Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 151


__ADS_3

Di pelabuhan. Pada sebuah kapal.


“Bagus, bagus,“ kata Lin Tian. “Partai pertama kue keluarga Suxue lancar berlayar. Ekspor beralih penjualan domestik memang sangat mudah. Tapi kenapa kamu harus membuat sistem pengiriman makanan matang sendiri. Merugi dari pengiriman sewa toko. Mempekerjakan koki kurir aku bisa merugi dari semua aspek itu. Tapi bagaimana caranya aku bisa merugi lebih banyak lagi,“ Sepertinya lin tian sedang memikirkan cara meraup untung.


“Aku merasa dia semakin dewasa,“ ujar Su Xaueqing yakin, kalau Lin Tian bakalan untung banyak. Sehingga begitu dalam dia merenung. Jadi yang kaya akan bertambah kaya, semakin banyak uang masuk, akibat untung besar.


“Sudahlah lebih baik, aku keluar dulu untuk mencari inspirasi cara merugi,“ kata Lin Tian mencari inspirasi. Kalau di dalam ruangan terus sumpek. Apalagi berbarengan dengan cewek cakep yang bikin pusing kepala.


“Eh, bukankan ini adalah wakil direktur Shechui. Eh bukan, She Chu,“ Lin Tian lupa-lupa ingat.


“Capek, Capek sekali,“ ujar wakil direktur She Chu sembari mengelus elus kucing nya. Pekerjaan itu melelahkan. Namun akan lebih melelahkan kalau mencari kerja. Ini sudah dapat malahan merasa lelah terus. Dan itu akan terus berjalan sesuai dengan waktu yang ikut berjalan.


“Wakil direktur ini malas-malasan di jam kerja, berpotensi sekali. Biar aku lihat apa yang akan kamu lakukan,“ ujar Lin Tian terus saja menguntit langkah wakil direktur She Chu sembari menyelinap di balik tempat tersembunyi, terkadang tiang, atau semak-semak kota.


“Akhirnya sampai,“ ujar She Chu.

__ADS_1


“Taman… Dia bolos hanya demi ke taman.“


“Benar saja Ini adalah tempat terbaik.“


“Aku kembali bersemangat, memang aku sangat cocok menjadi orang tua,” ujar para orang tua sembari berlatih.


“Disini benar-benar adaah tepat yang ajaib dan penuh dengan energi pemulihan.“


“Eh, aku ingat,“ kata Lin Tian tergugah. Kembali ingatan nya melayang ke masa lalu.


“Ah, apa yang kamu katakan. Aku bukan Dapao,“ ujar si kakek linglung yang nama sendiri saja lupa, dan baru ingat kalau sudah membaca namanya. Makanya akan lebih nyaman jika membawa akta kelahiran. Dan bukannya KTP atau SIM yang Nampak nya terlampau kecil buat mata rabun, se-rabun orang-orang tua yang gemar membaca novel.


“Silahkan mendalami perusahaan keluarga Suxuei. Ingin terus bepergian, Cepat mendaftar lah menjadi kurir makanan kami,“ kata Lin Tian terus berpromosi. Mencoba mencari pegawai yang bisa di bayar mahal dengan fasilitas komplit namun kerjanya bisa memanfaatkan sistem yang langsung percaya kalau semuanya bisa diganti dengan berlipat ganda.


“Ah…“

__ADS_1


“Kakek, apakah anda ingin menjadi kurir makanan?“ ujar Lin tian dengan sopan nya. Takut si kakek salah pendengaran, atau tak mendengar bahkan kaget jika mendadak bicara keras, karena dianggap nya main bentak untuk suatu hal yang belum dia pahami.


“Ah aku sudah makan,“ jawab Kakek Dapao yang merasa kalau Lin Tian bicara tentang makanan yang akan di berikan buat si kakek. Atau daun kenikir yang lezat. Serta mesti mikir jika ada makanan yang lezat begitu. Makanya lebih baik menawari dia minum saja dan akan langsung di tenggak soalnya kehausan.


