
“Semua sudah dipesan habis? Satupun tidak tersisa…“ kata Lin Tian mengamuk.
“Hahaha…. Direktur Lin, aku ikut senang denganmu,“ kata Kepala Toko. Yang tak tahu perasaan galau direktur muda itu. Karena biasanya kalau barang laku akan senang, tapi tidak demikian dengan hati si kaya itu.
“Aku senang sekali sampai menangis.“ Padahal sedih tuh si Lin Tian nya. Menangis dan gembira sama saja, tak ada bedanya, buat mata yang suka keluar air mata nya itu.
“Sebenarnya siapa yang melakukannya?“ tanya Lin Tian.
“Cepat bawa aku menemuinya!“ ujar nya lagi. Seraya buru buru hendak segera bertemu dengan si pemborong itu.
“Tidak perlu mencari. Baru saja beritanya menjadi topik terhangat nomor satu di internet. Kamu lihat sendiri saja,“ ujar Xiao Su menerangkan.
Lin Tian tercengang kala melihat sendiri berita hangat di HP itu. Berita di HP jaman kini. Berita itu harusnya di koran apa majalah tabloid. Itu.
Setengah hari sebelumnya.
Seseorang membuka pintu.
“Mama … mama…“
Seorang anak menyambut suka.
“Mama sudah kembai hari ini, aku manis lo?“ ujar si adik kecil dengan ceria nya.
“Baiklah baiklah aku tahu hari ini kamu sangat penurut lihat hadiah apa yang ibu bawakan untukmu,“ ujar ibu seraya memberikan sandal ungu dengan hiasan sayap di samping nya.
“Wah ada sepatu malaikat. Sandal ini hebat sekali, lebih nyaman dari pada sepatu olah raga mama,“ ujar si anak kecil sangat senang, kemudian memakai dan membawanya jalan-jalan sembari berlari di jalanan ibu kota. Dipayungi lampu kota disekitar.
__ADS_1
Orang orang pada melihatnya. Banyak yang keheranan. Bahkan yang orang botak sampai mulutnya manyun kala menyaksikan keceriaan anak kecil itu.
Kemudian anak itu berhenti. Sepatunya nyaman. Walau kebesaran.
“Paman kamu tidak punya sandal?“ tanya si anak kecil kasihan melihat seorang pengemis yang tengah duduk menunggu rejeki.
“Pakai punyaku saja,“ ujar si manis menyerahkan sandal malaikat nya. Benar-benar anak yang berhati malaikat. Sandal kebanggaan nya saja dia berikan sama orang lain yang lebih membutuhkan. Kemudian pemandangan ini tertangkap kamera. Setelah diperiksa didapatkan latar belakang dari anak tersebut. Kemudian gadis kecil ini terkenal. Semuanya membeli sandal ini untuk diberikan pada gadis itu.
“Sandal ini disebut sandal malaikat.“
“Ada orang yang menyebarkan rumor kalau sandal ini adalah desain gadis kecil tersebut,“ terang Su.
Lin Tian mewek.
“Gadis kecil yang begitu lucu, begitu baik hati. Mana mungkin aku tega menyalahkannya,“ ujar Lin Tian yang tidak tegaan, semakin deras air mata di pipi. Mau menyalahkan siapa sekarang? Tak ada yang mau di salah-salahkan. Walaupun terkadang banyak yang mengaku salah. “Tapi kenapa sepatu ini bisa sampai ke tangan bibi petugas kebersihan?“
Hatciu!
Bersin si petugas sepatu.
“Sepertinya ada orang yang membicarakan ku,“ ujarnya aneh. Padahal taka da apa-apa disekitarnya. Debu taka da, virus juga taka da. Kenapa bisa demikian. Biasa, perasaan orang terkadang mengiringi sesuatu yang berkenaan dengan pembicaraan orang lain yang tengah membicarakannya. Dan ini seringkali terjadi. Makanya kala banyak orang yang mempergunjingkan nya, sudah barang tentu membuat dia langsung merasakan semacam firasat. Memang beberapa orang akan mempunyai perasaan yang lumayan dalam. Tak hanya bersin, kadang telinganya merah, atau gatal-gatal di salah satu anggota badan. Semua kemudian dihubungkan jika dia tengah di pergunjingan oleh orang lain.
