Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 28


__ADS_3

Misi utama: semua awal pasti akan sulit.


Misi: mendirikan perusahaan, memperluas jajaran staf, memastikan lokasi perusahaan, menyelesaikan transaksi pertama.


Hadiah: ditentukan dengan presentasi keberhasilan misi.


“Tak disangka misi pertama adalah misi terbuka. Tidak ada persyaratan paten.“


Lin Tian duduk sembari merenung. Hidup memang penuh perjuangan. Tapi kelihatannya nggak mesti seperti ini terus. Baru lepas dari masalah satu, sudah mesti dihadapkan dengan masalah lain. Sistem memang demikian. Butuh waktu untuk menyelesaikannya. Dan setelah selesai mesti ada acara lain yang sudah menunggu. Semuanya membutuhkan penyelesaian tantangan untuk menghadapi tantangan lain yang lebih besar. Memang hidup seperti permainan. Permainan yang menantang bagi para gamer membuat semakin penasaran. Hingga menginginkan untuk memenanginya. Kalau belum sampai maka akan dicari usaha mengatasinya. Walau melalaikan waktu untuk tugas-tugas lain. Bahkan makan juga terabaikan. Sehingga tak jarang akan menderita sakit tertentu. Namun kepuasan terkadang mampu menyembuhkan rasa sakit itu.


“Sekarang perusahaan bisa dikatakan sudah berdiri. Ada dua karyawan. Tidak ada lokasi perusahaan dan transaksi 0.“


“Aku rasa sudah bisa mulai menghitung hari untuk menjadi orang kaya,“ ujar Lin Tian sembari tertawa terkekeh - kekeh..


Dung.


Botol minuman keluar.


“Aku mohon padamu cepat hitung totalnya!“ ujar Bos menangis.


Keduanya bingung.


“Mohon maaf mohon maaf aku tidak fokus,“ ujar Lin Tian.


“Setelah menyelesaikan begitu banyak misi kenapa uang jajanku masih dari hasil kerja paruh waktu? “

__ADS_1


Lin Tian sedih.


Seseorang terpeleset.


“Astaga!“


Jatuh.


Dengan air menyiram tubuhnya.


“Qian Duo Duo.”


“Kenapa lagi - lagi kamu membuat ulah. Pekerja paruh waktu saja tidak becus!“


“Kepala toko maafkan aku...“


“Maafkan aku kepala toko,“ ujar Qian Duoduo. “Barang-barang yang rusak akan aku ganti. Mohon jangan memecat ku. “


“Aku akan memotong setengah dari upahmu bulan ini. Dan lagi….“ ujar Kepala Toko, “Tunggu di kantorku, ada beberapa hal yang perlu aku bicarakan denganmu.“


Lin Tian terkejut. Begitu saja sudah harus menghadap kepala. Bisa gawat kalau langsung di pecat. Seperti kebiasaan. Terkadang ada pemimpin yang demikian. Sekali panggil langsung memberi surat peringatan. Kalau tak masalah maka dia tak perlu dipanggil. Sebab menerima gaji saja sekarang sudah bisa lewat rekening pribadi. Itu mempermudah segalanya. Lain dengan dulu, atasan yang memanggil untuk memberi uang. Sehingga ada waktu untuk bertanya apakah suka atau tidak dengan hasil yang didapat untuk masa tertentu itu.


“Lin Tian apa yang kamu lihat! Kalau lihat lagi, aku akan memotong separuh gaji mu juga!“ ujar Kepala Toko. Muak juga dia dengan pegawai paruh waktu yang inginnya begitu. Maunya serba mau tahu. Itu tak bagus demi kelangsungan pekerjaan nya yang tak sembarang orang bisa mengetahuinya. Tak boleh. Maka akan lebih baik kalau si pemuda sok tahu itu dibungkam. Bahkan lebih parah lagi jika nanti dia akan cerita macam-macam. Dan itulah, ia mesti marah-marah sama anak buah. Kalaupun besok mulutnya menceng, itu masih lama. Sebab katanya kalau ganas dengan anak buah, akan membuat mulutnya menceng kena penyakit parah. Itu kalau sama anak buah. Sama teman juga demikian. Sebab terkadang tak kena diri sendiri,, maka akan kena keluarga atau bahkan anak keturunannya. Di sawah akan digigit ular. Di sungai kena kaca. Di jalan kebanjiran. Sebab bencana mengerikan. Terkadang orang benar juga tak luput dari itu.


