
Di depan sebuah gedung perkantoran yang begitu tinggi dan mencekam, mirip dengan sarang triad atau yakuza yang sangat terselubung. Di situ seorang dara tengah menatapnya dengan tatapan kecurigaan dan penuh selidik.
Dia adalah si bocah yang dating hendak melapor dengan ketimpangan yang terjadi di dunia ini. Dia tak ingin Jibao nya terjadi kenapa mengapa.
Makanya dengan penuh keberanian dating ke kantor tersebut hendak melaporkan semua yang terjadi. Dengan semangat membara tentunya serta dengan penutup muka alias cadar yang bisa menghalau segala penyakit dari Wuhan yang begitu tenar. Dan dengan demikian akan terhindar hidung dan seluruh lubang dari virus keparat serta biadab dan banyak membunuh melebihi perang di tengah itu.
Dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan dia lebih dahulu menjenguk ke dalam pintu dengan hati-hati.
“Maaf, maaf… aku datang terlambat,“ ujar si bocah dengan sikap serba sopan supaya laporannya segera di terima walau tanpa pelican atau sogokan sama sekali. Apalagi di dalam situ sudah berkerumun para bos serta ahli dalam membantu orang yang tengah meminta pertolongan.
“Kenapa kamu datang begitu telat? Kami sudah menunggumu dari tadi,“ ujar awewe berambut pirang yang sangat kejam pada anak kecil yang datang terlambat.
“Hah, aku….“ ujarnya serta sangat bingung mencari alasan. Padahal dia sudah memakai cadar yang tidak mungkin akan di tolak masuk karena di anggap menyebarkan penyakit.
“Jangan-jangan kamu masih seorang pelajar. Bolos pelajaran siang datang ke sini!“ tebak bos itu dengan sangat teliti dan mengira demikian berdasarkan ciri-ciri fisik yang tampak serta menurut pada intuisi seorang wanita yang dia punyai dengan sangat teliti dan penuh perasaan.
“Hmm seorang pelajar. Mana mungkin punya banyak uang. Dia pasti tidak ada uang mendukung Jibao,“ kata si gundul yang sangat seram serta ikut meyakinkan atasannya kalau anak itu belum punya uang untuk mendukung sang idola.
“Pelajar tidak cocok masuk dalam kelompok penggemar! Keluarkan dia dari kelompok!“ ujar para anggota yang serempak hendak mengeluarkan dia dari kelompok tersebut yang jelas-jelas sudah punya banyak uang sehingga mampu mendukung idolanya itu dengan aman.
“Tidak, tidak. Aku, aku sudah kerja. Iya, aku adalah seorang karyawan,“ jelas karyawan itu.
__ADS_1
“Kalian lihat, dompetku sangat tebal.“ sembari menunjukkan dompet biru yang sangat tebal serta menjelang robek, pertanda penuh sesak di dalamnya dengan harta benda yang sangat bernilai.
Jibao tampan.
“Orang normal mana mungkin masih membawa dompet dan uang tunai, dasar pembohong! Cepat berikan penjelasan di depan Jibao!“ ujar sang pemimpin sembari menunjukkan poster Jibao tampan yang sangat besar, melebihi poster para calon wakil yang sudah banyak beredar di tempat ramai.
“Aku, aku… karena tidak membawa ponsel. Barulah pergi menarik uang dulu baru ke sini,“ ujarnya menjelaskan. Tidak seperti kebanyakan orang yang jika kemana-mana hanya membawa ponsel, serta sekali tekan, maka dana akan mengalir dengan lancer ke pengurus kelompok, untuk membantu Jibao yang sangat membutuhkan dana tersebut.
“Iya, masuk akal.“ Bos mulai percaya dengan keterangan jujur dari karyawan kecil yang sangat logis tersebut, sehingga mesti membawa dompet tebal yang sangat merepotkan itu.
“Ayo, kita mulai rapat hari ini.“ Bos mengajak semuanya untuk segera masuk ke ruang rapat, agar segala keputusan segera bisa di ambil dengan cepat.