Pengembangan sepasang sandal + bahan-bahan + pemasaran + toko + distribusi. Modal kira-kira 1500 yuan. Totalnya 3 juta. Aku memproduksi 2000 pasang. Setiap pasangnya mendapat untung 388. Untungnya hampir 800 ribu. Sial untung 800 ribu \= rugi 800 yuan. Untuk apa aku melakukannya sampai seperti ini?
Lin Tian membanting alat hitung yang setara sempoa kecanggihannya.
“Lin Tan kamu tidak menyatakan sikap?“ tanya Su pada Lin Tian yang masih terengah-engah menahan satu emosi yang besar.
__ADS_1
“Menyatakan sikap apa?“ tanya Lin Tian. Dimana dada ini masih nyesek, malah disuruh bersikap, mana bisa begitu. Yang ada hanya rasa muak tentunya.
“Tentu saja dengan membantu gadis kecil ini,“ ujar Xiao Su sembari menunjukkan poto si gadis pada HP canggih nya. Gadis manis yang lucu, namun serba kekurangan. Itu perlu dibantu. Supaya kehidupan lucu nya setimpal dengan nasib baik yang mengiringi setelah mendapat bantuan yang setara. “Dengan begitu kamu bisa sekalian memasarkan perusahaan Tian Lin.“
“Oh… Benar sekali,“ kata Lin Tian. “Xiao Su memang bisa diandalkan disaat genting,“ ujar Lin Tian sembari mencipok si gadis yang pipinya sampai memerah.
“Aku akan menemuinya dan merugi… Oh tidak, memberinya sponsor,“ kata Lin Tian.
Su bingung.
Pip!
Perjalanan ramai. Penuh kendaraan yang macet. Makanya suara klakson yang beraneka macam memenuhi jalanan hingga kebisingan terus nampak. Biasa jam segitu. Apalagi kendaraan memang sedang banyak-banyaknya. Keberadaan kendaraan terkadang lebih banyak dari pengguna jalan. Itu yang membuat kondisi tak karuan terjadi. Bahkan adanya orang yang terburu-buru membuat semakin ruwet kondisi, seperti dalam warung saja. Main serobot sana sini. Asal ada celah langsung di lewati.
Nampak langkah kaki dengan cerianya menyongsong ke rumah si gadis malaikat itu. “Aku dating….“
“Bibi mulai sekarang aku akan menanggung hidupmu seterusnya,“ kata Lin Tian sembari promosi perusahaan.
“Kita… sebaiknya kita perlahan-lahan sebelum membicarakan pernikahan. Begitu tiba-tiba seperti ini, aku tidak bisa,“ ujar bibi menolak di lamar. Memangnya jaman apa ini main lamar begitu saja. Sedikit jual mahal boleh kan?
“Maksudku adalah perusahaan Tian Lin akan memberikan bantuan untuk biaya hidup dan biaya sekolah putrimu,“ ujar Lin Tian tersipu malu saat menyadari kalau dikira mau melamar. Maklum belum berpengalaman dan merasa masih sangat muda untuk sampai ke tahap itu. Disaat belum mempunyai biaya hidup tetap, kerjaan tetap serta masih menjadi tanggungan orang tua.
“Wah bagus sekali akhirnya keluarga mereka terlepas dari kemiskinan,“ kata orang-orang terharu.
“Entah kapan kita baru bisa,“ yang lain iri. Selain iri jua kepingin. Maklum sebagai orang yang berkecukupan, hal itu sulit terjadi. Kalau miskin sekalian mungkin malah dapat bantuan dari sana-sini. Atau kalau kaya sekalian malahan tak butuh. Akibat sudah kecukupan. Tapi kalau yang sedang-sedang saja begitu yang repot. Sebab hanya pas untuk makan. Ingin minta tidak enak, mau diam sangat ingin, karena juga butuh, namun terkalahkan oleh yang kurang terus. Itu yang jadi kendala. Dianggap sama dengan yang kaya. Cuma beda keinginan. Itulah yang dirasakan orang sedang-sedang saja.
“Semuanya jangan khawatir setiap orang akan mendapat bagian. Mulai sekarang setiap bulannya. Aku Lin Tian. Akan memberikan bantuan dana untuk kalian. Aku akan memberi uang. Uang yang sangat banyak.“
__ADS_1