Brak!

__ADS_1


Kepala toko menutup pintu dengan keras.


“Lin Tian maafkan aku sampai membuatmu dimarahi,“ ujar Qian. Dia merasa akibat ulahnya itu yang membuat orang lain turut menderita. Itu tak baik. Mesti memperbaiki diri. Tapi baginya itu bukan hal mudah. Apalagi menghadapi orang lain yang juga butuh waktu untuk menyesuaikannya. Dan saat itu yang tengah dia hadapi adalah seseorang yang sangat dia butuhkan, namun ada hal yang membuatnya tak nyaman. Sehingga tanah sadar dia seringkali berbuat kekeliruan. Dan kali ini sudah beberapa kali yang dianggap fatal. Namun bagaimana lagi, kalau keluar dia tak dapat pekerjaan, tak bisa, atau menganggap sesuatu yang belum dikerjakan adalah hal yang sangat sulit. Mengenai belajar dari awal, atau harus berupaya membuat sesuatu yang dikerjakan paling baik. Dan itu butuh waktu.


“Tidak apa-apa. Siapa suruh kita menjadi orang termiskin di Universitas. Kita harus saling membantu. “


Sembari mengelus kepala Qian. Dia tak bisa terima juga kalau rekannya ini selalu kena masalah. Sebab hal itu bukan sebuah pekerjaan yang dia inginkan. Namun menghadapi masalah yang sulit tentang ekonominya, tentang uang jajan yang tentu inginnya dia mengalir secara lancar, sehingga satu pekerjaan yang menjemukan ini mesti dilakukan. Setidaknya untuk waktu tak panjang. Atau demi sampai selesai sekolah saja. Hanya sayang, waktu tak panjang itu, kalau sudah tak nyaman maka terasa akan sangat lama sekali. Berbeda kalau menjalaninya dengan suka hati, mungkin akan cepat berjalannya waktu tersebut.


“Ku pergi dulu ke kantor kepala toko. Nanti ayo kita makan bersama aku masih punya voucher diskon 50 %,“ ajak Qian.


“Malaikat Qian Duoduo benar-benar seorang malaikat.“ Lin Tian benar-benar bangga sama anak yang baik hati itu. Dia temannya yang pantas dikasihani. Sama-sama miskin, dan membutuhkan banyak uang. Sementara dia saja uangnya hanya dari hasil ini. Uang dari sistem belum masuk. Padahal sejauh ini dia sudah capek membuang-buang uang untuk mencapai misi. Tapi begitulah, terkadang mendapat hadiah juga mesti bersabar, tak serta merta mendapat apa yang diinginkan.


Di ruang Kepala Toko...


“Kepala toko, ada apa?“ tanya Qian Duoduo. “Aku mohon jangan memecat ku aku akan bekerja dengan baik“


“Kalau begitu lakukanlah dengan baik,“ ujar Kepala toko berang. Qian terkejut. Walau sudah mengerti akan watak kepala toko nya itu, namun tak urung dengan sebuah kesalahan yang jelas diketahui oleh semua, membuat dia ngeri. Bagaimana jika di potong gajinya. Tentu banyak kebutuhan yang tak terpenuhi demi rencana awal yang sudah tersusun dengan rapi. Namun kali ini tak terbantahkan lagi. Dan yakin akan pemotongan tersebut bakalan segera dirasakan. Mengingat akan kebiasaan kepala toko nya itu.


Sebuah tangan menyentil sesuatu. Benda yang sangat pantas untuk membuat orang jera.


Wus….


Melayang alat. Berat. Komputer. Yang tak pantas hinggap di kepala.


Jatuh menimpa kepalanya kepala toko. Puyeng kan. Benda seberat itu. Jangankan benda berat, benda seperti penghapus saja kalau mengenai itu bakalan membuat kepala pusing. Ini benda berat. Dan paham lagi siapa yang sudah melemparnya. Makanya tak tanggung-tanggung langsung tuduhan itu tertuju padanya.

__ADS_1


“Lin Tian… apa kamu ingin dipecat!” ujar kepala toko yang tahu kalau itu perbuatan Lin Tian.


“Pecat… Pecat saja,“ ujar Lin Tian menantang. Nggak ada takut-takut nya dia.


__ADS_2