“Aku bilang kakek apa anda ingin menghabiskan waktu, Menjadi kurir makanan kita?“ tanya Lin Tian seraya membentak supaya kakek bolot ini paham. Namun tak jua paham. Malahan di kira cuma angin sepoi-sepoi saja. Maklum tak pernah bercakap-cakap. Juga enggan berbicara bareng. Karena menganggap taka da keperluan yang akhirnya hanya dianggap angina lalu saja. Sehingga untuk yang kali ini terjadi miss komunikasi antara keduanya. Dan bakalan terus berjalan seperti itu kalau taka da yang membantu, atau bantuan alat pendengaran yang membuat pendengaran normal kembali dengan hanya menyelipkan nya di telinga itu saja.


“Aku makan bubur dan sayur lezat,“ ujar kakek yang pendengarannya memang bolot. Apa-apa tentang makanan. Lagian sukanya yang empuk-empuk. Bubur, agar-agar, hungkwe, jenang grendul, semua yang empuk pasti dia sikat. Beda dengan sedikit saja yang kriuk, misalkan ayam goreng krispi, sudah pasti enggan karena kriuk-kriuk. Padahal yang krispi lebih laris dari yang original. Tapi si kakek suka yang original nya.


“Kakek kurir yang tidak bisa mendengar, bukan kakek kurir, Ini benar - benar adalah jalan terbaik untuk aku merugi,“ ujar Lin Tian mendapat ide. Orang tua ini adalah salah satu jalan dalam dia mendapatkan rejeki. Itu yang mejadi keinginan nya. Itu juga yang bakalan dia hadapi kali ini. Mendapat rejeki bagus. Orang nya lelet, tentu saja, maka biaya akan membengkak. Rugi. Dapat kembalian.


“Kalau kakek ingin bekerja, mau melakukan banyak pengiriman ataupun sedikit, terserah kakek saja. Setiap bulan upahnya 20 ribu yuan, kita akan tetap memberi upah sama kalaupun anda hanya melakukan sedikit pengiriman,“ ujar Lin tian dengan janji muluk-muluk nya supaya si tua bersemangat bekerja kembali. Sebab maklum orang seusia dia sudah sangat sulit jika disuruh ngapa-ngapain. Sebab kebutuhan yang juga semakin menipis, serta keinginan yang tak banyak. Maka lebih nyaman kalau istirahat saja di rumah sembari mengingat-ingat segala yang tak bisa di ingat itu.


“Katakan dari awal dong, aku akan segera bekerja,“ ujar si kakek langsung menyambar Lin Tian, menaikkan tubuh kerempeng itu ke punggung kerempeng si kakek. Serasa mengangkat kapuk saja. Demikian ringan. Kalau pekerjaan kasar demikian sih oke. Dan bakalan dilanjutkan kemana saja si lin tian ingin bergerak. Semua akan sesuai dengan tertib jika segalanya ada biaya untuk


“Hei, dasar si tua, bukannya kamu sudah tidak bisa mendengar sejak 20 tahun yang lalu,“ ujar nenek berang kalau si tua, dengan uang sama cewek cantik, langsung paham. Lain jika dengan bercakap-cakap, bakalan kesulitan apa yang menjadi topik percakapan kala itu. Kalau bilang singkong misalkan bakalan diambil kayu bengkong. Atau jika ingin nanas bakalan diambilkan air panas. Juga beda lagi bila ingin balon, maka akan langsung masuk salon untuk krimbat. Ni kan jadi kacau. Salah satu kekacauan yang terjadi di dunia bisa jadi akibat mereka.

__ADS_1


“Aku hanya takut ocehan kamu,“ ujar si kakek terus memondong Lin Tian menjauh. Enggan sekali dia kalau terus berbarengan dengan si nenek cerewet dan bandel.


__ADS_2