“Untung aku pintar. Sebenarnya dompet ini adaah hasil tabunganku dari uang sarapan, makan siang dan peralatan tulis,“ ujar si bocah yang memang masih sekolah dan bukan karyawan, tapi dia melakukannya supaya bisa membantu Jibao kesayangannya agar mendapatkan keadilan di forum internasional.
Semua mulai rapat.
Dan mengeluarkan buku tentang “Ternyata ini sifat asli artis bermarga Lee.“
“Jibao dalam masalah besar sekarang. Jadi kita harus membantu Jibao menyelesaikannya.“
Ternyata ini sifat asli artis bermarga Lee.
__ADS_1
“Hmm, semua ini salah grup Tianlin. Mereka malah membuat acara usir dari dunia hiburan sengaja memfitnah jibao membuat jibao menjadi sasaran amarah publik,“ ujar pendukung gundul yang sangat marah dengan ketidak adilan yang terjadi pada diri idola mereka.
“Aku sudah menyelidikinya. Grup Tianlin memiliki banyak cabang bisnis. Bukan hal yang gampang untuk menjatuhkan mereka,“ jelas cewek bercadar yang ternyata sudah banyak menyelidiki kasus pada perusahaan bermasalah itu.
“Kalau kita tidak bisa menjatuhkan grup Tianlin. Kita bisa saja menjatuhkan orang yang mengadakan acara usir dari dunia hiburan ini,“ ujar bos berambut merah dengan yakin. Kalau langkah mereka saat itu pasti sudah sangat tepat.
“Lin Tian, direktur grup Tianlin, kita langsung mencarinya saja,“ ujar kelompok itu yang bakalan langsung akan menyisir seluruh kota, bahkan kalau perlu membumi hanguskan dulu, agar semua pihak tidak menyembunyikan lagi dengan memberondong lima ribu lebih daya ledak sehingga semua rata dengan tanah dan orang yang di cari akan langsung Nampak, karena tanah tempat dia sembunyi tentu saja sudah tak ada lagi.
“Langkah pertama, kita langsung menelepon dan memberikan keluhan yang banyak. Kita begitu terang-terangan dia seharusnya akan tahu seberapa parahnya masalah ini. Aku sudah membeli nomor telepon kantor direktur Tianlin di web site,“ kata bos penerima aduan yang berambut panjang kemerahan namun pahanya mulus itu.
Kring!
Suara telepon keras terdengar. Membuat yang mendengar langsung terkesiap. Dan suaranya itu terdengar mengerikan, bagaikan dentuman roket yang sangat keras bergemuruh di bumi padang pasir yang meluluh lantakkan gedung gedung kota tempat persembunyian.
“Aneh sekali, tak kusangka masih ada orang yang menelepon menggunakan telepon ini?“ ujar Lin Tian yang justru keheranan dengan alat klasik yang justru ada di ruangan kantornya. “Halo?“
“Kami hanya memperingatkan satu kali, segera hentikan acara usir dari dunia hiburan dan meminta maaf, kalau tidak Kami akan mengadakan demo tidak menonton acara ini. Kalian jangan harap bisa mendapatkan jumlah tayangan. Hahaha kamu sudah takut sampai tidak bisa berbicara!“ ujar si penelepon gelap yang sangat senang karena tidak mendengar jawaban sama sekali bahkan hanya bunyi tutu tut yang terdengar serta ber keresek.
“Katakan saja kamu mau uang berapa banyak?” ujar Lin Tian.
“Uang, seberapa banyak uang yang kamu berikan, juga tidak bisa menghentikan demo kami,” ujar pendemo. Dia sangat tidak suka kalau acara demikian pakai uang segala untuk menghentikannya. Sehingga, akhirnya banyak diantaranya yang akhirnya kandas hanya karena masalah begini, serta tujuan awal dari keinginan hati nurani yang paling dalam demi mendapat keadilan yang nyata dari perjuangan sebenarnya.
__ADS_1
“Tidak, aku ingin tahu kalian mengadakan demo ini memerlukan biaya berapa aku siap mendukung kalian,“ ujar Lin Tian yang merasa sangat senang ada orang yang mendemonya.