Tian menatapnya tak berkedip pada sosok mengagumkan tersebut.
“Ini adalah… Gadis cantik yang terkenal manis dan diam di sekolah kami su qingxue“